Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Menabur Dan Menuai Bersama Mama

Margareth Mamamia


Tepuk riuh penonton menggelora saat Margareth selesai melantunkan lagu Cinta Mati, karya Ahmad Dani. Tak hanya penonton yang terpukau dengan penampilan remaja berperawakan bongsor itu. Sophia Latjuba yang menjadi salah satu eksekutor malam itu pun terpesona. Menurutnya, Margareth tak kalah bagus dari Agnes Monica, penyanyi aslinya. "Kamu sepertinya sudah dilahirkan menjadi seorang bintang," puji Sophia. Alhasil, malam itu Margareth kembali mendapat predikat peserta berpenampilan ekstra.

Itulah sosok Margareth Uliasih Debora Siagian (16) yang kita kenal sekarang. Lincah, centil, enerjik, dan percaya diri. Gaya khas seorang bintang panggung. Tetapi cobalah lihat 11 tahun silam. Margie, begitu biasa ia dipanggil, hanyalah seorang gadis kecil yang pendiam, pemalu dan tidak percaya diri. Satu-satunya yang menonjol adalah suaranya. Bagaimana Margie menjelma menjadi gadis yang mampu tampil mempesona di panggung?

Bakat Alam Sejak Kanak

Adalah Saidah Dince Rohani Siahaan (52), sang mama, yang jeli melihat talenta si buah hati sejak usia tiga tahun. Saidah tak mau talenta yang sudah dianugerahkan Tuhan itu terpendam sia-sia. Jadilah, sejak berusia 4 tahun, Margie kecil ikut les vokal. Di situlah, Saidah seakan mendapat peneguhan. Sang guru, terpesona dengan suara si bocah. "Gurunya bilang suara Margareth ‘sudah jadi'. Semua guru menyarankan agar Margareth diikutkan lomba nyanyi," kisah ibu rumah tangga itu. Sejak itu, Saidah rajin berburu ajang lomba adu suara. "Saya masih ingat, umur lima tahun, ia pertama kali ikut festival nyanyi dan dapat juara harapan satu. Saya tambah semangat mengikuti berbagai lomba. Dan, ia pada dasarnya mau belajar dan termotivasi untuk terus berlatih vokal," kenang Saidah penuh haru.

Perjuangan Panjang

Saidah begitu serius mengembangkan bakat putri kelimanya itu. Lomba demi lomba mereka jajal. Dalam sebulan bisa empat sampai enam lomba diikutinya. Tak hanya di Jakarta tempat mereka tinggal, lomba di Banten, Cilegon dan di sekitarnya pun disambangi. Mengenang peristiwa itu, Margareth kerap tergelak. Pernah suatu kali mereka terhadang banjir. Padahal dandanan sudah necis. Sang mama tak kehabisan akal. "Kita sudah rapi tahu-tahu ada hujan dan banjir. Tidak ada cara lain selain menggendongnya, agar bajunya tak basah," kisah Saidah yang juga hobi menyanyi itu. Kali lain, karena kemalaman, mereka pernah menginap di lapangan bola. Tidur, hanya beralaskan kardus. Pernah juga, nebeng mobil sayur dari Banten karena sudah tidak ada angkutan menuju Jakarta. Anda bisa membayangkan, di antara onggokan wortel, kol, kangkung yang menguarkan aroma tak sedap itu, nongol gadis secantik Margie.

Tak hanya halangan alam. Hambatan pun juga datang dari orang terdekat. Fransiscus Siagian, sang ayah tak setuju sang anak diekspos menjadi penyanyi. Tak tega melihat putrinya yang kala itu masih kanak-kanak, begitu alasannya. "Tapi saya yakin dengan kemampuannya. Makanya, kami terus maju. Setiap kali kami pulang selalu membawa hadiah. Itu yang terus menyemangati. Akhirnya, keluarga melihat dan belajar menerima kenyataan ini," ungkap Saidah bangga.

Berbuah Manis

Kerja sama kompak antara mama dan anak itu berbuah manis. Dari lebih 1.000 lomba yang pernah mereka ikuti, Margie berhasil mengumpulkan 300 piala yang sekarang tertata rapi dalam lemari kaca mengkilap di rumahnya. Maka, jika Margie tampil seperti sekarang itu bukanlah perjuangan semalam. Bukan seperti Bandung Bondowoso membangun 1.000 candi dalam semalam. Margie telah ditempa oleh pengalaman. Bukan hanya setahun atau dua tahun tetapi 11 tahun!

Sempat Grogi

Meski begitu, toh Margie sempat didera kecemasan kala mengikuti Mama Mia Show. Betapa tidak, ia harus menyingkirkan 4.000 peserta yang kemudian disaring menjadi 75 orang. Lalu diperas menjadi 25 hingga akhirnya tersisa 13 orang. Pengalaman pahit selama ikut lomba, membuatnya lebih mawas diri. "Kami memang mencoba-coba saja. Tapi tetap serius menjalani proses demi proses. Selama kami ikut kontes, ternyata ada KKN-nya. Itu membuat kami berpikir apa benar ini tidak ada KKN-nya," ujar Mama Saidah yang sering terlihat emosional dan grogi di atas panggung. Tapi bagai pasukan perang, genderang sudah ditabuh. Apa pun yang terjadi the show must go on. Mereka harus tetap maju. Bekal disiplin, tekun, kerja keras dan semangat pantang menyerah membuat mereka mampu melewati tahap demi tahap. Hingga puncaknya, gelar runner-up Mama Mia Show pun berhasil mereka genggam. "Begitu namaku disebut sebagai runner-up, aku lega. Aku sangat bersyukur. Dan cuma bilang ke Tuhan, ‘Akhirnya!'" kisah gadis berkulit langsat dan bermata indah itu.

Setelah Populer

Kini, namanya telah dikenal publik seantero Indonesia. Margie pun mengakui dampak ketenarannya sangat besar. Penggemar selalu menguntit ke mana saja ia pergi. Kejadian tak nyaman pun sering ia alami. "Mereka bukan cuma teriak-teriak, tetapi aku juga ditarik-tarik bahkan sampai jatuh. Luka juga pernah. Tapi bagi aku, itu seru!" tutur siswi kelas 3 PSKD 3, Jakarta itu. Kejadian itu meninggalkan memar di kulit mulusnya.

Banjir puja-puji tak membuatnya lupa diri. Tak ada alasan bagi dia untuk jumawa. Karena toh, sukses yang diraih adalah hasil dari perjuangan panjang selama 11 tahun. Jika kini ia berlimpah job: iklan, tawaran show yang meningkat, bahkan tarifnya sekali tampil pun berlipat mencapai puluhan juta, semua itu membuat ia makin bersyukur. "Semua itu berkat Tuhan. Usaha mama dan aku yang dari nol menyadarkan aku, tak ada hal yang perlu disombongkan," papar Margie yang pernah mengajar vokal di Gereja St. Paskalis, tempatnya berjemaat itu berefleksi. Baginya, inilah waktu yang diberikan Tuhan untuk memetik hasil dari kerja kerasnya bersama sang mama, selama ini.

Kendati sudah terkenal, Margie kerap risih jika ia disebut artis. Pernah suatu kali, teman-teman sekolahnya meledek Margie dengan sebutan artis. Esoknya, ia ngambek. Selain meledek, ada juga teman lain yang menjadi minder setiap kali bertemu dengannya. "Ada yang minder juga. Yang begini, aku jadi lebih tidak enak. Aku juga sama dengan mereka, sama-sama manusia, sama-sama anak sekolah," ujarnya merendah.

Pengaruh Mama

Margie mengakui, ia tak pernah bisa dilepaskan dari sosok sang mama. Bahkan, tanpa sungkan, ia menyebut dirinya sebagai anak pingit lantaran ke mana saja ia pergi sang mama selalu menyertainya. "Dari kecil, ke mana-mana bareng mama. Ikut lomba juga sama mama. Pas menang dan terkenal juga bareng mama," kata Margie, pencinta keluarga itu. Mama Saidah dengan segala kelebihan dan kekurangan tetap membuat Margie bangga. Mamalah yang memotivasi ia untuk tekun berlatih. Mengajarkannya arti tanggung jawab, semangat kerja keras dan disiplin sejak kecil. Ternyata, bekal itu sangat berguna untuk hidupnya.

Pun demikian, Margie juga sadar mamanya punya banyak kekurangan. Mama Saidah yang emosional, sering nangis, gampang marah dan bersuara keras seperti yang kita lihat di TV itu adalah gambaran keseharian sang mama. Toh, dari situ pemain sinetron "Semua Sayang Cika" mendapat pelajaran berharga. "Aku mau belajar dan meniru kerja keras, semangat dan disiplin mama. Selain itu, nggak ada yang mau aku tiru, hahaha...," candanya disusul tawa lepas yang meramaikan ruang tamu sore itu. Namun, buru-buru ia menambahkan, "Pokoknya, nggak ada ibu yang begini!"ucap mantan backing vocal Saskia dan Geovani seraya mengacungkan jempol untuk mama.

Natal Berkesan

Jauh sebelum ikut Mama Mia, Margie sudah sering manggung. Setiap bulan, selalu ada tawaran. Lebih-lebih di saat Natal. Suara indahnya bergaung di berbagai instansi baik negeri maupun swasta. "Tiap tahun pasti ada perusahaan yang mengundang," jelasnya dengan suara yang mengecil karena kelelahan setelah seharian sekolah. Selain sibuk menyanyi, Margie tak pernah melewatkan merayakan Natal bersama keluarga. Mereka mengenang kembali bagaimana Tuhan menjelma menjadi manusia demi menebus dosa dan menyelematkan hidup manusia. Setelah renungan itu, Margie diminta menyanyi. "Aku selalu disuruh menyanyi. Aku sampai heran. Apa nggak bosan, mereka mendengar suaraku terus?" tanyanya retoris.

Ada lagi Natal berkesan bagi gadis yang tak pernah lepas dari doa ini. Suatu kali, ia diundang menyanyi di sebuah retreat Natal yang diadakan sekolah negeri. Biasanya, menurut Margie, acara rohani yang diadakan sekolah negeri digarap seadanya saja. "Tapi, ini beda!" Margie melanjutkan. Di villa yang khusus disewa untuk retreat itu, setiap siswa mengikuti acara dengan khusuk. Menyembah dan memuji Tuhan penuh kesungguhan dan ketulusan. "Aku jarang melihat hal seperti ini. Apalagi anak muda. Yang membuat aku terharu, ada anak laki-laki sampai menangis. Artinya, betapa pun gaulnya, mereka masih tetap ingat Tuhan," ungkapnya penuh syukur. Kejadian itu menyadarkannya untuk tetap ingat Tuhan.

Begitulah Margareth. Jalan kehidupan di depannya masih teramat panjang. Kesuksesan yang telah direguk suatu saat tentu akan berlalu. Karena dunia hiburan berubah sangat cepat. Semoga bekal disiplin, kerja keras, tekun dan semangat pantang menyerah yang telah ditanamkan sang mama akan membuatnya terus mampu berkarya. Mungkin, bukan di dunia panggung. Mungkin, di ladang yang lain. Karena talenta yang telah diberikan Tuhan tak boleh dipendam sia-sia.

Sumber : www.jawaban.com

Comments

No responses to “Menabur Dan Menuai Bersama Mama”

Poskan Komentar