Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Tuhan Mengajari Aku Untuk Menabur

"Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya" (2 Timotius 2 : 4)

Seringkali uang bisa menjadi permasalahan buat setiap kita. Beberapa waktu lalu aku belajar tentang hal keuangan dimana Tuhan ajarkan aku untuk mempunyai hati yang penuh belas kasihan. Pelajaran ini kualami saat aku dan kedua rekan di sekolah mingguku melayani sebuah persekutuan untuk anak-anak.

Kedua temanku ini benar-benar luar biasa sekali. Yang lebih tua dariku adalah seorang pemimpin yang luar biasa dan takut akan Tuhan, mempunyai pekerjaan yang sukses, dan kehidupan yang berkelimpahan. Sedangkan temanku yang satunya itu jauh lebih muda dariku, lulusan SMP, keluarganya sangat sederhana sekali, bekerja serabutan dengan gaji yang sangat pas dan mungkin bisa dibilang kurang karena ia juga harus menanggung kebutuhan keluarganya. Namun anak ini benar-benar setia, luar biasa, dan tekun melayani Tuhan di sekolah minggu.

Malam setelah persekutuan anak selesai, kami kemudian melanjutkan acara makan malam di sebuah warung nasi ayam dan sekaligus minum wedang ronde bersama. Di tengah keasyikan kami menyantap makanan, teman saya itu bertanya tentang apa akibatnya kalau kaki terkilir dibiarkan dan tidak diobati. Tentu saja saya menjawab kalau hal seperti itu dibiarkan bisa membahayakan juga. Namun pertanyaan itu sedikit menimbulkan tanda tanya di hatiku dan kemudian aku balik bertanya tentang keadaan kaki temanku itu. Benar sekali, ternyata kaki temanku ini terkilir pada waktu mendampingi acara retret anak-anak sekitar 3 bulan kemarin.

Saya benar-benar sedih dan tidak percaya bahwa teman saya itu ternyata selama ini menahan sakit akibat kakinya terkilir dan tidak mempunyai uang untuk mengobatinya. Teman saya itu hanya tersenyum dan berkata bahwa hal itu sudah biasa dan mungkin nanti bisa sembuh sendiri. Sejenak saya berhenti makan dan Tuhan tanamkan dalam hatiku tentang menabur. Di dompet saya pun sebenarnya tidak punya banyak uang karena saya juga harus menanggung kehidupan keluarga. Kebetulan uang di dompet saya saat itu akan saya pergunakan untuk keperluan yang lumayan penting. Di tengah pergumulan saya itu, setiap kali saya melihat senyum teman saya itu, hati saya menjadi cair dimana saya melihat kebaikan Tuhan atas anak itu.

Akhirnya kami selesai makan, dan sebelum kami berpencar pulang ke rumah masin-masing,aku memanggil temanku itu, dan memberikan selembar uang untuknya agar dia bisa berobat. Saat itu aku benar-benar belajar tentang masalah keuangan dimana Tuhan berikan aku kesempatan untuk menabur. Mungkin jumlah yang saya berikan itu sangat kecil, namun bagi teman saya itu ternyata cukup untuk bisa dipakai berobat ke ahli pijat agar kakinya bisa sembuh seperti semula. Keperluan saya pun melayang karena tidak mempunyai uang untuk memberlinya. Namun di hati, saya benar-benar bersyukur mempunyai teman seperti itu dimana dia belajar setia di tengah kondisi apapun. Seperti seorang pasukan yang tidak menghiraukan masalah pribadinya, dia berjuang dan melakukan yang terbaik sesuai perintah dari komandannya tanpa pernah mengeluh.

2 bulan berlalu dari tanggal itu, dan hari ini saya tersenyum karena kebaikan Tuhan. Bulan Juli kemarin ternyata HRD saya sedikit salah persepsi mengenai besarnya gaji bulanan yang saya diterima dikarenakan dalam bulan Juni saya banyak keluar kota dan jarang di kantor. Saya pun tidak pernah protes dan tidak melihat jumlah yang saya terima. Namun ternyata, di akhir Juli ini saya menerima gaji dimanan jumlahnya sangat melebihi apa yang saya terima di bulan Juni kemarin. Dan tidak lama setelah itu, HRD saya mendatangi saya dan mengatakan bahwa ada sedikit kesalahan kemarin dan kekurangan gaji saya tersebut sudah ditambahkan langsung di bulan Juli ini.

Wao...luar biasa sekali. Tambahan uang itu jumlahnya berllipat-lipat dari apa yang saya tabur kepada teman saya itu. Tepat pada waktunya dan tak pernah terlambat pertolongan Tuhan itu.

Hati yang penuh belas kasihan adalah awal dimana kita menerima mukjizat besar dari Tuhan. Lakukan dan jangan tunda apa yang Tuhan mau dalam hidup kita.

Comments

No responses to “Tuhan Mengajari Aku Untuk Menabur”

Poskan Komentar