Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Kristus & Penjaga Pintu

angel-big19ags09 Terdapat sebuah gereja istimewa di Eropa Utara dengan pemandangannya yang indah, di dalam gereja tersebut terdapat sebuah patung Kristus, ukurannya kurang lebih sama dengan manusia sungguhan.

Semua orang mengatakan “Kristus” itu sering menunjukkan kegaibannya, setiap doa pasti dikabulkan, itulah mengapa banyak umat dari tempat sejauh ribuan kilometer pun mau datang untuk berdoa dengan tulus, bersembahyang dan beribadah, pengunjung membludak dan penuh sesak. 

Di dalam gereja tersebut ada seorang penjaga pintu, ia menyaksikan Kristus setiap hari harus dengan susah payah melayani doa dan permohonan yang begitu banyak, ia merasa tidak tega dan berharap bisa meringankan sebagian beban Kristus.

Pada suatu hari ia berdoa dengan tulus dan menyatakan niatnya itu kepada Kristus. Tak dinyana, tiba-tiba terdengar sebuah suara, berkata, “Baiklah! Saya turun menggantikan dirimu menjaga pintu, engkau menggantikan ke atas sini. Tetapi, kamu harus mematuhi sebuah syarat, yakni tak peduli mata dan telinga kamu melihat dan mendengar apapun, sama sekali tak boleh menjawab, sepatah kata pun tidak boleh.”

Penjaga itu setelah berpikir sejenak, merasa permintaan itu sangat sederhana, maka ia pun menyetujuinya.

Kristus pun turun dan digantikan si penjaga pintu. Memang patung tersebut dipahat sebesar manusia biasa, maka itu para umat yang datang beribadah tidak sampai curiga, penjaga itu juga sesuai kesepakatannya dengan Kristus, berdiri diam dan membisu, mendengarkan dengan seksama suara hati para umat Nya.

Orang yang datang dan pergi silih berganti, permohonan mereka pun beraneka ragam, sebagian adalah permintaan yang masuk akal, lebih banyak lagi yang tidak masuk akal. Namun, bagaimana pun hatinya tergerak, ia selalu menahan dan tidak berani membuka mulut, karena ia harus mematuhi komitmen yang telah dibuat.

Suatu hari, datang seorang pedagang kaya  berkunjung, di tangannya menenteng satu kantong uang, ketika selesai berdoa, ia langsung ngeloyor pergi dan lupa membawa tas yang diletakkan disampingnya.

Kala itu Kristus palsu menyaksikannya, sungguh ingin sekali ia memanggil orang kaya itu untuk kembali, tetapi, ia segera teringat komitmen sebelumnya, yakni tidak boleh bicara, mau tak mau menahannya.

Kemudian datang seorang miskin yang untuk makan tiga piring dalam sehari saja kesulitan dan hidupnya terlunta-lunta, ia berdoa kepada Kristus agar membantunya melewati lintasan kesulitan dalam kehidupan ini.

Sewaktu orang miskin itu hendak pergi, ia menemukan kantong milik si pedagang yang ketinggalan di situ, begitu dibuka, di dalamnya ternyata dipenuhi dengan uang!

Kontan orang miskin itu sangat bergembira sekali dan ia berpikir, “Kristus ini benar-benar baik, setiap doa pasti dikabulkan.” Dengan menenteng uang ia meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan bersyukur yang mendalam.

Si penjaga yang berperan sebagai Kristus setelah menyaksikan perkembangan kejadian tersebut, hatinya sangat cemas, ia hendak memberitahu orang miskin itu, “Ini bukannya diberikan kepadamu!” Namun, teringat komitmen, ia terpaksa melanjutkan menahan perasaannya, tak berkata apapun dan hatinya bergejolak tidak keruan.  

Kira-kira 10 menit berlalu, seorang pemuda yang hendak bepergian jauh datang ke hadapan patung Kristus, ia hendak memohon rejeki dan perlindungan keselamatan selama dalam perjalanan lautnya. Ketika si anak muda hendak pergi, orang kaya itu menerjang masuk, tak peduli apapun yang terjadi, ia menarik kerah pemuda itu dan meminta si pemuda menyerahkan uangnya.

Si pemuda sama sekali tak memahami apa yang terjadi, maka antara kedua orang itu terjadi keributan. Pada saat itu, si penjaga pintu tak kuasa lagi menahan, lantas membuka mulutnya berbicara dan melupakan komitmennya dan menjelaskan panjang lebar mengenai kejadian sesungguhnya.

Meski permasalahan sudah diluruskan, si kaya lantas pergi mencari orang miskin itu sesuai ciri-ciri yang diceritakan Kristus palsu tadi dan si pemuda dengan tergesa meninggalkan tempat itu karena khawatir ketinggalan jam berangkat kapal.

Tiba saatnya Kristus asli muncul dan menunjuk ke arah penjaga pintu, “Kamu turunlah! Jabatan itu belum layak kamu sandang.” 

Si penjaga menjawab, “Saya menjelaskan fakta sebenarnya, melakukan keadilan bagi semua pihak, apakah itu keliru?”

Kristus berkata, “Sebenarnya Anda tidak memahami apapun! Pedagang kaya itu tidak kekurangan uang, uang yang hilang itu hanyalah hendak ia gunakan untuk berpelesir dengan wanita jalanan, akan tetapi bagi orang miskin tersebut, bahkan bisa menyelamatkan sebuah keluarga; yang paling tragis ialah si pemuda, andaikan pedagang kaya terus-terusan merecokinya sehingga ia melewatkan jadwal keberangkatan kapal, ia masih dapat mempertahankan nyawanya, tetapi sekarang, kapal yang ia tumpangi sedang tengggelam di laut.”

Prinsip di dalam dunia nyata, barangkali di dalam mata Tuhan bukannya seperti yang kita lihat, baik atau buruknya sebuah hal terkadang tidak bisa kita lihat tembus fakta kebenarannya.

Apabila kita bisa dengan sungguh hati hidup di setiap saat, dan mempercayai segala sesuatu sudah lewat pengaturan yang terbaik, bila menemui masalah tetap bersyukur, tidak mengeluh dan menghujat siapa pun, tak peduli diri sendiri sedang berada dalam kelancaran mau pun kesulitan, seyogyanya tetap bisa menjaga hati dengan riang, tenang dan lapang, percayalah Tuhan senantiasa mengatur yang terbaik bagi kita semua.

Sumber : www.erabaru.or.id

Hercules & pendorong Gerobak

Seorang petani sedang mengemudikan gerobaknya di pinggir jalan yang berlumpur setelah hujan keras. Saat itu kuda-kudanya mengalami kesulitan untuk menyeret gerobak yang penuh muatan melalui lumpur yang dalam, dan akhirnya gerobak itu berhenti secara tiba-tiba ketika salah satu rodanya terperosok kedalam lumpur.

Petani itu kemudian turun dari tempat duduknya dan berdiri disamping gerobak itu sambil memandang gerobaknya, tetapi tidak ada upaya dan usaha yang dilakukan oleh petani yang membawa gerobak tersebut untuk mengeluarkan roda itu dari dalam lumpur. Dia hanya mengutuk dirinya sendiri akan nasib malang yang menimpanya, lalu dia berteriak-teriak memanggil Hercules dengan suara keras untuk datang membantu dan menolongnya, saat itulah Hercules muncul, dan berkata: "Letakkan pundakmu di roda itu dan perintahkan kudamu untuk menariknya. Apakah kamu pikir kamu akan dapat memindahkan gerobak itu hanya dengan memandangnya dan mencercanya? Saya tidak akan menolongmu kecuali kamu melakukan usaha untuk menolong dirimu sendiri."

Dan ketika petani itu menaruh pundaknya pada roda itu dan memerintahkan kudanya untuk menariknya, gerobak itu bergerak dengan sangat cepat dan akhirnya bisa keluar dari lumpur, dan dengan segera petani itu kembali mengendarai gerobaknya dengan hati yang senang karena mendapatkan satu pelajaran.

Sumber : www.erabaru.or.id

Anjing & Bayangannya

anjing_-bayangan Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang dibawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.

Sumber : www.erabaru.or.id

Cerita Si Katak Kecil

katak Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.

Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. Perlombaan dimulai...

Secara jujur: Tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.

Terdengar suara:

"Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak."

atau:

"Tidak ada kesempatan untuk berhasil. Menaranya terlalu tinggi...!!

Katak-katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu...

Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan-lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi..

Penonton terus bersorak:

"Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!"

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah...

Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?

Ternyata: katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah:

Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu. Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu! Karena itu: Tetaplah selalu berpikir POSITIF!

Kura-Kura & Itik

Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.

Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.

Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.

"Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia," kata itik tersebut. "Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal."

Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.

Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:

"Kamu pastilah Raja dari kura-kura!"

"Pasti saja......" kura-kura mulai berkata.

Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.

Sumber : www.erabaru.or.id

Katak & Permata

Pada suatu masa, ada seorang wanita yang telah menjanda dan memiliki dua orang putri. Putri tertua memiliki wajah dan perangai yang sangat mirip dengan ibunya sehingga orang sering berkata bahwa siapapun yang melihat putri tertua tersebut, sama dengan melihat ibunya. Mereka berdua mempunyai sifat jelek yang sama, sangat sombong dan tidak pernah menghargai orang lain.

Putri yang termuda, merupakan gambaran dari ayahnya yang telah meninggal, sama-sama memiliki sifat baik hati, senang membantu orang dan sangat sopan. Karena kecenderungan orang untuk menyukai hal yang sama dengan diri mereka, ibunya menjadi sangat sayang kepada putri yang tertua yang mirip dengannya, sedangkan putri yang termuda diperlakukan dengan buruk, putri termuda sering disuruhnya bekerja tanpa henti dan tidak boleh bersama mereka makan di meja makan. Dia hanya diperbolehkan makan di ruang dapur sendiri saja.

Putri yang termuda sering dipaksa dua kali sehari untuk mengambil air  dari sumur yang letaknya sangat jauh dari rumah mereka. Suatu hari ketika putri yang termuda berada di mata air ini, datanglah seorang wanita tua yang kelihatan sangat miskin, yang memintanya untuk mengambilkan dirinya air minum.

"Oh! ya, dengan senang hati," kata gadis cantik ini yang dengan segera mengambil kendinya, mengambil air dari tempat yang paling jernih di mata air tersebut, dan memberikan kepada wanita itu, sambil membantu memegang kendinya agar wanita tua itu dapat minum dengan mudah.

Setelah minum, wanita tersebut berkata kepada putri termuda:

"Kamu sangat cantik, sangat baik budi dan sangat sopan, saya tidak bisa tidak memberikan kamu hadiah." Ternyata wanita tua tersebut adalah seorang peri yang menyamar menjadi wanita tua yang miskin untuk melihat seberapa jauh kebaikan hati dan kesopanan putri termuda. "Saya akan memberikan kamu sebuah hadiah," lanjut sang Peri, "Mulai saat ini, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar sebuah bunga atau sebuah batu berharga."

Ketika putri termuda yang cantik ini pulang kerumah, dimana saat itu ibunya memarahinya karena menganggap putri termuda tersebut terlalu lama kembali dari mengambil air.

"Saya minta maaf, mama," kata putri termuda, "karena saya terlambat pulang."

Saat mengucapkan kata itu, dari mulutnya keluarlah dua buah bunga, dua buah mutiara dan dua buah permata.

"Apa yang saya lihat itu?" kata ibunya dengan sangat terkejut, "Saya melihat mutiara dan permata keluar dari mulutmu! Bagaimana hal ini bisa terjadi, anakku?"

Untuk pertama kalinya ibunya memanggilnya dengan sebutan 'anakku'.

Putri termuda kemudian menceritakan semua kejadian yang dialami secara terus terang, dan dari mulutnya juga berturut-turut keluarlah permata yang tidak terhitung jumlahnya.

"Sungguh mengagumkan," kata ibunya, "Saya harus mengirim anakku yang satu lagi kesana." Dia lalu memanggil putri tertua dan berkata "Kemarilah, lihat apa yang keluar dari mulut adikmu ketika dia berbicara. Apakah kamu tidak ingin memiliki hal yang dimiliki adikmu? Kamu harus segera berangkat ke mata air tersebut dan apabila kamu menemui wanita tua yang meminta kamu untuk mengambilkan air minum, ambilkanlah untuknya dengan cara yang sangat sopan."

"Adik termuda pasti sangat senang melihat saya mengambil air dari mata air yang jauh," katanya dengan cemberut.

"Kamu harus pergi, sekarang juga!" kata ibunya lagi.

Akhirnya putri tertua berangkat juga sambil mengomel di perjalanan,  sambil membawa kendi terbaik yang terbuat dari perak.

Tidak lama kemudian dia tiba di mata air tersebut, kemudian dia melihat seorang wanita yang berpakaian sangat mewah keluar dari dalam hutan, mendekatinya, dan memintanya untuk mengambilkan air minum. Wanita ini sebenarnya adalah peri yang bertemu dengan adiknya, tetapi kali ini peri tersebut menyamar menjadi seorang putri bangsawan.

"Apakah saya datang kesini," kata putri tertua dengan sangat sombong, "hanya untuk memberikan kamu air? dan kamu pikir saya membawa kendi perak ini untuk kamu? Kalau kamu memang mau minum, kamu boleh meminumnya jika kamu merasa pantas."

"Kamu keterlaluan dan berlaku tidak sopan," jawab sang Peri, "Baiklah, mulai sekarang, karena kamu sangat tidak sopan dan sombong, saya akan memberikan kamu hadiah, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar seekor ular atau seekor katak."

Saat dia pulang, ibunya yang melihat kedatangannya dengan gembira menyambutnya dan bertanya:

"Bagaimana, anakku?"

"Bagaimana apanya, ma?" putri tertua membentak ibunya, dan dari mulutnya keluarlah dua ekor ular berbisa dan dua ekor katak.

"Oh! ampun," kata ibunya; "apa ini? Oh! pastilah adikmu yang sengaja telah merencanakan kejadian ini,  tapi dia akan mendapatkan hukumannya"; dan dengan segera dia berlari mendekati putri termudanya dan memukulnya. Putri termuda kemudian lari menjauh darinya dan bersembunyi di dalam hutan yang tidak jauh dari rumahnya agar tidak mendapat pukulan lagi.

Seorang anak Raja, yang baru kembali dari berburu di hutan, secara kebetulan bertemu dengan putri termuda yang sedang menangis. Anak Raja tersebut kagum akan kecantikan putri termuda kemudian bertanya mengapa putri tersebut sendirian di dalam hutan dan menangis terisak-isak.

"Tuanku, ibu saya telah mengusir saya dari rumah."

Saat itu, anak Raja melihat lima atau enam mutiara dan permata keluar dari mulut putri termuda, dia menjadi penasaran dan meminta putri termuda menceritakan mengapa dari mulutnya keluar permata saat berkata sesuatu. Putri termuda kemudian menceritakan semua kisahnya, dan anak Raja tersebut menjadi bertambah kagum akan kebaikan hati dan kesopanan tutur kata putri termuda. Anak Raja menjadi jatuh hati pada putri termuda dan beranggapan bahwa putri termuda sangat pantas menjadi istrinya. Anak Raja akhirnya mengajukan lamaran dan menikahi putri termuda.

Kisah ini adalah bagian dari kisah Charles Perrault (12 Januari 1628 - 16 Mei 1703)

Charles Perrault adalah pengarang dari Perancis dan menulis banyak dongeng klasik seperti Gadis kecil dengan kerudung merah, Putri Tidur, Kucing Bersepatu Boot, Cinderella, Janggut Biru, Katak dan Permata, Griselda yang Sabar dan banyak cerita kecil lainnya. Charles Perrault adalah seorang pegawai negeri yang menangani bidang hukum dan saat ia pensiun ia  memutuskan untuk mendedikasikan dirinya untuk dunia anak-anak.

Sumber : www.erabaru.or.id

Pawang pelatih 85 Kucing

1-kucing-big Seorang pria yang bekerja di perusahaan beras di Liaoning, Tiongkok, telah melatih 85 ekor kucing untuk membantu menjaga gudang beras, dan berhasil membuat para kawanan tikus lari terbirit-birit. Sejak saat itu gudang bahan pangan itu jarang disatroni tikus lagi. 

Menurut berita harian Liao Ning, Liu Jianguo yang memiliki julukan Mao Wang (raja kucing) tahun ini genap 47, ia bekerja pada unit kerja PT Industri Beras, Pan Jin Ting Xiang – Liaoning, memiliki sebuah “pasukan garda kucing” berskala besar, total jenderal sebanyak 85 ekor.

Selama 2 tahun belakangan ini, di bawah pelatihan Liu, para kucing yang lucu tersebut telah dilatih menjadi kucing pelacak, kucing penyergap dan kucing peronda, semuanya sesuai tugas masing-masing dan penuh tanggung jawab sehingga para tikus itu lari terbirit-birit, minimal tak berani bergerak.

Menurut laporan, beras yang disimpan di dalam gudang beras perusahaan itu adalah beras organik, oleh karena racun tikus sintesa kimiawi bisa berpengaruh pada kualitas beras, maka pihak perusahaan mulai melakukan penelitian tentang cara pemusnahan tikus dengan ilmu fisika dan biologi, metode tersebut termasuk penggunaan perangkap tikus, di sekitar simpul penyimpanan mempertahankan rerumputan guna memelihara ular, memelihara burung hantu dan landak serta pengembang-biakan pasukan kucing, tindakan pemusnahan tikus tersebut menunjukkan hasil bagus terutama menggunakan kucing rumahan menumpas tikus adalah yang paling efektif. 

Selanjutnya diberitakan,  pada 2007 gudang pangan industri beras itu pindah alamat baru, bertetangga dengan sawah pertanian yang sangat luas. Gudang beras baru tersebut menyimpan 50.000 ton lebih gabah, jauh lebih luas daripada gudang lama. Jika menambah jumlah kucing yang nantinya bisa berkeliaran ke-4 penjuru, sangat dimungkinkan menimbulkan pengaruh buat produksi. 

Penanggung jawab bahan pangan tiba-tiba mempunyai ide lateral: “Bisakah melatih kucing yang penurutnya seperti anjing?” Tugas berat ini langsung jatuh pada Liu Jianguo kepala divisi kendaraan yang memang penyayang kucing. 

Selanjutnya diberitakan, oleh karena kucing memiliki sifat kemandirian yang kuat dan tidak mau diatur-atur; selain itu pada dasarnya kucing bersifat waspada, mudah takut akan cahaya kuat dan kerumunan orang banyak. Hendak melatih kucing dewasa yang eksis saat itu dari dalam gudang dengan karyawan yang cukup banyak, kendaraan tak hentinya berlalu lalang serta perangkat mesin dengan suara hiruk pikuk tentu bukan pekerjaan mudah.

Liu memulai program pelatihan dengan anak kucing, seharian ia tinggal dan bermain dengan kucing itu, bahkan meladeni makan siang bagi para kucing. Waktu berlalu dan muncul keterikatan emosional, ketergantungan generasi kucing yang baru terhadap Liu Jianguo semakin lama semakin kuat, juga semakin penurut, bahkan begitu mendengar Liu bersiul mereka lantas menghampirinya dengan manja.  

Berdasarkan keistimewaan masing-masing kucing Liu melakukan pelatihan dengan melakukan pembagian kelompok. Melalui jerih payah selama 1 tahun lebih akhirnya para kucing dapat dilatih menjadi kucing peronda, kucing pelacak dan kucing penyergap.

Di dalam pasukan garda penjaga gudang pangan generasi baru itu, setiap kucing memiliki gerak yang gesit. Reporter menyaksikan di lapangan, seekor kucing penyergap di dalam semak, tiba-tiba melakukan sergapan terhadap seekor burung Gereja yang seringkali bercuap, terlihat ia melompat, si burung pun sudah tertangkap.

Gerak kucing pelacak lebih cepat, sekali berkelebat bisa melompat ke atas pohon setinggi 3 meter. Sedangkan seekor tikus yang menyelundup masuk melalui kendaraan suplai pangan, ketika sedang mendeteksi keadaan di dalam halaman, terlacak oleh seekor kucing peronda dengan mata tajam. Kucing peronda dari jarak 20 meter tiba-tiba mempercepat langkah dan dengan secepat kilat memburu tikus itu, sang tikus pun panik dan berupaya lolos, namun hasilnya sia-sia.

Sumber : www.erabaru.or.id

Gunakanlah Dengan Bijaksana

Bayangkan ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp. 86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan anda lakukan? Tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu.

Setiap dari kita memiliki bank semacam itu; bernama WAKTU. Setiap pagi, ia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Karena ia tidak memberikan sisa waktunya pada anda. Ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuka satu rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika anda tidak menggunakannya maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Juga, anda tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan hari. Anda harus hidup di dalam simpanan hari ini. Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan anda.

Jam terus berdetak. Gunakan waktu anda sebaik-baiknya.

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal kelas.

Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.

Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.

Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.

Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

Renungan:

Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan ingatlah waktu tidaklah menunggu siapa-siapa.

Sumber : www.erabaru.or.id

Tradisi Pernikahan Swedia

8-swedish-wed-big03sep09 Saat ini di Swedia, sebuah pesta pernikahan bisa berupa perayaan sederhana yang dilakukan di gereja atau lokasi lain yang ditunjuk calon pengantin, atau bisa berupa upacara pernikahan yang megah. Beberapa pasangan bahkan menyelenggarakannya ke pulau tropis yang terpencil.

Beberapa mempelai perempuan kebanyakan mengenakan gaun putih, namun ada juga yang memilih jenis warna dan motif yang berbeda.

Gaun tradisionalnya berwarna hitam, dahulu biasa dikenakan dalam sebuah perayaan atau kesempatan tertentu,  bagaimanapun juga untuk pernikahan, gaun dirancang sangat anggun dengan hiasan syal sutra, untaian bunga, renda buatan tangan, manik-manik dan mutiara kaca serta pita sutra yang beraneka warna.

Mahkota wanita seringkali dihias dengan rangkaian myrtle dan penutup wajah berwarna putih.

Sudah menjadi tradisi bahwa sebelum pesta, calon pengantin pergi ke fotografer untuk mengabadikan gambar mereka, baru setelah itu berangkat menuju gereja. Dekorasi gereja didisain dengan rangkaian bunga atau pada musim panas seringkali diberi hiasan ranting atau batang pohon.

Setelah upacara usai, para tamu berkumpul di luar gereja untuk mengucapkan selamat berbahagia dengan melemparkan biji-biji beras ke arah pengantin.

Setelah itu, pasangan pengantin biasanya langsung berangkat menuju ke tempat di mana perayaan berlangsung dengan menggunakan sebuah mobil mewah atau sebuah kereta kuda.

Selama hidangan makan malam akan ada beberapa pidato sambutan dan beberapa orang akan menyanyikan lagu yang disambut dengan toss. Acara dansa dimulai setelah selesai santap malam, pasangan pengantin yang baru saja menikah mengawali acara dansa dengan diiringi musik waltz.

Hari setelah malam pernikahan, kepada si istri dihadiahkan sebuah kado yang dalam bahasa Swedia disebut morgongava, artinya hadiah pagi hari. Di waktu lampau, sang suami yang berinisiatif memberikan sesuatu yang berharga. Hadiah itu biasanya berupa semacam asuransi kepada pengantin perempuan jika kelak terjadi sesuatu pada sang suami. Di zaman moderen, hadiah umumnya berupa perhiasan, namun tidak setiap orang mengikuti tradisi ini.

Di Swedia ada beberapa ungkapan tentang pernikahan:

"Apabila mempelai perempuan memakai satu logam perak pada sepatunya, maka di rumahnya tidak akan  pernah kekurangan suatu apapun"

"Hujan atau salju yang datang saat hari pernikahan menandakan pasangan itu akan berlimpah harta."

Masyarakat Swedia juga mempunyai kebiasaan memakai sesuatu yang sifatnya lama, baru, barang pinjaman dan sesuatu yang berwarna biru. Menggunakan barang lama ada kaitannya dengan sejarah keluarga dan berarti optimisme dan harapan bagi kehidupan yang baru.

Menggunakan barang pinjaman berarti untuk mengingat semua kerabat dan sahabat, sedangkan warna biru adalah menandakan kesetiaan.

Sumber : Pirjo Svensson/The Epoch Times/bum dalam www.erabaru.or.id

Benua Afrika Muncul di Telapak Tangan Mandela

telapak-mandela Sebuah gambar berbentuk benua Afrika yang didapatkan dari telapak tangan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela dipamerkan di London, Inggris belum lama ini. Gambar ini secara aneh timbul di pusat telapak tangan Mandela, dan memperlihatkan secara utuh daratan benua Afrika.

Menurut pernyataan penanggung jawab balai seni rupa London (Inggris), Anna Carlter, bahwa sidik telapak tangan ini berasal dari kertas tisu yang ditinggalkan Mandela ketika bertahun-tahun lalu melukis semasa di penjara selama 27 tahun di Robin Island. Dia mengatakan, “Ketika Mandela sedang melukis mercusuar, merasa tangannya sedikit kotor, kemudian atas kehendak hatinya mengambil selembar tisu menyeka tangannya untuk memudahkan melukis, di luar dugaan terlihat gambar benua Afrika di pusat telapak tangannya.” Carlter berbicara sambil menunjuk bentuk benua yang hanya tampak di atas telapak tangan kanan Mandela.

Ahli ramal yang menganalisa garis tangan di sebuah harian bernama Loly Rod juga mengatakan, bahwa ini adalah sebuah tanda yang sangat menarik, “daratan benua Afrika sepertinya telah terpatri pada sukma Mandela.” Carlter menambahkan, bahwa Mandela pernah memberitahu kepada mereka, saat setelah pensiun, dia akan menggenggam kuas sebagai seorang seniman profesional, “Saya tidak tahu terhadap profesi barunya itu, apakah Mandela sedang bercanda saja,” kata Carlter.

Dalam pameran ini juga dipamerkan sidik jari kecil anak-anak penderita AIDS dan manuskrip seniman lain yang memberikan saran-saran kepada Mandela, serta banyak sekali karya lukisan Mandela dalam penjara yang berwarna-warni, dan karya lukisan cat air Pangeran Charles dan lain-lain.

Sumber : www.erabaru.or.id

Pengalaman Hampir Mati Seorang Ateis

Pada 1989, Dr. George Rodonaia imigrasi ke Amerika Serikat, sebelumnya dia adalah dokter penyakit jiwa di Uni Soviet, yang juga seorang ateis yang teguh. Dia pernah mengalami suatu “pengalaman klinis hampir mati” yang paling panjang pada 1976.

Setelah George ditabrak mobil, ia dinyatakan mati. Jenazahnya diletakkan di ruang mayat selama 3 hari, hingga setelah seorang dokter melakukan autopsi di bagian perut baru bangkit kembali. Sejak itu, George beralih ke bidang penelitian mempelajari roh, dan meraih gelar doktor dalam bidang psikologi agama. Dan tidak lama setelah itu menjadi pendeta gereja Kristen ortodoks. Kini sebagai pendeta persekutuan pertama perlindungan gereja di Kota Nederland, Texas. Berikut adalah pengalamannya yang dicatat dalam karya Phillip L. Berman, “Perjalanan Pulang Kembali”.

Waktu itu, hal pertama yang saya ingat adalah mendapati bahwa diri saya berada di sebuah lingkungan yang gelap gulita. Saya tidak merasakan penderitaan jasmani, saya tetap masih ingat bahwa saya adalah George. Kegelapan ini adalah suatu hal yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Saya merasakan ketakutan yang mendalam, dan tidak pernah saya bayangkan bisa seperti ini. Terhadap diri sendiri, saya tetap merasa terkejut, namun tidak tahu di mana. Sebuah pikiran tiada hentinya terus bergulir dalam kesadaranku: Saat setelah saya mati bisa bagaimana keadaannya.

Saya telah bisa mengendalikan perasaan saya, lalu mengingat kembali semua peristiwa yang pernah terjadi. Mengapa saya berada di tengah kegelapan ini? Saya harus bagaimana? Saya lalu teringat kata-kata mutiara termasyhur Dicolle, “Aku merenung, maka itu diriku ada”. Kemudian saya merasa agak lega, karena di saat yang demikian saya baru meyakini bahwa saya masih hidup, meskipun berada di sebuah ruang dimensi yang berbeda. Kemudian saya berpikir, jika memang saya masih hidup, lalu mengapa saya tidak berpikir ke arah yang baik. Saya adalah George, dan saya berada di tengah kegelapan, namun saya tahu bahwa saya masih hidup, saya adalah diri saya. Dan saya tidak boleh berpikir ke arah yang buruk.

Kemudian saya berpikir, kegelapan, bagaimana mungkin bisa baik. Jika baik seharusnya ada cahaya. Dan tiba-tiba saya lalu berada di tengah cahaya berkilauan, cahaya yang sangat terang benderang. Warna putih yang terang benderang, sangat menyilaukan mata. Seperti cahaya blitz kamera yang begitu menyilaukan, namun tidak berkerlipan. Mula-mula saya merasa bahwa cahaya yang menyilaukan mata ini bisa membuat orang menderita, namun perlahan-lahan saya bisa mengadaptasinya. Saya mulai merasa hangat dan nyaman, segalanya tiba-tiba berubah menjadi baik sekali.

Selanjutnya saya melihat di sekeliling, molekul sedang terbang di mana-mana, atom, proton dan neutron ada di mana-mana. Di satu sisi, semua benda ini kacau balau tidak teratur, namun pada sisi lainnya, yang mendatangkan kegembiraan yang tiada tara pada diri saya adalah bahwa semua benda yang semrawut ini juga berada dalam simetri mereka sendiri. Simetri ini indah dan merupakan suatu kesatuan, Dia membuat segenap tubuhku penuh dengan kebahagiaan yang sangat. Metode keberadaan kehidupan dan kealamian yang menyeluruh hadir di depan mataku. Di saat yang demikian rasa cemas terhadap ragaku telah lenyap sama sekali, karena saya tahu bahwa saya sudah tidak membutuhkannya, pada kenyataannya dia justru merupakan rintangan bagiku dalam meninjau dunia.

Segala hal yang saya alami semuanya berpadu menjadi satu, maka dari itu sangat sulit bagi saya untuk melukiskan dengan menurut urutan peristiwa yang terjadi. Waktu sepertinya telah terhenti, dulu, sekarang, dan akan datang bagi saya sama sekali sudah bersatu dalam kesatuan yang tidak ada konsepsi waktunya. Tidak tahu kapan, saya telah melihat perjalanan seumur hidup diri saya. Dalam sekilas itu saya telah melihat seluruh kehidupan abadi diri sendiri.

Saya menyadari bahwa kehidupan ada di mana-mana, tidak hanya kehidupan dunia fana, melainkan juga kehidupan yang tak terbatas. Semua ini tidak hanya berhubungan bersama, lagi pula semuanya ini memang merupakan satu kesatuan. Saya bisa pergi ke tempat lain dalam sekejap waktu. Saya berusaha mencoba berkomunikasi dengan orang yang saya jumpai, di antaranya ada beberapa orang telah merasakan keberadaanku, namun tidak ada orang mempedulikan diriku. Saya merasa harus mempelajari filsafat dan Alkitab. Apa yang Anda inginkan, Anda bisa mendapatkannya. Dan akan datang dengan apa yang terlintas dalam pikiran Anda, saya pernah kembali ke kerajaan Romawi, Babilon, serta zaman Nabi Nuh dan Abraham (Nabi Ibrahim), semua nama zaman yang bisa Anda sebutkan, saya pernah ke sana.

Saya telah meliputi semua peristiwa dan pengalaman yang indah ini, hingga saat mereka melakukan autopsi dan menoreh bagian perutku, saya merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar telah memegang leherku dan ditekan ke bawah, kekuatan ini demikian besarnya, sehingga saya membuka sepasang mataku, dan merasakan sakit yang sangat. Tubuh saya dingin sekali, dan mulai menggigil, lalu segera dilarikan ke rumah sakit.

Sumber: www.zhengjian.org / www.erabaru.or.id

Seni Meminum Teh

Memilih peralatan minum teh, selain harus memperhatikan tekstur peralatan itu sesungguhnya, juga harus memperhatikan warna tampilannya.

Hanya dengan memadukan ketiga unsur utama yaitu fungsi, tekstur dan warna, menjadi suatu kesatuan yang serasi, kita baru bisa mendapatkan peralatan minum teh yang sempurna.

Corak warna pada keramik dan mineral yang terkandung pada pemoles saling berhubungan erat, sementara komposisi bahan mineral yang sama dengan persentase berbeda juga dapat menghasilkan corak warna yang berbeda pula.

Keramik umumnya dibuat dari tanah liat yang mengandung bahan besi beroksidan, hanya saja temperatur pembuatannya, tingkat oksidasinya yang berbeda, corak warnanya terdiri dari kuning, merah kecoklatan, coklat, abu–abu dan lain–lain. Sementara corak gambarnya sangat kaya dan bervariasi.

Corak warna pada peralatan minum teh yang dimaksud di sini adalah warna dari bahan pembuatnya serta warna dari gambar yang dilukiskan ke atas peralatan minum tersebut, yang biasanya terbagi menjadi dua jenis corak yaitu corak dingin dan corak hangat.

Corak dingin terdiri dari warna–warna biru, hijau, putih, hitam dan lain–lain, sementara corak hangat terdiri dari warna kuning, orange, merah, coklat dan lain–lain. Memilih corak warna pada peralatan minum teh sepenuhnya tergantung pada kombinasi pilihan warna dari tampak luarnya saja.

Prinsip ini harus dikombinasikan dengan daun teh. Untuk dinding sebelah dalam gelas minum sebaiknya digunakan yang berwarna putih, agar dapat merefleksikan warna dari cairan teh itu sendiri dan tingkat kejernihannya. Bersamaan dengan itu, harus diperhatikan juga kombinasi warna dengan teko kecil, kendi, cangkir dan peralatan lainnya, lalu dipadu dengan nampan besar, baki, penutup, agar tercipta kesan sejiwa.

Jika peralatan minum teh utama ini dapat dikombinasikan dengan perlengkapan tambahan, maka akan lebih sempurna lagi. Pemilihan corak warna yang sesuai untuk berbagai jenis peralatan minum teh antara lain adalah :

Teh hijau : cangkir kaca gelas, sebaiknya tidak berwarna, tidak bermotif, tidak ada tutup. Atau gunakan keramik putih, biru, cangkir keramik biru yang tidak ada tutup.

Teh bunga : keramik biru, keramik biru bermotif, mangkok dengan tutup, cangkir dengan tutup, cangkir.

Teh kuning : keramik putih susu atau kuning dan cangkir kuning jeruk, mangkok dengan tutup, cangkir dengan tutup.

Teh merah : berbahan pasir ungu, keramik putih, keramik merah, peralatan yang berwarna hangat, cangkir dengan tutup, mangkok dengan tutup atau peralatan minum kopi.

Teh putih : keramik putih atau cangkir tembikar tanah kuning dan keramik hitam yang dindingnya bercorak.

Teh Wulung : peralatan teh berbahan pasir ungu, atau dari keramik putih, mangkok dengan tutup, cangkir dengan tutup. Juga dapat menggunakan peralatan teh berbahan tembikar berwarna abu kecoklatan.

Sumber : www.erabaru.or.id

Kisah Raja & Nelayan Yang Pandai

Kerajaan yang dialiri oleh sungai Tigris dan Euphrates pernah diperintah oleh seorang raja yang sangat gemar dan menyukai hidangan ikan. Suatu hari dia duduk bersama Sherem, sang Ratu, di taman istana yang berhadapan langsung dengan tepi sungai Tigris, yang pada saat itu terentang jajaran perahu yang indah; dimana pada satu perahu duduk seorang nelayan yang mempunyai tangkapan ikan yang besar.

Menyadari bahwa sang Raja mengamatinya, dan tahu bahwa sang Raja ini sangat menggemari ikan, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ke tepian, datang dan berlutut pada sang Raja dan memohon agar sang Raja mau menerima ikannya sebagai hadiah. Sang Raja sangat senang dengan hal ini, dan memerintahkan agar sejumlah besar uang diberikan kepada nelayan tersebut.

Tetapi sebelum nelayan tersebut meninggalkan taman istana, Ratu berputar menghadap sang Raja dan berkata: "Kamu telah melakukan sesuatu yang bodoh." Sang Raja terkejut mendengar Ratu berkata demikian dan bertanya bagaimana bisa. Sang Ratu membalas:"Berita bahwa kamu memberikan sejumlah besar hadiah untuk hadiah yang begitu kecil akan cepat menyebar ke seluruh kerajaan dan akan dikenal sebagai hadiah nelayan. Semua nelayan yang mungkin berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang pertama, mereka akan pergi dengan rasa tidak puas, dan dengan diam-diam akan berbicara jelek tentang kamu diantara teman-temannya."

"Kamu berkata benar, dan ini membuka mata saya," kata sang Raja, "tetapi tidakkah kamu melihat apa artinya menjadi Raja, apabila untuk alasan tersebut dia menarik kembali hadiah yang telah diberikan?" Kemudian setelah merasa bahwa sang Ratu siap untuk membantah hal itu, dia membalikkan badan dengan marah dan berkata "Hal ini sudah selesai dan tidak usah dibicarakan lagi."

Bagaimanapun juga, dihari berikutnya, ketika pikiran sang Raja sedang senang, Ratu menghampirinya dan berkata bahwa jika dengan alasan itu sang Raja tidak dapat menarik kembali hadiah yang telah diberikan, dia sendiri yang akan mengaturnya. "Kamu harus memanggil nelayan itu kembali," katanya, "dan kemudian tanyakan, 'Apakah ikan ini jantan atau betina?' Jika dia berkata jantan, lalu kamu katankan bahwa yang kamu inginkan adalah ikan betina, tetapi bila nelayan tersebut berkata bahwa ikan tersebut betina, kamu akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kamu menginginkan ikan jantan. Dengan cara ini hal tersebut dapat kita sesuaikan dengan baik."

Raja berpendapat bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk keluar dari kesulitan, dan memerintahkan agar nelayan tadi dibawa ke hadapannya. Ketika nelayan tersebut, yang ternyata adalah orang yang sangat pandai, berlutut di hadapan raja, sang Raja berkata kepadanya: "Hai nelayan, katakan padaku, ikan yang kamu bawa kemarin adalah jantan atau betina?"

Nelayan tersebut menjawab, "Ikan tersebut bukan jantan dan bukan betina." Saat itu sang Raja tersenyum mendengar jawaban yang sangat cerdik dan memerintahkan bendahara istana untuk memberikan sejumlah uang yang lebih banyak kepada nelayan tersebut.

Kemudian nelayan itu menyimpan uang tersebut dalam kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul kantong tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan satu koin kecil. Dengan menaruh kantong tersebut kembali ke tanah, dia membungkuk dan memungut koin itu dan kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan pandangan mata Raja dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya.

"Lihat! betapa pelitnya dia!" kata Sherem, sang Ratu. "Dia benar-benar menurunkan kantongnya hanya untuk memungut satu buah koin kecil karena mungkin dia akan sangat merasa kehilangan hanya dengan berpikir bahwa koin tersebut akan diambil oleh salah seorang pelayan Raja, atau seseorang yang lebih miskin, yang membutuhkannya untuk membeli sebuah roti."

"Sekali lagi kamu berbicara benar," balas sang Raja, merasakan kebenaran dari komentar Ratu; dan sekali lagi nelayan tersebut dibawa untuk menghadap ke istana. "Apakah kamu ini manusia atau binatang buas?" Raja bertanya kepadanya. "Walaupun kamu mungkin sudah kaya tanpa harus bekerja keras lagi, tetapi sifat pelit dalam dirimu tidak membiarkan kamu untuk meninggalkan satu koin kecil untuk orang lain." Lalu sang Raja memerintahkan nelayan tersebut untuk pergi dan tidak menampakkan lagi wajahnya di dalam kota kerajaannya.

Saat itu nelayan tersebut berlutut pada kedua kakinya dan menangis: "Dengarkanlah hamba, Oh sang Raja, pelindung rakyat miskin! Semoga Tuhan memberkahi Tuanku dengan umur panjang. Bukan nilai dari koin tersebut yang hamba pungut, tetapi karena pada satu sisi koin tersebut tertera tulisan pujian atas nama Tuhan, dan disisi lainnya tergambar wajah Raja. Hamba takut bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena tidak melihat koin tersebut, akan menginjaknya. Biarlah sang Raja yang menentukan apakah yang saya lakukan ini pantas untuk dicela atau tidak."

Jawaban tersebut membuat sang Raja sangat senang tidak terhingga, dan memberikan lagi nelayan tersebut sejumlah besar uang. Dan kemarahan Ratu saat itu juga menjadi reda, dan dia menjadi sadar dan melihat dengan ramah terhadap nelayan tersebut yang pergi dengan kantung yang dimuati dengan uang.

Sumber : www.erabaru.or.id (Hartwell James/yqm)

Sepucuk Surat Untuk Surga

Di sebuah kota kecil di Inggris, ada seorang pegawai kantor pos yang bernama Fleter. Dia adalah seorang pengantar surat yang handal, semua surat yang alamatnya kurang jelas atau tulisannya yang kabur begitu berada di tangannya, tidak ada sepucuk surat pun yang tidak tepat sasaran, surat yang seharusnya berstatus mati (harus dikirim kembali ke pengirim) pun dapat menjadi surat hidup.

Setiap hari Fleter selalu pulang ke rumah dengan kegembiraan dan bertutur pada istrinya tentang penemuan barunya. Sehabis makan malam dia selalu menyulut pipa tembakaunya dan kedua tangannya menggandeng anak lelaki dan perempuannya ke halaman depan rumah untuk mendongeng. Begitu cerianya dia bagaikan seorang detektif yang ulung.

Akan tetapi pada suatu hari yang naas, anak lelakinya jatuh sakit, ia dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan, namun tidak berhasil dan akhirnya meninggal dunia.

Sejak kejadian itu jiwa Fleter juga ikut mati, setiap hari dia pagi-pagi bangun dari tidur, bagaikan orang yang mimpi tidur berjalan pergi ke kantor, dia bekerja sambil membisu, sepulang dari kantor setibanya di rumah ia juga makan dengan bungkam seribu bahasa, dan ia selalu berada di atas ranjang saat hari masih sore.

Hanya istrinya yang mengetahui bahwa setiap malam dilewati Fleter dengan hanya memandangi langit-langit, segala hiburan dan nasehat dari sanak keluarga tidak berguna sama sekali.

Hari Natal sudah dekat, suasana kegembiraan di sekitarnya masih tidak bisa mengurangi kepedihan dari keluarga ini. Anak perempuan Fleter yang bernama Maria bersama adiknya sungguh mendambakan tibanya hari besar ini, akan tetapi sekarang ia sudah tidak lagi mendambakannya, dia juga tidak ingin melewati hari besar itu lagi karena dia tahu di hari besar itu ayahnya akan lebih merindukan adiknya, dan akan lebih sedih.

Hari ini Fleter sedang di depan meja kerjanya membagi-bagikan surat, dia memungut sepucuk surat yang beramplop warna biru tua. Tertulis di situ dengan beberapa huruf besar : “Kirim ke Surga --- Kepada Nenek”.

Saat itu dia berpikir, ini pastilah bukan sembarang orang yang mampu mengirim surat ini, meskipun Detektif Polo dari Belgia didatangkan kesini pun pasti akan kehabisan akal. Fleter menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir hendak mengesampingkan surat itu. Kemudian ia berpikir, tidak masalah jika dibuka untuk dilihat, mungkin ia bisa membantu. Lalu ia buka surat itu dan tulisan di dalamnya :

Nenek yang tercinta,

Adik telah meninggal dunia. Aku bersama ayah dan ibu sangat sedih. Ibu bilang, orang baik jika meninggal akan masuk surga, adik sekarang sedang bersama dengan Nenek di surga, apakah dia ada mainan? Kuda-kuda kayu adikku tidak berani aku tunggangi lagi, aku juga tidak bermain mainan balok kayu lagi, aku khawatir kalau sampai mainan-mainan itu terlihat oleh ayah, ayah akan bersedih hati.

Ayah sekarang ini tidak mengisap pipa tembakau lagi, tidak pernah berbicara lagi. Aku senang mendengar dongeng ayah, tapi ayah tidak pernah mau bercerita lagi. Ada suatu waktu ibu menasehati ayah untuk tidak terlalu bersedih, ayah bilang, sekarang ini hanya Tuhan-lah yang mampu menolong dirinya.

Nek, dimana Tuhan berada? Aku harus menemuiNya, aku ingin memohon kepadaNya untuk menolong ayahku keluar dari kepedihan ini, agar ayah bisa mengisap pipa tembakaunya lagi, agar ayah mau berbicara dan bercerita lagi.

Cucumu, Maria.

Hari itu, pulang dari kantor, lampu jalanan sudah menyala. Fleter dengan langkah cepat pulang ke rumah, dia sudah tidak lagi memperhatikan bayangan dirinya berjalan, yang sebentar di depan, lalu menjadi di belakang, karena dia sudah berjalan dengan kepala tegak menatap ke depan.

Dia menginjakkan kaki di atas tangga teras di depan pintu rumahnya, tidak segera mendorong pintu untuk masuk, dia berdiri sambil mengeluarkan pipa tembakaunya, mengisinya lalu disulut, baru didorongnya pintu, dan masuk ke rumah.

Dia tertawa seperti dulu terhadap istri dan anak perempuannya yang menyambut kedatangannya, pelan-pelan mulutnya mengeluarkan asap itu, dan suasana kehangatan yang telah lama tidak mereka jumpai itu pun muncul kembali.

Sumber : www.erabaru.or.id

Manfaat Kulit Semangka

Musim panas pada hari-hari yang amat panas ini, biang keringat adalah penyakit kulit yang sering terjadi pada buah hati Anda, cara apapun telah dicoba mungkin masih belum berhasil. Cobalah gosokkan kulit semangka untuk mengatasi biang keringat.

Pengobatan sinshe berpendapat pada waktu puncak musim panas, cuaca panas mengandung lembab, terpendam pada kulit tubuh, mengakibatkan pori-pori tersumbat dan terjadilah biang keringat.

Kulit semangka mempunyai efek menghilangkan panas, membersihkan racun, dan menghilangkan lembab, maka  biarpun sebagai obat minum atau obat luar, untuk pengobatan dan pencegahan terhadap biang keringat sama-sama akan berhasil.

Ambil beberapa potong kulit semangka (kulit hijau yang keras dibuang), setelah dicuci bersih dihancurkan sehingga menjadi cair. Oleskan pada tubuh dan didiamkan selama 5-6 menit kemudian bilas dengan air hangat. Bisa juga dengan langsung menggosokkan secara perlahan pada kulit selama 10 menit, kemudian bilas dengan air, setiap hari 1 kali.

Cobalah untuk mempertahankan menggunakannya selama musim panas. Hal ini tidak hanya dapat mengobati dan mencegah biang keringat, menghindari atau menghilangkan gatal-gatal pada kulit, namun juga dapat menjadikan kulit licin mengilat.

Selain digosokkan, masih juga dapat merebus sejumlah kulit semangka untuk mandi dalam bak, setiap hari 2 kali, setiap kali selama 20 menit, berturut-turut beberapa hari, biang keringat juga akan hilang.

Sumber : www.erabaru.or.id

Hatiku Telah Berubah

Melati memiliki emosi yang meledak-ledak, bahkan anak laki-laki di sekolah juga takut pada dirinya, tetapi kemudian teman sekolah mendapatkan dia telah berubah.

Dulu, jika ia menghadapi masalah bisa membuat emosinya meledak-ledak, sekarang malah tidak ada reaksinya. Dia tiba-tiba tidak memaki orang lagi, teman sekolah yang sering dimaki olehnya, semua merasa tidak terbiasa, oleh karena hal ini semua orang diam-diam bertanya-tanya.

Kemudian guru kelas Melati juga melihat perubahan perilakunya, lalu bertanya padanya alasan yang membuat dia berubah. Setelah Melati menjelaskannya, guru menganggap proses perubahan Melati akan sangat bermanfaat untuk memotivasi teman-temannya, oleh karenanya lalu mendorong dia untuk berbagi pengalaman dengan teman sekolah di depan kelas.

Di bawah ini adalah perkataan yang disampaikannya:

Di rumah, setiap hari sayalah yang bertugas membuang sampah. Ada kalanya saya terlalu pagi membawa sampah keluar rumah, karena mobil sampah belum sampai, saya malas menunggu, lalu melihat ada orang menaruh sampah di depan pintu orang lain, saya juga ikut menaruh sampah di depan pintu orang itu lalu saya tinggal pergi.

Di rumah yang dititipi sampah tersebut, yang bertanggung-jawab membuang sampah adalah dua kakak beradik. Adik laki-laki jadi sering membantu membuangkan sampah orang lain, setelah lama akhirnya tidak tahan juga. Pada satu hari ia marah besar, "Hai, orang brengsek, berani berbuat mengapa tidak berani mengakui, kalau berani ayo tampil keluar!"

Mendengar adiknya berteriak-teriak, sang Kakak lalu keluar menghentikan dia dan berkata, "Apa yang kau ributkan, orang lain kan bukan sengaja, daripada untuk marah-marah, waktunya bisa kau pakai untuk buang sampah saja."

Setelah selesai berbicara, ia lalu mengangkat beberapa kantong sampah berat untuk dibuang. Waktu itu saya perhatikan dari belakang, Kakak perempuan itu terlihat penuh kelembutan, rasanya sungguh membuat hati terharu!

"Malam itu, menjelang waktu tidur, setelah memikirkan kembali kejadian siang itu, saya merasa betapa diri ini berhati sempit, hanya demi sedikit urusan kecil sering marah-marah besar, sama seperti adik laki-laki itu. Penampilan wajahnya mengerikan, kelihatan jelek sekali, sangat menakutkan. Lagipula, kalau terus-terusan begitu,  di kemudian hari bukankah tidak ada yang mau menikah dengan saya?"

"Maka saya memutuskan, harus menjadi seperti sang kakak yang penuh toleransi, dan berhati baik itu. Di atas adalah alasan saya berubah."

Setelah dia selesai bercerita, di kelas penuh dengan gemeruh tepuk-tangan.

Kehidupan memberikan kita banyak toleransi; kalau tangan terluka bisa sembuh dengan sendirinya, kalau salah makan bisa muntah keluar, lalu mengapa kita juga tidak banyak bertoleransi kepada orang lain?

Kedokteran Tiongkok mengatakan, "Emosi dapat melukai badan, melukai hati." Dengan bertoleransi bukan hanya membuat diri kita semakin menarik, juga dapat membuat badan kita lebih sehat.

Sumber : Azhe/The Epoch Times/lin - www.erabaru.or.id

Mencedok Air Kloset Untuk Memastikannya

Di Jepang, ada seorang mahasiswi yang menggunakan waktu liburan kuliahnya untuk bekerja disebuah hotel. Dia mendapatkan pekerjaan dibagian cleaning service.

Ketika akan menjulurkan tangannya untuk membersihkan kloset di hari pertamanya, dia hampir saja muntah.

Tetapi dia terus memaksakan diri untuk bertahan hingga beberapa hari, sampai tiba suatu saat dimana dia sudah tak mampu lagi untuk memaksakan dirinya.

Ketika hendak mengajukan pengunduran dirinya, mahasiswi ini melihat seorang rekan kerjanya yang berusia lanjut baru saja menyelesaikan pekerjaan membersihkan kloset, dengan tiba-tiba menciduk air dalam kloset itu  lalu meminumnya.

Melihat kejadian itu si mahasiswi ini terbelalak tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Namun si cleaning service tua ini malah dengan bangga mengatakan bahwa kloset yang baru saja dibersihkannya bisa dijamin kebersihannya, begitu bersihnya sehingga air yang berada dikloset tersebut layak untuk diminum.

Melalui kejadian tersebut, mahasiswi ini langsung mendapatkan inspirasi yang luar biasa. Mulai saat itu, si mahasiswi ini tidak lagi merasa sangat menderita ketika memasuki toilet, tetapi malah justru menganggap pekerjaan ini sebagai tempat untuk mengangkat dan menempa diri sendiri. Setiap kali selesai membersihkan kloset dia selalu bertanya pada dirinya sendiri,”Apakah saya bisa minum air kloset ini?”

Masa liburan telah usai, ketika Manajer melakukan pemeriksaan pekerjaan, dihadapan banyak orang si mahasiswi ini langsung menciduk air dari dalam kloset yang telah ia bersihkan kemudian meminumnya.

Tindakannya sungguh mengejutkan banyak orang. Akhir kisah, setelah  mahasiswi ini tidak lagi bekerja di hotel tersebut. Dia lantas terjun kedalam dunia politik, berkat kesungguhan hatinya, akhirnya dia dipercaya menjabat Menteri Pos dan Telekomunikasi Jepang.

Kita sering mengeluhkan begitu beratnya pekerjaan kita, teman sejawat, atasan dan bawahan, namun jarang memeriksa diri sendiri apakah dalam pekerjaan itu kita mendapatkan peningkatan? Apakah sudah mengerjakannya dengan lebih baik? Bukankah kita jarang sekali memeriksa sikap dan semangat kita terhadap pekerjaan?

Suatu ketika pernah mewawancarai seorang Manajer HRD, dia mengatakan untuk menilai baik buruknya seorang karyawan baru, ada tiga point yang sangat penting, yaitu sikap, sikap dan sikap. Karena sikap seseorang dapat lihat apakah dia dapat menghadapi tantangan, menanggulangi kesulitan dan menuntut dirinya untuk selalu maju.

Setiap orang selalu menginginkan pencapaian suatu prestasi, mendapatkan keberhasilan, tetapi seringkali melupakan semangat untuk me-ningkat dan melampaui dalam pekerjaan adalah pokok dari pencapaian prestasi (keberhasilan).

Melampaui taraf yang dicapai itu sendiri sudah merupakan suatu prestasi yang luar biasa, oleh karena itu merupakan semacam semangat kerja yang luar biasa, sebab musabab dari keharuan kita. Sedangkan nama dan keuntungan itu sendiri adalah hasil sampingan, dia tidak bisa dibandingkan dengan semangat diri sendiri untuk melampaui diri sendiri.

Sumber : www.erabaru.or.id

Kehidupan Itu Seperti Sebuah Perahu

Kehidupan manusia ibarat sebuah kapal, jika di dalam pelayaran hidupnya terlalu banyak dan terlalu berat dimuat dengan keinginan (nafsu) materi dan sifat sombong, maka perahu kehidupan ini sangat mudah kandas dan tenggelam di tengah perjalanan.

Jika ingin mencapai tepian kehidupan di seberang sana dengan lancar, maka wajib untuk segera mengurangi muatan yang berat itu, dan hanya mengambil batas terendah materi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup, dan dengan tegas melepaskan ketamakan serta nafsu keinginan dalam hati manusia yang berlebihan.

Baru-baru ini saya sering mendengar perkataan beberapa teman melakukan investasi di saham atau kegiatan MLM (multi level marketing). Uang mereka dalam jumlah besar telah tertipu oleh pedagang curang. Dari teman-teman yang tertipu ini mereka semua memiliki kelemahan yang sama, yaitu hati yang sangat tamak.

Jika dipikir dengan seksam a, akan segera dapat diketahui bahwa dalam investasi dan perdagangan sangat mustahil untuk bisa mendapatkan keuntungan 50 kali lipat hanya dalam satu kali raup, tapi masih ada saja orang yang dihantui dengan ketamakan yang dengan mudah mempercayai perusahaan yang mengatakan bahwa saham perusahaannya dapat naik 50 kali lipat, sehingga akhirnya tertipu dan uangnya habis.

Jelas-jelas mengetahui bahwa pengelolaan dan aturan pembagian hasil dari perusahaan MLM tidak transparan, tapi ketika kelihatan satu lembar cek tunai bernominal satu juta dollar, masih saja beranggapan bahwa asalkan serius menjalankan MLM bisa segera menjadi jutawan, cek tersebut juga sudah tidak perlu diperiksa lagi keasliannya dan dengan mudah percaya pada janji orang lain, akhirnya uang dalam jumlah besar pun habis tak bersisa hanya untuk membeli barang-barang tak berkualitas yang menumpuk bagaikan gunung.

Penduduk asli di Afrika mempunyai cara yang unik untuk menangkap simpanse : Di dalam sebuah kotak kayu kecil diletakkan buah-buahan yang berkulit keras yang disukai oleh simpanse, pada salah satu sisi kotak tersebut dibuat sebuah lubang yang besarnya persis sebesar tangan simpanse agar dapat masuk untuk mengambil buah-buahan di dalamnya, begitu simpanse menjulurkan tangan ke dalam dan meraih buah-buahan yang ada di dalam, maka tangannya tidak akan dapat ditarik keluar lagi dari lubang itu, cara ini sering digunakan oleh penduduk untuk menangkap simpanse.

Sebab simpanse ada satu kebiasaan, yaitu tidak mudah melepaskan benda apa pun yang telah digenggam dalam tangannya.

Orang-orang selalu menertawakan kebodohan simpanse : mengapa tidak melepaskan buah dalam genggamannya itu lalu melarikan diri? Sesungguhnya jika kita renungkan kembali hal yang terjadi pada diri kita, kita juga akan mendapati bahwa tidak hanya simpanse yang bisa berbuat kesalahan seperti itu.

Di kampung halaman saya, semasa kecil dulu, pernah terjadi bencana kebakaran, waktu itu ada satu keluarga yang miskin yang berhasil selamat dari kobaran api karena tidak memiliki harta apa pun, sehingga lolos dari mara bahaya itu. Sebaliknya tetangga mereka yang kaya raya, menerjang masuk kembali ke dalam kobaran api dan berusaha untuk menyelamatkan perabotnya yang mahal dan mencari uangnya, akhirnya tertelan kobaran api dan tidak pernah keluar lagi.

Kehidupan bagaikan perahu. Semakin sedikit memiliki kekayaan benda materi, semakin ringan pula beban dalam kehidupan ini, maka dari itu melepaskan ketamakan hati manusia akan meringankan muatan dan bisa bergerak maju ke depan, maka manusia akan hidup wajar dan lepas bebas.

Kekayaan materi hidup tidak bisa dibawa serta, mati pun tidak bisa dibawa pergi, tahu akan batasan dan mengekang keinginan materi dan sifat sombong, maka pasti akan membuat perjalanan hidup ini menjadi lancar, dengan lega dan mudah mencapai ke tepian di seberang sana yang terang benderang.

Sumber : www.erabaru.or.id

Bayangan Misterius Bunda Maria

bayangan-bunda-maria Bayangan Bunda Suci Maria muncul di tembok dan jendela di pedesaan yang jauh terpencil bagian utara Provinsi Saskatchewan, Kanada. Menurut laporan, sejak September tahun lalu, bayangan misterius Bunda Suci Maria pernah menampakkan diri di 4 pedesaan, dan mengundang perhatian banyak orang. Belum lama ini, bayangan Bunda Maria juga muncul sekali dalam 2 keluarga di Saskatchewan Beauval yang hanya berpenduduk 1.000 orang. Salah satu di antara kepala keluarga itu yang bernama Bertha Durocher mengatakan, ”Bayangannya bisa memancarkan cahaya di malam hari, dan ada catatan rekamannya.”

Durocher mengatakan, bahwa pada mulanya ia tidak bermaksud mengatakan tentang kejadian “bayangan” yang muncul di jendela rumahnya yang besar tersebut pada orang lain. Durocher mengungkapkan, ”Saya memberitahu pada ibu… dan ia mengatakan, ‘mungkin kamu melihat bayanganmu sendiri.’ Karena itu, saya menganggap orang lain tidak akan percaya pada saya.”

bayangan-bunda-maria1 Dan sejak itu, lebih dari 300 orang telah melihat bayangan Bunda Maria di jendela rumahnya. “Ia memancarkan cahaya, begitu indahnya, genangan air mata mengalir di mata saya,” ujar Durocher. Ia percaya bahwasannya apa yang disaksikannya adalah informasi dari malaikat tertentu.

Dalam sejarah, bayangan Kristus Bunda Suci Maria dan pengikutnya yang suci muncul di kaca, air, mobil dan lain-lain latar belakang yang berbeda. September tahun lalu terdapat laporan mengenai patung sang Bunda Suci Maria yang dipasang di rumah pengikutnya yang taat meneteskan air mata.

Lalu mengapa Bunda Suci Maria memperlihatkan air mata dan bayangannya pada orang-orang? Adakah akan terjadi sesuatu yang diisyaratkan oleh Bunda Maria? Sebab-musabab yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah ini mungkin tidak lama lagi akan terungkap.

(Leteratur dokumen: Virgin Mary Seen on Picture Window in North Canada)www.reuters.com & www.erabaru.or.id

Orangtuaku selalu Tidak Pernah Mengerti Aku

Miko bertubuh kurus dan berkulit gelap, ia seorang murid kelas 6. Bagi anak seusianya, potongan tubuh Miko termasuk kecil. Setiap hari ia harus memikul tas sekolah yang beratnya 6 kg untuk mengikuti kelas bahasa Inggris, di wajahnya selalu tersirat ekspresi yang sangat tidak suka dengan hal itu, ia bahkan juga tidak pernah menyapa gurunya. Apabila sang guru melewatinya dengan senyum ramah menyapa, maka ia akan memalingkan muka sambil pergi begitu saja.

Hari Rabu, jam sekolah hanya setengah hari saja, sisa waktu Miko sepanjang sore hari adalah berkutat di tempat bimbingan belajar, sambil menyelesaikan PR nya ia pun bermain-main. Sebagian besar waktunya ia gunakan untuk tidur.

Meskipun telah tidur sepanjang sore, saat mengikuti pelajaran kelas lagi, dia tetap saja merasa ngantuk, tidak ada dorongan semangat untuk belajar, dan sering terlihat terkulai lemas di kursi seperti seonggok lumpur.

Gurunya sudah sering menasehatinya namun Miko tidak pernah berubah. Suatu kali guru pernah memarahi Miko, wajahnya langsung menampakkan ekspresi tidak senang. Dia membanting bukunya, lalu membanting pintu kelas, sehingga suasana belajar mengajar menjadi sangat tidak nyaman.

Saya pernah berdiskusi dengan ibu Miko mengenai kondisinya yang setiap hari terlihat lemas tak bertenaga.

Anak seusia Miko seharusnya penuh dengan energi, ibarat baterai basa yang berdaya penuh, namun Miko justru terlihat seperti balon yang kehabisan udara. Ibu Miko berkata bahwa setiap hari Miko harus mengerjakan PR hingga jam 12 malam, kemampuan matematikanya sangat lemah.

Apalagi saat ini telah duduk di kelas tinggi, PR juga semakin banyak dan sulit, setiap hari dia harus menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan PR, ini juga yang menyebabkan Miko selalu tidur larut malam, sehingga berakibat mengganggu konsentrasinya.

Saya menganjurkan ibu Miko untuk mendiskusikan masalah ini dengan guru di sekolah, agar dapat mengurangi PR atau mencari cara penyelesaian lain, misalnya membimbing Miko untuk mengatur waktunya sendiri, sebab saya merasa sebagian besar waktu Miko di tempat les dihabiskan dengan berbincang-bincang, atau rebah di meja tanpa melakukan apa pun. Jika Miko bisa belajar membagi waktu, mengatur waktunya dengan lebih baik, waktunya mengerjakan PR maupun melakukan hal lainnya, ia lebih dapat mengatasi masalahnya sendiri.

Ibunya juga berpendapat tidur larut malam hingga jam 12 bagi anak seusia Miko terlalu memberatkan. Dalam usia pertumbuhan, tidur yang cukup dapat membantu pertumbuhan anak. Namun sebaliknya sang ibu justru tidak tahu harus bagaimana  membantu anaknya supaya tidak tidur larut malam.

Setiap hari seusai kerja ibu Miko tiba di rumah pukul 6 – 7 malam, biasanya ia akan menemani Miko mengerjakan PR. Miko terlihat sangat letih begitu juga dirinya, sementara matematika juga tidak dikuasainya. Ia hanya mampu menemani saja, sungguh merasa sangat tak berdaya, selain hanya berusaha meminta Miko secepat mungkin menyelesaikan PR.

Masalah Miko tetap saja tidak ada jalan keluar. setiap hari ia tetap saja mengantuk dan kelelahan, raut wajahnya terlihat sangat tidak rela. PR dari tempat les tidak ada satu pun yang diselesaikannya, masuk sekolah juga ogah-ogahan.

Jika dipikir sebaliknya, ketika orang tua tiada hentinya mengirimkan anaknya ke berbagai jenis les atau pelajaran tambahan, yang menghabiskan banyak biaya, si anak juga kehilangan begitu banyak waktu, dan guru pun menghabiskan banyak energi, lalu siapakah yang mendapatkan manfaatnya?

Dengan contoh Miko ini, saya pikir kelas tambahan atau les adalah kelebihan beban baginya, bahkan untuk PR di sekolah pun Miko sudah tidak mampu, dari mana ia ada waktu dan tenaga untuk belajar ketrampilan di luar sekolah?

Orang tua menghabiskan banyak uang namun sama sekali tidak terlihat hasilnya, si anak juga menghabiskan banyak waktu namun sama sekali tidak ada perkembangan, guru pun mencurahkan banyak energi dan pikiran, semua pihak telah berkorban, namun pada akhirnya siapa yang memperoleh manfaatnya?

Jika semua ini memang bertujuan demi kebaikan si anak, dengan harapan agar si anak memiliki kemampuan lebih di kemudian hari, namun si anak sudah tidak mampu lagi menerimanya, tidak ada orang yang dapat mendengarkan suara hati nurani si anak yang menjerit minta tolong tanda menyerah, lantas siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?

Orang tua bermaksud untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, namun bukan berarti setiap anak dapat menerima semuanya. Bukankah orang tua harus memikirkan kembali apa yang telah diberikan kepada anaknya? Apakah yang anda berikan ini benar-benar sesuatu yang diinginkan oleh anak anda?

Mungkin si anak tidak memerlukan les setelah sekolah, mungkin yang dibutuhkannya hanyalah agar anda dapat meluangkan waktu untuk menemaninya bermain bola, menemani anak anda menonton TV, menemaninya berbincang-bincang, menemaninya makan snack.

Jika sang anak hanya membutuhkan hal yang sedemikian sederhana dan fundamental ini, sebagai orang tua, tegakah anda untuk tidak mengabulkan permintaannya yang paling mendasar tersebut?

Sumber : www.erabaru.or.id

Tetap Bertahan Di Dalam Kesulitan

Pada tahun 1980, David kuliah di fakultas perdagangan Universitas Arlington, AS. Saat itu David masih mengandalkan kiriman dana bulanan dari orang tuanya.

Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya yaitu satu keping uang logam itu ke kotak telepon.

“Halo, apa kabar,” telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara.

David dengan nada agak terisak berkata: “Ibu, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan.”

Ibu David berkata: “Anakku, ibu tahu.”

Sudah tahu kenapa masih tidak mengirim uang? David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam.” Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya: “Ibu, apa yang telah terjadi di rumah?”

Ibu David berkata: “Anakku, ayahmu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak dapat mengirimimu uang lagi. Ibu sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri.”

Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedang di ujung telepon lainnya, air mata David juga menetes tak hentinya, dan ia berpikir: Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung.

David berkata kepada ibunya, “Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan dapat menghidupi kalian.”

Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jika-lau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out. Pada saat David mengatakan “Sampai jumpa” kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu sungguh luar biasa menyakitkan, prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telepon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak kepingan dollar semburat keluar dari alat itu. David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut.

Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana harus menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri pasti 100% boleh, dengan alasan, pertama karena tidak ada yang tahu, kedua, diri sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya.

Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin hebat, David melontarkan salah satu keping dolar itu ke dalam otomat dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon.

Mendengar penuturan David, customer service itu berkata: “Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan ke dalam kotak telepon. ”

Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, kotak telepon itu terus menerus memuntahkannya kembali.

Sekali lagi David menelepon customer service yang berkata: “Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan.”

Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, customer service pun dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu.

Tak lama kemudian, customer service menelepon ulang pesawat telepon yang sedang bermasalah itu. ” Dia berkata kepada David: “Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak punya cukup tenaga, tak ingin hanya demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana.”

“Hore!” David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah telah menjadi miliknya.

David membungkukkan badannya dan dengan seksama menghitungnya, total uang 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David untuk bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti.

Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus. Ia memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan.

Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai atasan sebuah perusahaan supermarket dan menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum serta keinginannya untuk mencari pekerjaan.

Atasan ini memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah jika tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena atasan ini merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama untuk membenahi gudang, mutlak bisa dipercaya.

David bekerja dengan sangat giat, si atasan sangat menhargainya dan juga merasa kasihan. Kadang diberinya David upah dobel.

Sesudah menerima gaji, David me-ngirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya.

Sesudah 1 bulan, uang tersebut dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: “Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan dan bisa mempertahankan hidup.” Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan."

Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang juga memerlukan bantuan.

Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.

Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba sebesar US $ 100. 000.

Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: “Hal yang tak bisa saya lupakan dalam hidup saya ialah perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga yang mendorong saya setiap saat untuk terus berjuang. ”Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya.”

Eksekutif perusahaan telepon bernama Bill membalasnya dengan surat penuh antusiasme: “Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $ 10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan: dalam kondisi paling sulit, pertama, jangan lupakan harapan yang sudah ada di depan mata, kedua, jangan lupa menjaga moralitas.”

20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David sekarang? Di kota Chicago,AS, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC.

Pendiri perusahaan ADDC, presiden direktur saat ini, ialah David. Disamping itu David juga adalah salah satu penyumbang terbesar yayasan amal Felix Foundation.

Sumber : www.erabaru.or.id

Istri Kejam Yang Menyiksa Buah Hatinya Sendiri

Kebahagiaan Mui Ha hanya seumur jagung. Setelah anak pertamanya lahir, Mui Ha berubah menjadi sosok wanita yang keras. Anaknya pun sering menjadi korban kemarahannya.

"Trus anak 9 bulan aja kalo nangis saja saya pukul. Saya cubit. Dasar anak gak berguna, kalo tahu mah gw matiin saya bilang gitu. Udah saya marah-marah, saya lempar anaknya ke kasur," ujar Mui Ha mengawali kesaksiannya.

Namun, keberingasan Mui Ha tidak cukup sampai disitu. Saat anaknya pertama semakin besar, sedikit kesalahan yang dibuatnya akan berakibat fatal.

"Saya tanya kenapa lis, bisa tumpah. Dia jawab gak tahu, tahu. Tanyain gak tahu, spontan saya angkat kemoceng, saya pukul dia. Saya bilang dasar anak gak berguna. Semua perkataan gak bener, saya ucapkan ke dia,"

Saat anaknya tidak mau mengaku, Mui Ha semakin ganas menyiksanya.

"Pertama, saya gigit kupingnya sampai berdarah. Walaupun dia sudah minta ampun, tetap aja dia saya pukul. Sambil pukul, sambil membayangi muka wajah mama saya".

Sejak lahir, Mui ha tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kehadirannya selalu ditolak oleh ibu kandungnya.

"Kalau saya panggil dia mama, dia tidak pernah nyahutin. Kalau saya dekatin, dia selalu dorong. Saya gak pernah diberi kesempatan dekatin dia, apalagi kalau saya sakit panas atau apa, mama selalu bilang begini, "kamu sakit itu kamu sendiri yang mau. Mati aja, ga pa pa. Lo anak yang lebih. Kalau gw ga ngelahirin lo, ga suka begini," Pas lahirin saya, mama terus sering sakit, kena musibah" kata Mui Ha sambil menahan tangis.

Beranjak remaja, hidup Mui Ha sedikit pun berubah. Seringkali dia dipersalahkan untuk hal yang tidak ia lakukan.

Suatu waktu, adik Mui Ha menangis karena menginginkan kue. Mendengar tangisan, kakak Mui Ha langsung mendatanginya dan menampar hingga pipinya berdarah. Tanpa terlihat iba, kakak Mui Ha menyuruh dirinya untuk mengkumur-kumur bibirnya yang berdarah dengan air garam agar darahnya berhenti. Ia pun menuruti perintah tersebut.

Penderitaan Mui belumlah selesai. Ketika ia membantu adiknya yang sedang terjerumus ke sungai, Mui Ha malah dimarahi oleh kakaknya sendiri yang tidak jauh dari situ. Bahkan saat mamanya sampai di tempat dimana dia dan saudarinya sedang bermain, ibu Mui Ha langsung marah-marah melihat kondisi adik Mui Ha yang penuh lumpur.

Tanpa basa-basi, sang ibu pun langsung menghajar dirinya. Tangisan dirinya, tidak membuat mamanya diam atau mengurangi pukulannya. Malah, saat dirinya minta ampun, malah kata-kata yang kurang pantas keluar dari mamanya sambil terus memukul dirinya yang sudah menderita.

Namun, siksaan yang diterima Mui Ha dari ibunya semakin hari semakin parah dan merajalela. Bahkan, di depan mata ayahnya, sang ibu tega memukul dirinya tanpa alasan.

"Memang saya mandi di sungai agak lamaan karena saya mencari ikan untuk lauk buat makan. Jadi mungkin karena kelamaan atau apa, saya juga tidak tahu. Saya udah naik dari sungai, saya masuk ke dapur tahu-tahu dari belakang mama tarik rambut saya, dijenggut langsung dipukul, dihajar dengan kayu sebesar batang senter sampai diri saya terkencing-kencing disitu. Papa yang melihat hal itu, hanya merangkul saya," ujarnya. "Melihat diri saya dirangkul papa, mama malah bertambah kasar. Papa pun segera keluar dari situ dan tidak berapa lama kemudian datang membawa golok. Bukannya takut, malah perkataan mama semakin menyakitkan dan berkata kepada papa agar membawa saya pergi dari rumah mereka," lanjut Mui Ha.

Kebencian Mui Ha terhadap ibunya sudah memuncak, sebuah tindakan gila menantang sang ibu siap ia lakukan.

"Saya bilang, "awas lho ma. Kalau saya sudah jadi orang kuat, saya akan bunuh mama di depan papa. Dan kalau mama mati, saya tidak akan tangisin mama."

Mui Ha tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan hancur di tangan ibunya sendiri. Hatinya tidak kuat menahan rasa sedih di dalam batinnya. Rasa sesal hadir di dunia ini pun menyelimuti dirinya. Tanpa sadar, masa lalunya itu pun terus mengikat dirinya sampai ia menikah dan mempunyai anak.

Perlakuan kasar Mui Ha terhadap salah seorang putrinya merupakan hasil masa lalu yang terus ia ingat. Elis, putri dari Mui Ha yang sering kali mendapat perlakuan kasar mengaku sedih atas tindakan masa lalu mamanya kepadanya ketika itu.

"Kok mama bisa begini? Kenapa Elis gak lahir di keluarga yang beda, jangan di keluarga yang seperti ini," ungkap Elis sambil menahan tangis.

Dendam telah membuat Mui Ha menjadi sosok yang kejam sama seperti ibunya, namun hati kecilnya menjerit, ia tidak pernah mau hidup seperti ibunya.

"Saya gak bisa lepas kekerasan saya walaupun sebenarnya saya menyesal dengan apa saya lakukan. Selalu saya tonjok dada saya sendiri dan kepala saya, saya jedotin ke tembok. Gak bisa hilangin emosi, tetapi gak bisa. Saya merasa tidak menemukan jalan keluar untuk masalah saya ini," kisah Mui Ha.

Tak ada yang mampu mengubah sifat keras Mui Ha, sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang teman. Kepada wanita tersebut, Mui Ha menceritakan rahasia hidupnya. Dalam pembicaraan tersebut, temannya memberikan saran kepadanya agar dia bisa mengubah perilaku terhadap putrinya. Namun, itu tidaklah belum bisa mengubah sifatnya yang keras.

Dua hari kemudian, Mui Ha dibawa ke dalam sebuah pertemuan yang nantinya akan menjungkir balikkan hidupnya.

"Dari situ, saya dengar setiap khotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan yang berdiri di depan mimbar. Sampai ada satu ayat yang begitu me-rhema di hati saya yakni di Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Tetapi, ayat itu seperti bertolak belakang dengan kenyataanya saat ini. Di mata orang tua saya, saya bukanlah orang berharga; di mata suami, saya tidak berharga karena saya orang gila."

Saat itu juga, Mui Ha ditantang untuk mengampuni ibunya. Bayang-bayang kekejaman sang ibu sangat melekat di ingatannya. Masih segar di ingatan Mui Ha, saat terakhir ibu menangis di sisinya. Tidak ada rasa iba yang ditunjukkannya kepada sang ibu ketika itu bahkan harapan akan kematian cepat dari ibunya itulah yang diinginkannya.

Kuasa Tuhan dalam pertemuan itu begitu kuat. Walaupun begitu, perjuangan Mui Ha melepaskan pengampuan kepada orang-orang terdekatnya tidaklah mudah.

"Pembimbing saya bilang, kamu bisa, kamu pasti bisa katanya. Kamu panggil Tuhan Yesus. Ya sudah saya panggil, Tuhan Yesus bantu saya Tuhan, sanggupkan saya untuk bisa mengampuni mama saya. Ketika saya berteriak Tuhan Yesus yang ketiga kalinya, saya melihat ada layar putih yang terbuka dan terdengar suara bisikan yang mengatakan bahwa saya pasti bisa mengampuni mama saya. Saya pun taat dengan suara Tuhan dan saat itu saya mengambil keputusan untuk mengampuni mama saya. Saya tahu saya telah ditebus oleh Tuhan dan hidup saya berharga di hadapan-Nya "

Kata-kata pengampunan itu telah mencabut setiap akar pahit dari hati Mui Ha. Satu pengakuan tulus keluar dari hatinya.

"Saya minta ampun sama Tuhan karena selama ini dendam sama mama, suami, saudara, sama anak. Saya gak tahu mengapa perasaan dendam itu begitu dalam dan berat, tetapi waktu saya pertama kali mengampuni mama, saya merasakan kelegaan,"

Hari itu juga, Mui Ha memberanikan diri memohon maaf kepada kedua anaknya. Tangisan dan pelukan diantara mereka menjadi sebuah awal hubungan yang baru di antara mereka. Anak-anak Mui Ha pun mengaku bahwa mereka sudah lama mengampuni setiap kelakuan dari dirinya.

Mui Ha yang telah bertahun-tahun menyiksa darah dagingnya sendiri kini telah berubah total menjadi seorang ibu yang penuh dengan kasih. Dirinya mengaku begitu mengucap syukur dengan perubahan yang sekarang dia alami di dalam Tuhan Yesus.

"Saya senang sekali, senang sekali dan selalu tidak pernah habis-habisnya selalu mengucap syukur," ungkap Mui Ha menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 31 Agustus 2009 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian:

Phang Mui Ha dalam www.jawaban.com

Kegunaan Garam

Kita semua tahu bahwa manfaat garam sangat erat hubungannya dengan kesehatan, khususnya dalam membasmi kuman. Namun garam juga sangat kental bersahabat dengan para koki, baik di rumah-rumah makan maupun di dapur pribadi sebagai pengasin makanan.

Tetapi tahukah anda ia juga punya banyak manfaat lain berkenaan dengan berbagai aktivitas yang kita lakukan di dapur ?

Berikut kegunaan garam dalam aktivitas dapur kita :

Telur ayam yang retak bila direbus, akan keluar putih telurnya. Tetapi bila telur retak ini direbus dalam air garam, maka putih telur tidak akan mengalir keluar.

Daun pada sayur mayur sering masih ada ulatnya, membersihkannya agak repot. Bila sayur mayur itu direndam sebentar dulu dalam air garam, maka akan mudah membersihkannya.

Mencabut bulu bebek, bila dalam air mendidih diberi sedikit garam, dapat mencegah tercabiknya kulit bebek dari siraman air mendidih.

Pada pokoknya sayur pare, lobak atau sayuran lain yang mengandung rasa pahit dan sepet, setelah dipotong lalu direndam dalam air dengan sedikit garam kemudian ditiriskan, maka dapat mengurangi rasa pahit dan sepet tadi.

Ikan segar bila dicuci dengan air garam, maka bisa menghilangkan bau tanah, sehingga terasa lebih segar.

Bagian dalam dan luar dari ikan yang tidak segar, bila dilumuri garam secara merata, lalu didiamkan sesaat baru di tim atau digoreng, maka rasanya akan kembali segar.

Sebelum menggoreng ikan atau memasak makanan lainnya; bila pada wajan diberi sedikit garam, maka minyak tidak akan memercik keluar wajan.

Waktu membuat roti Mantou bila diberi sedikit garam, maka mantou yang dikukus jadi empuk dan mengembang (berongga).

Jika akan menyimpan cuka dalam waktu lama, maka dalam cuka kita beri sedikit garam agar pada permukaan cuka tidak timbul lapisan.

Barang pecah belah yang baru dibeli, bila sebelum digunakan kita rebus dahulu dengan air garam maka jika kena dingin tidak akan mudah retak.

Terong setelah diasinkan dengan garam selama 10 menit, selain menghemat minyak, juga enak rasanya.

Sumber : www.erabaru.or.id

Pertobatan Wanita Penjudi Berat

Puluhan juta rupiah ia hamburkan begitu saja, tak ada lagi yang lebih menggairahkan bagi A Liang selain judi.

"Jika malam-malam ketika suami tidur, saya tidak takut untuk pergi sendiri. Dalam seminggu itu bisa 4 atau 5 kali... Dan saya memegang banyak uang," ungkap A Liang.

Bukan hanya uang, bahkan keluarganya pun ia pertaruhkan demi judi yang dicintainya. "Saya sampai tidak bisa ngomong lagi. Dia bilang ‘Saya main bukan pakai uang kamu.' Udah bicara berapa kali dia tidak mau dengar, ya saya tidak bisa ngomong lagi," kisah suami A Liang.

Kebiasaan buruk berjudi A Liang tersebut disebabkan karena traumatis masa lampaunya. Derita dan pahitnya hidup telah A Liang rasakan sejak ia kecil. Demi mencari uang, ia sudah bekerja semenjak masa kecilnya.

"Saya pernah dibawa oleh mama saya untuk jaga adik saya ke tempat main judinya. Mama saya judinya judi rumah tangga. Biar dikit-dikit ya, itu pun tetap sangat pengaruh untuk ekonomi. Kalau mama saya judi, menang, saya dapat makan enak. Kalau mama saya kalah berjudi, saya kena semprot, kena marah, kena pukul," kisah A Liang mengenai kebiasaan buruk ibunya yang suka berjudi.

Judi yang ibunya lakukan, terus menariknya dalam kepedihan hidup yang semakin dalam.

Sebenarnya A Liang berjanji bahwa ia tidak ingin seperti ibunya, "Saya melihat gitu, nanti kalau saya besar saya tidak boleh seperti mama. Saya harus menjagai anak-anak saya. Saya tidak boleh seperti mama saya. Anak-anak mama saya itu terlantar semua."

Tanpa A Liang sadari, ia telah menjadi sama seperti ibunya. Bahkan kecanduannya semakin menggila.

"Semuanya, fokus dan pikiran hanya ke judi. Sampai saya gak pergi kerja, pergi judi saja," ungkap A Liang.

Hutang, perlahan dan pasti mulai membelenggu hidup A Liang. Ia pun berencana untuk memperbaiki nasibnya dengan pergi ke luar Negeri. Niat baik sang kakak untuk meminjamkan uang sebagai deposit ke bank justru menjadi titik awal kehancurannya.

"Tak ada rencana, saya ambil uang dari kakak saya itu yang dititipkan ke bank. Akhirnya... saya berani untuk pakai berjudi dan habis. Jadi saya kalah 40 juta, masih ada 40 juta, dan saya ingin menang lagi. Saya berpikir kalau saya tidak menang, paling, saya bunuh diri saja. Akhirnya... Saya bukannya kalah, tapi malah menang banyak. Saya pun ingin untuk main lagi. Pikirannya saya nanti bisa menang lagi, belum cukup untuk kembalikan uang kakak saya. Tetapi akhirnya uang itu... saya kalah lagi," kisah A Liang mengenai bagaimana ia menghabiskan uang pinjaman kakaknya.

Ketakutan mulai menghantui A Liang. Melarikan diri ke sebuah tempat asing menjadi keputusannya guna menutupi rasa malu dan lari dari penagih hutang yang mencarinya.

"Saya tidak berani pulang ke rumah, saya meninggalkan anak saya. Tapi saya lari sambil main juga, ya berharap siapa tahu nanti masih bisa menang. Akhirnya saya pun tak menang, timbullah lagi niat bunuh diri lagi," kisah A Liang.

"Rasanya hidup ini tak ada artinya. Bikin malu semua saudara. Bikin susah orang tua, bikin susah suami. Muka mau ditaruh dimana...? Lebih baik saya bunuh diri saja," pikir A Liang.

Bagi A Liang, kematian menjadi satu-satunya jalan keluar dari semua kesalahan yang telah ia lakukan. Namun sebuah suara lembut, tiba-tiba terdengar dan menyadarkannya.

"Saya mengasihimu... Kata suara tersebut. Saya bilang, ‘Benar Tuhan, Kamu masih mengasihi saya?' Lalu saya bilang, ‘Yesus... banyak orang benci saya, banyak orang menghina saya, gara-gara kesalahan saya... Tapi Kamu masih bisa mengasihi saya.' Tuhan menyuruh saya pulang... ‘Pulang kepada suamimu, akan kubereskan semua hutang-hutangmu. Percaya saja.' Satu suara itu terus di telinga saya. Aku mengasihimu. Pulanglah... pada suamimu," kisah A Liang bagaimana Tuhan berbicara langsung kepada dirinya untuk menjadi kuat dan kembali pada keluarganya.

Akhirnya A Liang pun percaya. Ia pun memberanikan diri menelepon suaminya.

"Saya takut untuk menelepon suami saya. Saya tidak berani, takut rasanya," ungkap A Liang.

A Liang pun memberanikan melangkahkan kakinya ke rumah. Tetapi kenikmatan judi tidak semudah itu melepaskan A Liang. Hingga sebuah pernyataan dari sebuah buku yang A Liang baca, kembali menyadarkan A Liang atas semua kesalahannya.

"Saya baca Firman Tuhan dan saya temukan bahwa Tuhan itu mengasihi, mengasihi semua anak-anakNya. Tapi Tuhan tak mau dipermainkan, kata dalam Firman itu. Seringkali saya membaca Firman Tuhan itu, selalu tersentuh hati saya. Jadi, saya tidak mau main-main lagi sama Tuhan. Saya harus membereskan semuanya," kisah A Liang.

Maka A Liang pun berusaha untuk tidak judi lagi.

"Semenjak tahun 2003 sampai sekarang, saya tidak bermain judi lagi. Judi, buntut, apapun saya tidak main judi lagi," kisah A Liang.

A Liang telah terlepas dari judi yang mengikatnya selama bertahun-tahun. Satu demi satu hutangnya pun telah ia lunasi dan kebahagiaan telah kembali dalam keluarga ini.

"Kalau kepingin kaya, itu tidak salah. Tapi kalau pingin kaya dari berjudi, itu tidak mungkin," ujar A Liang.

"Rumah tangga saya sudah mau hancur-hancur, Tuhan sudah pulihkan. Keuangan saya, Tuhan juga sudah pulihkan. Tak ada satu manusiapun bisa memberi saya damai sejahtera, hanya Tuhan Yesus," tambah A Liang. (Kisah ini ditayangkan 2 September 2009 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian:
A Liang dalam www.jawaban.com