Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Kejar Dia

Pernahkah Anda mendengar kisah dongeng tentang seorang putri dengan kostum baja?

Yah, Anda tahu ceritanya, dia menyeberangi lautan, membunuh naga, dan menyelamatkan pria yang dia cintai...

Tunggu... Anda tidak pernah mendengar dongeng seperti itu?

Saya juga tidak...

Mengapa? Karena kisah dongeng selalu terjadi sebaliknya. Pria yang berjuang untuk wanita. Dia mengambil resiko, dia berperang melawan musuh yang jahat. Dia yang mengejar dan berusaha mendapatkan hati wanita.

Sekarang saya menyadari bahwa semua kisah dongeng itu hampir sama, mungkin sedikit menonjolkan perbedaan gender. Tapi semua kisah itu mengandung suatu kebenaran. Dongeng-dongeng yang kita dengar saat kita masih kecil merupakan cerminan dari harapan terdalam setiap pria dan wanita. Artikel ini memang bukan tentang dongeng. Saya hanya menjadikan mereka sebagai contoh untuk menyoroti apa yang saya lihat sebagai masalah yang sedang berkembang di dalam gereja: para pria Kristen tidak dapat (atau tidak mau) untuk secara aktif berusaha menemukan dan menjalin hubungan dengan pasangan yang potensial. Daripada duduk di atas pelana kuda dan mulai berjuang, kebanyakan pria tampak menunggu di menara, menunggu putri-putri berjuang untuk mereka.

Jika itu Anda, saya mempunyai saran yang sangat masuk akal, ini sudah waktunya bagi pria untuk berdiri dan mengambil pimpinan dalam area percintaan. Dan jangan bersembunyi di balik alasan "menjaga kekudusan". Jika Anda bertemu wanita yang tepat, berusahalah mengenal lebih dekat dan menjalin hubungan dengannya.

Biarkan saya menjelaskan.

Baru-baru ini saya berbicara dengan seorang wanita lajang Kristen yang sangat menarik. Dia bertanya, "Apa yang dipikirkan oleh pada pria Kristen? Mereka tidak pernah berusaha mendekati atau menjalin hubungan!" Dia menerima banyak perhatian dari para pria di luar gereja. Tapi pria-pria di dalam gereja terlihat rapuh dan takut untuk berusaha menjadi lebih dari sekedar teman biasa baginya.

Beberapa minggu lalu saya menerima email dari seorang pria muda yang meminta saran. Pertanyaannya memperkuat keluhan yang sering saya dengar dari gender sebaliknya. Dia menanyakan hal-hal seperti: Haruskah dia berkencan dengan seorang gadis dari gereja? Jika iya, bagaimana dia bisa yakin bahwa dia ke gereja untuk Tuhan dan bukan untuk gadis-gadis? Dan bagaimana jika usaha pendekatan itu tidak berhasil? Apakah dia akan dapat melaluinya? Pemikiran-pemikiran yang terlalu berlebihan...

Itu memang hanya 2 contoh, tapi cukup mewakili trend yang lebih besar. Dalam buku terbarunya "Where Have All The Good Men Gone?" A.J. Kiesling melaporkan penemuannya dari hasil survei 120 wanita lajang Kristen. Apa yang paling mereka keluhkan tentang para pria? Kiesling berkata, "Berkali-kali saya mendengar jawaban, ‘Saya ingin para pria melangkah dan berani mengambil resiko untuk mengajak saya keluar.'"

Ini adalah tanggapan yang Kiesling dapatkan dari para wanita lajang tentang pria Kristen:

"Tuhan tidak menciptakan Anda untuk menjadi pasif. Mengejar dan berjuang mungkin terkesan kuno, tapi kami masih ingin dikejar."

"Sepertinya para pria tidak mau mengambil resiko untuk mengajak seorang wanita keluar, sejak mereka tidak perlu lagi melakukannya. Karena ada banyak wanita yang akan mengejar mereka, tapi itu bukan saya. Saya ingin pria-lah yang mengejar saya."

"Berhentilah berkata, ‘Saya sedang menunggu Tuhan untuk membawakan kepada saya pasangan hidup saya' Bersikap jujurlah, Anda ketakutan, dan Anda takut disakiti karena ditolak!"

Jadi mengapa para pria Kristen tidak mulai mengambil langkah? Ada apa di balik trend ini? Saya pikir mungkin ada beberapa faktor:

Pertama, budaya yang sedang meningkat saat ini mengatakan pada para pria bahwa wanita mempunyai tanggung jawab yang sama dalam hal menginisiasikan sebuah hubungan. Hari-hari ini para wanita didorong untuk menjadi lebih agresif. Tapi walaupun pandangan budaya seperti itu digembar-gemborkan dalam pendidikan yang lebih tinggi dan melalui media, biasanya tidak berlaku sepenuhnya di dunia nyata, dimana wanita masih menghargai pria yang mempunyai keberanian untuk membuat langkah pertama. Memang ada beberapa cara bagi wanita untuk mendorong pria agar mengambil inisiatif pertama, tapi itu lain topik.

Faktor kedua bahkan lebih mengena pada kebanyakan pria Kristen. Penekanan yang berlebihan pada sisi rohani juga dapat mencegah terbentuknya atau dimulainya suatu hubungan. Saya telah bertemu dengan banyak pria Kristen yang menyamakan kepasifan dalam area ini dengan superioritas rohani. Dalam kasus-kasus semacam ini, pemikiran mereka mungkin seperti ini: "Jika saya menunggu dan berdoa dengan sabar, Tuhan akan menjatuhkan seorang wanita tepat ke pangkuan saya."

Para pria yang mempunyai pemikiran seperti itu mungkin bisa menngambil nasehat dari kakek saya yang berusia 88 tahun. Dia mungkin tidak terlihat sebagai sumber yang tepat untuk mendapatkan nasehat tentang hubungan romantis, tapi dia telah memberi saya nasehat selama masa lajang saya, yang saya pikir perlu juga untuk diperhatikan para pria itu. Kakek saya dulunya adalah seorang pastor. Kebanyakan waktunya dia habiskan untuk berdoa dengan Alkitab yang terbuka di pangkuannya. Saat dia membicarakan topik tentang wanita dengan saya, saya tidak yakin tentang apa yang akan dia katakan. Apakah dia akan menyuruh saya berhati-hati? Menjaga kekudusan?

Tapi dia menunjukkan ayat yang saya tahu, Amsal 18:22: "Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Tuhan." ("He who finds a wife finds what is good and receives favor from the Lord")

Saya tahu bahwa menemukan seorang istri adalah hal yang baik. Apakah ini hanya sindirannya saja karena saya masih lajang?

Tidak, dia menunjukkan bahwa ayat itu menyatakan secara tidak langsung bahwa saya mempunyai tanggung jawab untuk membuatnya terjadi.

Dia menunjukkan satu kata itu, "find" tunjuknya. "Itu kata kerja..."

Saya belajar darinya.

Ketika saya bertemu dengan calon istri saya, saya tahu adalah tanggung jawab saya untuk mengambil inisiatif dalam hubungan itu, meskipun saya merasa sangat takut untuk mengambil langkah pertama. Saya masih ingat pertama kali saya datang ke rumahnya dengan membawa bunga di tangan yang gemetar. Saya percaya pria bertanggung jawab untuk berinisiatif dalam hubungan. Tapi pernyataan itu juga mempunyai sisi lain. Meskipun adalah tugas pria untuk mengejar dan berinisiatif, tapi tetap tidak meniadakan peranan Tuhan. Tuhan tetap adalah Pemrakarsa terbaik. Kita tidak seharusnya terburu-buru masuk ke dalam suatu hubungan dengan tidak mengindahkan pimpinan dari Roh Kudus. Kita maju hanya setelah doa dan pertimbangan yang hati-hati.

Sangat penting bagi kita untuk menjadi lebih peka dalam membaca sinyal dari wanita. Para wanita ingin kita bersikap proaktif, tapi jika perasaan tidak saling berbalas, sikap agresif tidaklah tepat, itu justru menyeramkan. Jika semua tindakan-tindakan pendekatan yang Anda lakukan direspon dengan dingin, jangan terus berjuang maju. Terus maju akan membuat dia semakin membangun benteng, bukan meluluhkannya. Mundurlah dan bersikaplah sebagai seorang saudara pria. Sekali Anda menunjukkan niat Anda dengan jelas kepadanya, bola ada di tangannya. Dia akan memberitahu Anda jika perasaannya berubah.

Tapi jika Anda salah satu dari banyak pria yang hanya duduk di balik pagar, terlalu takut atau terlalu berpikiran "rohani" untuk mengejar seorang wanita, mungkin ini waktunya untuk bangkit dan melakukan sesuatu. Saya tahu mengambil resiko itu terasa menakutkan. Tapi seringkali proses atau perjalanan yang paling menyenangkan itu dimulai dengan langkah-langkah yang tidak mudah dan kebimbangan. Tuhan menciptakan Anda untuk menjadi pengejar.

Jadi lain kali jika Tuhan mempertemukan Anda dengan seorang wanita Kristen yang menarik, jangan hanya duduk dan memainkan jari Anda. Karena cinta bisa saja melewati dan meninggalkan Anda!

Sumber : www.jawaban.com

Comments

No responses to “Kejar Dia”

Poskan Komentar