Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

8 Prinsip Praktis Jadi Orangtua Sukses

Untuk menjadi sepasang teman atau kekasih yang saling menyayangi, mungkin tidak begitu sulit bagi pasangan suami istri. Namun untuk menjadi orang tua yang berhasil, dibutuhkan kemampuan mengatur hubungan kerjasama dan kesetaraan yang kompak, yang kerap sangat sulit dan memerlukan perlakuan khusus. Pasalnya hadir anak-anak di tengah kehidupan pasangan suami istri.

Pasangan suami istri harus bekerja ekstra berat untuk bisa menjadi orang tua yang kompak. Perbedaan latar belakang dan sifat akan mempengaruhi sikap pasangan suami istri menerapkan pola pengasuhan anak. Masing-masing pasangan akan ‘mengklaim' pola pengasuhan merekalah yang terbaik.

Perbedaan ini manakala tidak dikomunikasikan dengan baik, justru akan menimbulkan persoalan serius bagi hubungan suami istri, atau hubungan mereka dengan anak-anak. Apalagi dewasa ini semakin banyak istri memasuki lapangan kerja sebagai pencari nafkah utama keluarga atau sekedar mendukung pendapatan suami.

Kondisi ini tentu saja ‘mengharuskan' kaum suami lebih bijak menerima kondisi tersebut. Bahkan kalau perlu seorang suami mengambil cuti untuk menjaga anak-anak di rumah, masuk dapur dan mesin cuci, ketika istri bepergian ke luar kota untuk urusan kantor. Tentu saja kehidupan seperti ini di tengah nilai-nilai ketimuran yang mengedepankan budaya patriarkhi, bisa melahirkan konflik-konflik terbuka maupun tersembunyi bagi pasangan suami istri.
Lalu, bagaimana cara terbaik untuk menghadapi persoalan-persoalan akibat adanya ‘perbedaan' sifat dan peran itu? Bagaimana pula mereka dapat membangun keluarga yang kompak dan menjadi "orang tua sukses"? Darlene Powell Hopson Ph.D, dan Derek S Hopson Ph.D, mencoba memberikan resepnya melalui kalimat-kalimat penuh makna dalam buku mereka ‘Menuju Keluarga Kompak: 8 Prinsip Menjadi Orang Tua Yang Sukses'. Keduanya adalah ahli psikologi klinis yang mengepalai Hopson Center for Psychologycal and Educational Services di Connecticut, AS.

Prinsip pertama:
Berdamai dengan masa lalu. "Saya merasa damai dan pasrah mengetahui bahwa masa lalu tidak mengontrol saya. Setiap hari saya memiliki kesempatan baru untuk berhubungan dengan penuh cinta dengan anak-anak dan keluarga saya".

Prinsip kedua:
Berdamai dengan pasangan Anda. "Saya menerima pasangan saya seperti apa adanya. Kami tidak perlu harus sependapat agar menjadi tim yang kompak. Saya akan tunjukkan rasa terima kasih saya kepada pasangan saya dan belajar untuk membina hubungan timbal balik".

Prinsip ketiga:
Komunikasi dua arah. "Saya akan mengungkapkan perasaan saya secara terbuka, jelas dan langsung sambil tetap menghormati pasangan saya. Karena saya percaya cara ini mendorong tumbuhnya dialog yang jujur, bermakna dan positif di dalam keluarga saya".

Prinsip keempat:
Akrabi lingkungan terdekat Anda. "Lingkungan saya memberi dukungan tambahan yang dibutuhkan keluarga saya dalam perjuangan hidup".

Prinsip kelima:
Arahkan perilaku anak Anda. "Saya akan bersikap jelas, tegas dan konsisten menyatakan harapan-harapan saya saat mengarahkan perilaku anak-anak. Namun anak-anak tetap merasa memiliki suara dan pilihan".

Prinsip keenam:
Memelihara hubungan persaudaraan. "Saya akan mencintai semua anak saya sebagai individu dan saya akan meluangkan waktu untuk mengatakan kepada mereka bahwa saya menghargai minat mereka".

Prinsip ketujuh:
Pengaruh teman sebaya. "Meluangkan waktu untuk mengenal teman anak-anak saya merupakan hal penting bagi saya. Dan saya akan meningkatkan hubungan saya dengan anak-anak".

Prinsip kedelapan:
Waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan. "Saya akan meluangkan waktu setiap hari untuk kegembiraan, melalui senyuman, gelitikan dan juga spiritualitas yang akan memupuk cinta kami".

Delapan prinsip yang dikemukakan dua pakar psikologi klinis itu tentu saja menjadi salah satu dasar membangun ketahanan keluarga. Bila ketahanan dalam keluarga bisa dibangun demikian solid, niscaya keluarga bersangkutan akan dengan lebih mudah menciptakan keluarga sejahtera dan berkualitas.

Sumber : www.jawaban.com

Comments

No responses to “8 Prinsip Praktis Jadi Orangtua Sukses”

Poskan Komentar