Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Sampah Yang Bernilai Di Mata Tuhan

Albiner lahir di Balige, 12 Desember 1969. Didikan orangtua yang amat keras seolah meluncurkan Albiner ke arah kehancuran.

"Saya orang yang sayang sama papa. Jadi saya tidak ingin orang yang saya sayangi itu bersikap kasar kepada saya. Biasanya, kalau papa pukul saya, saya akan menangis sampai menjerit. Saya benar-benar kecewa," ujar Albiner memulai kisah hidupnya.

Sejak SMP Albiner sudah terkenal sebagai anak yang sangat nakal dan sering membuat malu keluarga. Pergi dari rumah dan menjalani kehidupan preman pun dilakoninya. Mencuri, mencopet, merampok, memalak orang, mabuk-mabukan dan berganti-ganti pekerjaan pun dilakukannya untuk bertahan hidup. Kota demi kota didatanginya meski ia harus tinggal di terminal. Dari Balige, Siantar, Medan, Sibolga, Duri, Pekan Baru sampai akhirnya tiba di Jakarta.

Perkelahian sesama preman di terminal Senen membuat Albiner memutuskan pergi ke Bandung. Tapi lagi-lagi Albiner terlibat perkelahian sesama preman sampai akhirnya ia membunuh salah seorang preman dari kubu lawan. Kejadian ini membuat Albiner melarikan diri ke Surabaya. Setelah menjadi gelandangan yang tidak memiliki pekerjaan selama beberapa waktu, Albiner kembali ke Bandung. Karena cerita rekan-rekannya bahwa dirinya menjadi buronan di Bandung, Albiner memutuskan kembali ke Jakarta dan mangkal di Blok M sebagai supir metromini.

Awal Pencerahan Hidup

Tahun 1993 Albiner mulai lelah menjalani hidup yang penuh problema dan ketakutan. Seorang teman menawarkan padanya untuk bermain gitar di gerejanya, yaitu gereja GBI di daerah Petukangan Utara. Tawaran itu memang diterimanya tapi hanya sekali itulah Albiner menginjakkan kakinya di gereja dan melanjutkan hidup yang jauh dari Tuhan. Akhir tahun 1994, di acara tutup tahun bersama teman-temannya, Albiner mendapat dorongan di hati supaya tahun 1995 pergi ke gereja dan ia ingin bertobat. Karena dorongan itulah awal Januari Albiner pergi ke gereja.

Albiner tersentuh ketika seorang pendeta yang menjadi gembala sidang di gereja tempatnya dulu pernah sekali bermain gitar menegurnya, "Halo Pak Albiner, yang tahun lalu main gitar di gereja ini kan?Bagaimana kabarnya Pak?"

"Saat itu jujur saya mengakui, seseorang seperti saya yang sudah lama tidak mendapat perhatian bahkan dinilai sampah masyarakat, hati saya senang bahwa ada orang yang masih memperhatikan dan peduli keberadaan saya."

Albiner menjadi rajin ke gereja sampai akhirnya dia dipercaya untuk membawa kolekte di ibadah. Albiner senang sekali sampai ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk pelayanan itu. Hatinya ingin dekat dengan Tuhan.

Kejadian Tragis Kembali Datang

Seminggu setelah pelayanan kolekte, hari Rabu tanggal 8 Februari 1995, karena ingin mengejar jam pulang karyawan Blok M, Albiner kejar-kejaran dengan temannya sesama sopir metromini untuk duluan masuk ke terminal Blok M.

"Hari Rabu jam 9 malam saya sudah kejar-kejaran dengan metromini yang lain. Maksudnya supaya bisa duluan masuk di jalur blok M, mengejar jam pulang para karyawan yang kerja di Blok M. Saya sudah mulai kejar-kejaran dari Kebayoran Lama. Karena sepanjang jalan teman saya tidak memberikan jalan kepada saya, di Blok M itu saya pikir saya bisa melewati dia sebelum masuk jalur."

Tanpa memikirkan resiko yang akan ditimbulkan, Albiner tetap memaksa untuk duluan masuk ke terminal Blok M. Dalam penglihatan Albiner saat itu, terminal dalam keadaan kosong. Albiner tidak melihat seorang wanita paruh baya yang akan menyeberang. Tabrakan keras tak dapat dihindarkan dan tabrakan tersebut telah merenggut nyawa wanita itu. Albiner harus menanggung akibat dari perbuatannya. Ia masuk penjara.

"Di situlah sebenarnya saya agak marah sama Tuhan. Kenapa justru saat saya datang sama Tuhan, hati saya sedang berkobar-kobar, saya rajin ke gereja, dan saya begitu bahagia ketika diberikan kesempatan untuk melayani sebagai kolektan, pada saat saya merasa benar-benar sedang jatuh cinta sama Tuhan, kok malah begini. Hal itu membuat saya marah sama Tuhan sebetulnya."

Keadaan sebagai orang terhukum, Albiner merasa hidupnya tidak berharga. Teman-temannya semua meninggalkannya. Tidak ada seorangpun yang datang mengunjunginya kecuali seorang pemuda dari gereja di Petukangan Utara.

"Kalau ditanya orang pekerjaan saya apa, saya juga tidak tahu. Karena giliran saya ngerampok, saya ngerampok. Giliran nyopet, saya nyopet. Giliran ngenek, saya ngenek. AKU SAMPAH!! SAMPAH!! Dan waktu saya masuk ke Cipinang, saya tidak lagi merindukan gereja. Saya sudah menjadi seorang preman di sana."

Kembali Pada Tuhan

"Waktu pagi-pagi jam 4 saya terbangun karena napi yang tinggal di kamar 9 adalah seorang napi yang mau bertobat. Saya waktu itu tinggal di kamar 17. Pagi itu saya mendengar ia menyanyikan satu pujian, ‘Tuhan Yesus setia, Dia sahabat kita....'. Yah, saya cukup sedih juga mendengarkan lagu itu sampai sekarang. Jadi hari itulah saya dijamah Tuhan kembali."

Pagi itu Albiner tak kuasa menahan air matanya. Karena dia benar-benar merasakan Sang Bapa yang penuh kasih itu sedang memeluknya dengan cinta yang tulus. Sejak saat itu Albiner mulai mengikuti ibadah setiap hari di penjara.

Desember 1996, khotbah yang dibawakan pendeta Dirman Aritonang menjadi awal perubahan hidup Albiner secara total. Dia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

"Hari Selasa saya mendengarkan khotbah pendeta Dirman Aritonang. Sebenarnya khotbahnya sederhana. Masukkan kopi ke gelas lalu tuang gelas itu maka keluar kopi, bukan? Masukkan air putih maka air putihlah yang keluar. Nah, masukkanlah sesuatu yang baik ke dalam hidupmu, maka yang baik yang keluar. Sore hari itulah, saya berhenti dari segala sesuatu yang duniawi. Hari itu juga sampai teman satu kamar saya dia sempat meragukan saya, ‘Benar ga nih?!'. Sambil dia ledek saya, dia meniupkan asap ganjanya ke muka saya. Meskipun begitu, saya tetap menolak tawarannya. Saya bilang saya sudah bertobat."

Hari Minggu tanggal 14 September 1997 Albiner dinyatakan bebas dari penjara. Setelah keluar dari penjara, Albiner sempat pesimis akan masa depannya, apalagi soal pasangan hidup. Albiner sebenarnya ingin memiliki seorang istri yang pintar berbahasa Inggris, namun ia menepis hal itu jauh-jauh karena ia sadar itu mustahil. Tapi ternyata bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Setelah bebas dari penjara, Albiner bekerja sebagai sopir pribadi pemilik salah satu perusahaan di Jakarta. Di sanalah dia bertemu dengan wanita pujaan hatinya yang bernama Marliani atau yang biasa dipanggil Nini. Albiner tetap mencoba mendekati Nini meskipun awalnya ia pesimis, tapi ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

"Awalnya sebenarnya saya benar-benar tidak percaya diri. Saya hanya berpikir, apa salahnya mencoba. Kalau ia mau memberikan nomor teleponnya kepada saya, maka artinya saya boleh mendekati dia. Begitu saya minta nomor teleponnya dan ia memberikannya kepada saya, malamnya saya pun langsung meneleponnya."

Nini pun berkomentar mengenai awal perkenalannya dengan Albiner. "Yang paling berkesan sih waktu dia telpon, dia langsung bilang, ‘Apakah kamu mau jadi istri saya?'. Yah, saya kaget juga sebenarnya. Menyatakan perasaan kok lewat telepon. Tapi saya pikir mungkin dia orangnya memang seperti itu. Gunjingan mengenai hubungan kami pasti ada. Tapi saya hanya meyakinkan diri saya kalau memang itu jodoh yang dari Tuhan, segala sesuatunya pasti dapat kita atasi."

Bahkan teman-teman sekantornya begitu kuatir akan kedekatan Nini dengan Albiner. "Orang di sekeliling saya mungkin bisa mengatakan. ‘Kamu bodoh!! Kenapa tidak mencari yang seimbang. Seimbang dalam pendidikan dan juga seimbang dari hal lainnya. Susah sih memang kalau sudah jatuh cinta'. Saya sadar kalau dia mantan narapidana tapi saya telah menerima dia apa adanya.  Karena saya lihat orang yang berpendidikan tinggi, S1, S2, karakter dan pola hidup mereka juga tidak lebih baik daripada seorang napi yang benar-benar sudah bertobat."

Melihat kesungguhan pertobatan Albiner, kantor tempat dia bekerja memberikan beasiswa kepadanya untuk belajar di sekolah teologia. Albiner pun berhasil menyelesaikan pendidikan S1-nya dan mengajak Nini untuk membangun sebuah keluarga.

Pada tanggal 4 Oktober 2001 mereka dipersatukan dalam pernikahan kudus. Tentunya bukanlah keputusan yang mudah bagi Nini untuk menikah dengan mantan narapidana.

"Saya sangat bangga sama dia. Apa yang dikatakan orang tentang masa lalu seorang napi bisa berulang kembali, jatuh dan jatuh lagi, saya pikir itu tidak akan terjadi kepada suami saya. Tuhan Yesus telah mengubahkan dia dari perilaku yang buruk menjadi perilaku yang baik."

Sampah itu kini telah berubah menjadi berharga. "Kalau ada orang yang berpikir bahwa mereka tidak mungkin bisa berubah, saya mau untuk melayani mereka dan meyakinkan kalau mereka juga bisa berubah seperti Yesus mengubahkan hidup saya," ujar Albiner menutup kesaksiannya.

Seperti ayat yang tertulis dalam 2 Korintus 5:17, Siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesunguhnya yang baru sudah datang. (Kisah ini ditayangkan 7 Januari 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian :
Albiner Simanjuntak/Jawaban.com

Alm Paus Yohanes Paulus II, Selangkah Lagi Sebagai Orang Suci

261209-CHN-2 Almarhum Paus Yohanes Paulus II saat ini tinggal selangkah lebih dekat untuk menjadi orang suci, Sabtu (19/12) setelah Paus Benedict XVI menandatangani sebuah dekrit yang mengakui almarhum Paus itu sebagai "pahlawan kebajikan" dan menyatakan dirinya "terhormat," demikian keterangan yang dirilis oleh Vatikan.

Sebuah keajaiban yang dikaitkan dengan Paus Yohanes Paulus II harus diverifikasi baginya untuk menyatakan bahwa dia orang yang "diberkati," atau dibeatifikasi. Keajaiban kedua harus dikonfirmasi lagi untuk kemudian secara resmi dikanonisasi, atau dinyatakan sebagai orang suci.

Terlalu dini untuk mengatakan berapa lama proses itu dapat berlangsung, ungkap juru bicara Vatikan Romo Federico Lombardi.

"Memang diakui bahwa ia memimpin kehidupan Kristen dalam cara yang heroik dan luar biasa," Lombardi mengatakan kepada CNN. "Ini merupakan langkah fundamental di jalan menuju kesucian. Sekarang tibalah tahap pemeriksaan keajaiban, yang merupakan bukti kuasa Ilahi yang dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II atas nama Allah."

Paus Yohanes Paulus II meninggal pada 2 April 2005, pada usia 84 tahun. Beberapa bulan setelah kematiannya, penerusnya mengatakan ia telah meniadakan aturan-aturan yang biasanya membutuhkan waktu lima tahun untuk menumenunggu hingga masa beatifikasi.

Aturan ini dimaksudkan untuk memberikan waktu mencari bukti dan saksi yang mendukung kesucian dan untuk menunggu rasa duka menghilang setelah kematiannya.

Tetapi Yohanes Paulus sendiri menjadi preseden tahun 1999 ketika ia diberikan dispensasi dan membiarkan Mother Teresa' dinyatakan sebagai orang suci hanya dua tahun setelah kematiannya.

"Ini adalah sukacita, saya kira, bagi gereja Katolik karena Paus Yohanes Paulus II sangat dikagumi dan dicintai oleh begitu banyak orang, bukan hanya di gereja, tetapi juga di dunia," tambah Lombardi. "Ini merupakan kabar baik bagi kita semua."

Paus Benediktus menandatangani dekrit lain yang menyatakan Paus Pius XII, yang meninggal pada tahun 1958, sebagai terhormat, ungkap Vatikan.

"Penyebab atas kesucian Paus Pius XII sudah dinyatakan lama sekali," kata Lombardi. "Surat keputusan yang dibuat hari ini bukan penilaian sejarah atas Paus Pius XII atau atas kepausannya. Ini adalah penghakiman bahwa gereja memberikan Pius XII kesucian pribadi, dalam prestasi kehidupan Kristen. Jemaat dan Paus tidak punya keraguan bahwa Paus Pius XII memimpin kehidupan orang Kristen dalam cara yang luar biasa dan heroik."

Sumber : CNN/Jawaban.com

Indonesia Akan Menjadi Bangsa Misionaris Terbesar Di Dunia

"Dalam dua tahun Indonesia menjadi negara misi terbesar." Demikian nubuatan yang disampaikan oleh seorang missionary yang berasal dari negeri Kincir Angin, Belanda, bernama Mattheus Van Der Steen. Di awal kedatangannya ke Indonesia November lalu, Van Der Steen menyadari bahwa nenek moyangnya pernah melakukan perbuatan yang tidak baik yang menyebabkan banyak luka hati di bangsa Indonesia. Itulah sebabnya ketika pertama kali melayani keliling Jakarta, ia hanya meminta pengampunan atas semua yang telah dilakukan nenek moyangnya di masa lampau.

Mattheus Van Der Steen yang sudah melayani keliling dunia memang merupakan tipe orang yang berani untuk membayar harga. "Tuhan memberikan saya pelayanan yang sangat besar, kami keliling dunia dan bekerja sama dengan Reinhard Bonnke, Che Ahn dan juga Heidy Baker. Sejauh ini saya sudah melayani di 75 negara dan memiliki kantor hampir di seluruh belahan dunia, dengan satu tujuan yaitu memenangkan jiwa bagi Yesus,"tutur Mattheus kepada Charisma Indonesia setelah menuntaskan pelayanan bertajuk Ring of Fire di Jakarta baru-baru ini. Dalam melakukan pelayanannya, ia banyak bekerja sama dengan lintas denominasi. Itulah sebabnya sampai detik ini Van Der Steen memiliki hubungan yang sangat erat dengan gereja Katholik, Baptis, Pantekosta dan banyak lagi denominasi lainnya.

Penulis buku "Dare to Dream Walk in Your Destiny" ini juga mengatakan bahwa yang menjadi prioritasnya saat ini adalah Indonesia. "Saat saya sedang keliling dunia, banyak orang yang membicarakan Indonesia. Yesaya 60 mengatakan bahwa kegelapan menutupi bumi, krisis ekonomi akan datang. Tapi di atas bangsamu terang Tuhan akan datang dan bahkan para raja-raja akan datang," tegas Van Der Steen yang juga memiliki dua saudara angkat berasal dari Indonesia ini. Ia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki kasih yang sangat besar bagi kaum Ismael. "Satu-satunya cara untuk menjangkau mereka adalah dengan kasih", tegasnya.

Menyoal apa yang akan terjadi di Indonesia, Mattheus Van Der Steen melihat bahwa akan terjadi kebangkitan dan transformasi pemuda dan Tuhan akan membawa kebangkitan rohani dan transformasi melalui orang-orang Indonesia sendiri.Dan yang paling penting dia bernubuat bahwa Indonesia akan menjadi sebuah bangsa misionaris terbesar di dunia, ungkapnya. Gereja-gereja di Indonesia telah siap untuk membangkitkan para generasi mudanya yang akan menarik banyak orang datang pada Tuhan Yesus.

Saat ini Mattheus juga mengelola sebuah yayasan bernama TRIN (Touch, Reach and Impact the Nations) yang didirikan di Belanda. Yayasan ini hanya mau menjangkau jiwa dengan bekerjasama dengan berbagai gereja. Ini bukan gereja melainkan seperti sebuah perkumpulan anak-anak muda yang dalam dua tahun belakangan berkembang sangat pesat. Dimulai dari hanya 8-9 orang sekarang ada sekitar 8-9 ribu orang yang datang dan berkumpul. Mattheus sendiri tidak memakai pola kepemimpinan top-down (atas ke bawah). Dia percaya bahwa semua kita adalah rekanan dalam pekerjaan Tuhan. Dan tidak ada seorangpun yang meminta ijin darinya untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

Sumber : charismamag.com/jawaban.com

Rumah Era Yesus Hidup Ditemukan di Nazaret

Rumah-di-Nazareth-Upload-Be Sampai sekarang, para arkeolog hanya bisa menemukan makam tetapi tidak sisa-sisa rumah-rumah dari zaman Yesus di Nazaret, di mana Dia menghabiskan sebagian besar hidup-Nya.

Bagaimanapun, para ilmuwan itu tidak menarik setiap hubungan langsung antara rumah-rumah pada zamannya dengan Yesus sendiri. Sebaliknya, mereka lebih menyoroti lingkungan bangunan dimana Yesus tumbuh besar.

"Bangunan ini menunjukkan pertama kalinya sebuah rumah orang Yahudi yang hidup di desa Nazaret ditemukan sehingga dengan demikian dapat diketahui seperti apa cara hidup pada masa Yesus," ujar Yardenna Alexandre, Direktur penggalian di Israel Antiquities Authority.

Para penggali sebenarnya mulai bekerja di kediaman pada musim panas lalu, tetapi mereka tidak yakin bangunan itu dari zaman Yesus sampai bulan ini (Desember, red).

Alexandre mengatakan bahwa bangunan tersebut berukuran "kecil" dan "sederhana," dan mungkin merupakan sebuah kekhasan dari tempat tinggal di Nazaret pada saat itu.

Bekas bangunan yang tersisa itu terdiri dari dua kamar dan sebuah halaman di mana terdapat tangki air kecil yang digunakan sebagai tempat tadahan air hujan untuk. Ada beberapa artefak dari dalam gedung yang sebenarnya dapat diperbaiki, tetapi hanya pecahan-pecahan tembikar dari periode Romawi awal yang akhirnya bisa ditemukan.

Dari penelitian yang dilakukan selama berbulan-bulan yakni melalui observasi diketahui bahwa Nazaret adalah sebuah desa kecil pedesaan dimana disana hanya terdapat sekitar 50 rumah. Bahkan Alexandre mencatat, penduduk Nazaret adalah orang Yahudi sederhana. Hal ini didasarkan pada pecahan-pecahan tanah liat dan kapur yang ditemukan di dalam gedung. Ada sisa-sisa kaca pembuluh atau produk impor, yang menyarankan penduduk itu adalah "sederhana."

Sisa-sisa bangunan yang ditemukan dekat di Gereja Kabar Sukacita (the Church of Annunciation, red), di mana banyak orang Katolik percaya disitulah Malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria bahwa ia akan mengandung seorang anak yang adalah Anak Allah.

Situs yang ditemukan itu akan tetap dipertahankan sebagai bagian rencana dari pembangunan gedung pusat Kristiani baru yang akan dibangun di dekatnya.

Sumber : christianpost.com/bm/jawaban.com

Suami Istri Kristiani Mengadopsi 8 Anak-anak Pengungsi Burma

Anak-anak-Adopsi-Suku-Karen Satu pasangan Kristiani yang memimpin sebuah pelayanan membantu para pengikut Kristus yang mengalami penganiayaan belum lama ini mengumumkan bahwa mereka berhasil mengadopsi delapan anak-anak pengungsi Burma.

Jim dan Karen Jacobson dari Michigan-based Christian Freedom International mengatakan bahwa mereka mungkin sangat baik menjadi orang Amerika pertama yang diperbolehkan mengadopsi anak-anak pengungsi yang tidak memiliki catatan kelahiran resmi, yang berarti tidak ada cara yang nyata untuk menentukan kelayakan apakah anak-anak itu diperbolehkan untuk diadopsi.

Anak-anak tersebut dimana empat di antaranya adalah saudara kandung, datang langsung ke Amerika Serikat dari kamp-kamp pengungsi Burma dan tak punya akte kelahiran. Ketika keluarga Jacobson mencoba untuk mengadopsi mereka, anak-anak itu sebenarnya sudah berada di Amerika Serikat, namun proses adopsi itu sungguh rumit karena diakibatkan dokumen-dokumen yang hilang.

"Salah satu hal yang membuatnya sangat sulit untuk mengadopsi anak-anak pengungsi adalah bahwa tidak ada sertifikat kelahiran asing, mereka tidak memiliki catatan kelahiran sama sekali," kata Karen Jacobson. "Satu-satunya catatan kelahiran mereka adalah orang-orang yang telah ditemukan atau diteliti oleh UNHCR (Komisi Tinggi PBB Bidang Pengungsi)."

"Tapi kalau mereka tidak tahu tanggal kelahiran mereka secara pasti maka mereka akan diberikan tanggal lahir yang mendekati karena pada dasarnya tidak ada seorangpun yang tahu hari yang tepat kelahiran anak-anak tersebut."

Setelah hampir 18 bulan berkutat dengan prosedur hukum, seorang hakim Michigan yang menangani kasus Jacobson memutuskan untuk menerima green cards anak-anak pengungsi Burma dan dokumen-dokumen imigrasi sebagai "Bukti lain dari Kelahiran."

Sementara itu, pengadopsian anak-anak pengungsi dari Burma secara legal itu akan mempermudah mereka mendapatkan paspor atau izin kerja di Amerika Serikat.

"Itu sebuah detail yang kami tahu harus diurus, tapi kami tidak tahu adopsi [proses] akan mengurus itu," kata Karen. "Itu benar-benar keajaiban."

Pasangan Jacobson, yang telah bekerja luar biasa bagi orang Burma, mengatakan mereka ingin menceritakan kisah mereka ini untuk mendorong orang Amerika lainnya agar mau mengadopsi anak-anak pengungsi lainnya yang berasal dari negara tersebut.

"Jelas bahwa semua anak itu ingin kami adopsi," ujar Karen. "Tujuannya agar bisa melatih dan mendidik mereka sehingga ketika sudah cerdas dan ahli, anak-anak ini dapat kembali ke tempat asalnya dan memajukan kelompoknya (orang Karen, red)."

Orang Karen adalah etnis minoritas di Burma. Mereka sebagian besar memeluk agama Kristen dan telah menderita dari penganiayaan berat oleh rezim militer Birma. Militer sering menyerang desa-desa mereka dan melakukan pemerkosaan kepada perempuan di.

Beberapa tahun yang lalu, Departemen Luar Negeri AS akhirnya memberi persetujuan untuk mengizinkan memberikan suaka kepada pengungsi etnis Birma ke Amerika Serikat.

Organisasi Pasangan Jacobson, CFI, telah bekerja dengan ribuan orang Kristen di Burma dan Thailand. Organisasi itu biasanya memberikan bantuan berupan pembangunan sekolah-sekolah dan klinik medis, serta memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi.

Empat anak pengungsi yang bersaudara kandung dan diadopsi pasangan Jacobson dikabarkan sebelum datang ke Amerika Serikat pada musim semi 2008 telah mendapat perawatan dari CFI di Thailand.

Jim & Karen Jacobson sekarang memiliki 12 anak dan berada di Sault Ste. Marie, Michigan. Pasangan Kristiani melayani Tuhan dengan menyediakan perumahan, kesempatan kerja, transportasi dan makanan dan bantuan medis untuk puluhan pengungsi Karen yang tinggal di Sault Ste. Marie.

Sungguh mulia apa yang dilakukan Jim beserta istrinya Karen. Biarlah hal ini menginspirasi orang-orang Kristen di Indonesia melakukan hal yang sama yakni menolong anak-anak yang tidak mempunyai pengharapan dan membawa mereka naik menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan berguna bagi orang lain.

Sumber : christianpost.com/bm/jawaban.com