Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Ibu Guru Terbaik

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Enam belas tahun yang lalu, ada seorang ibu guru bernama Theresia berdiri di depan murid-murid kelas lima, sambil mengucapkan suatu kebohongan kepada murid-muridnya, dia mengatakan bahwa dia akan mencintai setiap anak didiknya tanpa pilih kasih!

Tetapi hal tersebut hanyalah ucapan belaka, karena di baris yang paling depan duduk seorang siswa bernama Teddy Sidharta. Seorang siswa yang dekil dan tidak rapi serta tidak perhatian di saat pelajaran.

Sesungguhnya ibu guru Theresia sangat senang jika bisa menggunakan pena merah besarnya untuk membubuhkan coretan silang besar di atas kertas ujian Teddy. Kemudian di sebelah atas dari kertas ujian itu ia tulis dengan kalimat ‘TIDAK LULUS’.

Suatu hari, ketika ibu guru Theresia sedang membaca dan memeriksa buku catatan dan saran-saran setiap murid. Dia merasa sangat takjub terhadap komentar-komentar yang telah diberikan oleh para wali kelas Teddy sebelumnya.

Komentar dari guru wali kelas satu: “Teddy adalah anak yang pandai, raut wajahnya selalu membawa senyuman, pekerjaan rumahnya sangat rapi, sangat berbudi bahasa, dia membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi senang!”

Komentar yang ditulis oleh guru wali kelas dua berbunyi: “Teddy adalah siswa yang terbaik. Teman-teman sekelasnya sangat menyukai dirinya. Tetapi ibu Teddy terjangkit penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kehidupan yang harus dia jalani di rumah dapat dipastikan sangatlah sulit.

Guru wali kelas tiga berkomentar: “Kematian ibunya telah memberikan pukulan yang sangat berat bagi Teddy. Dia berupaya keras menunjukkannya, akan tetapi ayahnya tidak terlalu memperhatikannya. Jika tidak mengambil suatu tindakan, maka kehidupan dalam keluarga akan segera mempengaruhinya.


Guru wali kelas empat menulis: “Teddy mulai mengalami kemunduran. Dia tidak berminat sekolah. Dia tidak memiliki teman lagi. Sering kali tidur di dalam kelas.

Sampai di sini, ibu guru Theresia, wali kelas Teddy, baru mengerti duduk permasalahannya. Dia merasa sangat malu sekali. Yang lebih membuat ibu guru Theresia merasa sedih adalah, pada saat perayaan hari Natal, dia telah menerima bingkisan hadiah natal dari para muridnya yang dibungkus dan diikat dengan pita yang sangat indah, kecuali bingkisan hadiah natal dari Teddy yang terbungkus kertas coklat biasa yang dibeli dari toko kelontong dan diikat dengan tali rafia.

Ibu guru Theresia menahan kesedihan dalam hatinya, membuka hadiah bingkisan Teddy di depan teman-teman seluruh kelas. Bungkusan itu ternyata berisi seutas gelang tangan dengan hiasan berlian palsu, dan di atas gelang tangan itu masih terdapat beberapa batu berlian yang tanggal. Selain itu masih ada sebotol minyak wangi yang hanya tinggal seperempat botol saja.

Ada sebagian murid mulai mengejek bingkisan hadiah dari Teddy. Tetapi ibu guru Theresia tidak hanya memuji keindahan gelang tangan itu, dia juga mengenakan gelang tersebut di tangannya, serta menyemprotkan sedikit minyak wangi di atas pergelangan tangannya.

Hari itu setelah usai sekolah, Teddy tidak segera pulang, dia tinggal paling akhir dan berkata kepada ibu guru Theresia, “Ibu guru, hari ini Anda harum persis seperti ibu saya!”

Menunggu setelah Teddy pergi, ibu guru Theresia menangis hampir satu jam lamanya. Sejak saat itu, ibu guru Theresia tidak lagi ‘mengajar’. Dia tidak mengajar pelajaran membaca, tidak mengajar pelajaran menulis, juga tidak mengajar pelajaran berhitung, akan tetapi dia mulai mengajarkan pelajaran cara-cara mendidik anak.

Ibu guru Theresia mulai memperhatikan Teddy secara khusus. Sepertinya Teddy telah bangkit kembali dari keterpurukan. Ibu guru Theresia semakin menyemangati Teddy, reaksinya semakin cepat. Sampai pada akhir tahun ajaran, Teddy sudah menjadi salah satu anak yang paling pandai di dalam kelas. Walaupun ibu guru Theresia berkata dia akan menyayangi setiap anak asuh dengan sama rata, namun Teddy adalah murid yang paling dia sayangi.

Satu tahun kemudian, ibu guru Theresia menemukan secarik kertas di pinggir pintu, tulisan dari Teddy. Kertas itu mengatakan, ibu guru Theresia adalah ibu guru terbaik yang pernah dia temui selama hidupnya!

Enam tahun kemudian, ibu guru Theresia menerima lagi secarik kertas tulisan dari Teddy. Dia mengatakan bahwa dia sudah lulus SMA, nilai rapornya rangking tiga dari seluruh kelas. Dan ibu guru Theresia masih tetap adalah ibu guru terbaik yang pernah dia jumpai selama hidupnya!

Setelah lewat empat tahun, ibu guru Theresia menerima lagi surat dari Teddy, dia mengatakan bahwa kehidupan di dalam kampus sangat sulit, tetapi dia masih tetap mempertahankan. Dan tidak lama lagi dia akan lulus dengan mendapatkan gelar sarjana terbaik dari universitasnya, dan ibu guru Theresia masih tetap guru yang terbaik yang pernah dia jumpai selama hidupnya, juga merupakan ibu guru yang paling dia sayangi.

Lewat empat tahun kemudian, datang sepucuk surat lagi. Kali ini Teddy memberitahukan bahwa setelah lulus dari universitas, ia akan melanjutkan sekolah untuk mengambil gelar yang lebih tinggi. Dalam suratnya tak lupa dia menuliskan ibu guru Theresia masih tetap adalah ibu guru yang terbaik dan paling dia sayangi selama hidupnya. Pada bubuhan tanda tangan pada akhir surat ini terdapat tulisan yang lebih panjang yaitu : Doktor dokter Teddy Sidharta.

Sampai di sini kisahnya masih belum habis. Coba Anda lihat, pada musim semi tahun ini, datang lagi sepucuk surat. Teddy mengatakan dia telah menjumpai wanita pendamping hidupnya, dia akan menikah. Dia menjelaskan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, oleh karena itu dia berharap ibu guru Theresia mau menghadiri upacara pernikahannya, serta bersedia duduk di tempat yang disediakan bagi ibu dari mempelai pria.

Ibu guru Theresia mengabulkan harapan Teddy. Akan tetapi tahukah Anda? Di dalam upacara pernikahan itu, di luar dugaan Teddy, sang ibu guru Theresia mengenakan gelang tangan yang berhiaskan berlian palsu dan menyemprotkan minyak wangi yang diberikan Teddy pada saat perayaan Natal enam belas tahun yang lalu. Dalam ingatan Teddy, minyak wangi tersebut adalah yang dipakai ibunya pada saat perayaan Natal terakhir bersamanya.

Di saat mereka saling berpelukan, Doktor dokter Teddy Sidharta membisikan dengan lirih di pinggir telinga ibu guru Theresia, ”Ibu Theresia, terima kasih Anda telah mempercayai saya. Terima kasih Anda telah membuat saya merasakan pentingnya diri sendiri, membuat saya yakin memiliki kemampuan untuk berubah!”

Dengan berlinangan air mata ibu guru Theresia juga berkata lirih, “Teddy, dirimu keliru! Adalah dirimu sendiri yang telah membimbing ibu, membuat ibu yakin memiliki kemampuan untuk berubah. Karena pada saat ibu menjumpai dirimu, ibu baru mengerti bagaimana harus mengajar!” (The Epoch Times/lin)

Sumber : era baru news - www.erabaru.or.id

Comments

No responses to “Ibu Guru Terbaik”

Poskan Komentar