Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Istri Yang Lambat

Dalam sebuah keluarga hiduplah sepasang suami istri, Pak Pendeta dan Ibu pendeta dan anak-anak tercinta di suatu desa terpencil. Sekian lamanya mereka kelihatan hidup tentram dan bahagia sehingga tak terasa sudah sekian tahun mereka mengarungi bahtera rumah tangga, sifat dan karakter si suami sudah tak asing lagi buat si istri. Begitu pula halnya sang suami, sifat dan karakter istrinya sudah melekat erat dalam dirinya. Si suami merasa bersyukur sekali memiliki istri seorang pendeta dan si istri juga sangat bersyukur sekali punya suami seorang pendeta pula.


Suatu hari mereka diundang dari gereja Resort untuk mengikuti dan bertanding koor di konser terbesar gereja-gereja di Bandung, yang dikuti oleh para pendete-pendeta seluruh gereja. dan disediakan jemputan bagi daerah-daerah yang jauh (terpencil) dengan bus besar, dengan syarat, untuk daerah B harus menunggu jam sekian, di simpang B, dengan catatan siapa yang terlambat akan ditinggal, karena bus akan melaju dengan cepat dan kebetulan untuk daerah Pak Pendeta harus menunggu tepat jam 4 sore di simpang A karena acara akan dimulai jam 7 malam.

Demikianlah mereka saling mempersiapkan diri dari pagi, mulai dari baju, sepatu, tas, dasi, dan perlengkapan lainnya, sempat terbersit dalam pikiran si suami bahwa istrinya seorang yang lelet (lambat) apalagi soal berdandan bisa sampe berjam-jam lamanya. Dan suaminya berkata kepada istrinya, "Ma, ingat kita harus berangkat jam setengah 4, karena busnya akan datang jam 4, mama harus persiapkan semuanya, kalau perlu ke salon, mbok ya sekarang aja, biar ndak telat,” tapi sang istri dengan manis dan bangganya berkata, “Ndak perlu ke salon, wong dari dulu mama dandanan sendiri , kok papa ndak tau sih???”

Sambil senyum-senyum sang suami menjawab, “Bukan begitu mam, maksudnya supaya kamu keliatan lebih cantik dikit, beda dari yang sebelum-sebelumnya, inikan acara besar, apalagi nanti kita para pendeta duduknya paling depan jadi ndak malu-maluin, gitu lho”

“Mana tau pula kita menang!“, jawab si istri dengan ketus, “Jadi maksud kamu, selama ini gue ndak cantik!, jadi selama ini kamu bohong, dulu sebelum nikah bilangnya aku tercantik, seksi, jadi kamu nyesel kawin sama aku!”

Si suami kembali menjawab, “Udah deh ma, aku ndak mau berantem, inget ma kita khan pendeta udah lahir baru lagi....chik. ..chik... chik..”

Singkat cerita tibalah waktunya mereka harus berangkat, jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore, Pak Pendeta sudah bersiap-siap dan kelihatan gagah dengan jasnya, tapi alangkah terkejutnya dia ketika masuk kamar, istrinya baru berpakaian, belum lagi dandan, nyisir rambut dan sebagainya,

Suaminya berkata: dengan sedikit marah, dia berkata, “Mama cepetan kita hampir terlambat!”
Istrinya menjawab: “Sebentar pa, 5 menit lagi pasti kelar, gw khan perlu sanggulan lagi.”
Suaminya berkata lagi: “apa? sanggulan lagi? ndak perlu pake sanggul-sanggulan lah...”
Istrinya menjawab: “Tapi biar keliatan cantik dan beda dong??? Lagian telat-telat dikit ndak apalah paling juga busnya jam karetan, jam Indonesia kan molor-molor setengah jam....”

Dengan kesal suaminya menjawab, sambil keluar kamar dan berteriak, “Memang kamu dari dulu lelet, lambat, ndak pernah berubah, dari dulu ampe sekarang!”
Si istri menjawab dengan berteriak pula, "Baguslah, Tuhan Yesus aja ndak pernah berubah, dari dulu sekarang dan selamanya tau!”

Demikianlah mereka keluar rumah jam setengah lima sore, diperjalanan sisuami terus mengomel dengan istrinya..

"Kita pasti dah terlambat, dasar lelet.....lelet. ..lambat. ..lambat. .akhirnya mereka sampai disimpang... 5 menit....10menit mereka menunggu, tetapi bus tetap ndak nonggol-nongol"

Si suami sambil kesal dan marah berkata..."Pasti busnya sudah berangkat, ini semua gara-gara kamu.....makanya jadi orang jangan lambat tau!"

Dengan tak ragu lagi Pak Pendeta pergi ke wartel terdekat untuk menelpon ke kantor pusat pelayanan bus yang tertera di denah undangan konser itu.

Ternyata bus yang akan menjemput mereka sudah berangkat setengah jam yang lalu, dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kota Bandung. Putuslah harapan pak Pendeta, begitu marahnya dia sehingga dia hanya diam saja seolah enggan untuk berbicara kepada istrinya,

Istrinya mencoba menghibur suaminya dan berkata, “Pa, sabar aja, kita tetap doa mudah-mudah ada mobil atau bus yang menuju ke Bandung, kita pasti belum terlambat”

Sambil tetap menunggu, si istri tetap berdoa, “Tuhan gimana ini, kami mau memujimu berikanlah transportasi yang terbaik, kami tetap menunggu di simpang ini Tuhan, ampuni segala dosa kami....”

Belum sempat si istri mengucapkan Amin, tiba-tiba suaminya berteriak, “Ma, cepetan ma itu ada bus yang hendak ke Bandung, katanya mereka mau ikutan tanding koor juga dikonser itu.”

Secepat kilat si istri berkata dalam hati “.....terima kasih Tuhan....Amin. ....”

Lalu mereka naik ke bus itu dan sambil berbincang-bincang, rupanya rombongan yang ada di Bus ini juga ikut bertanding dalam koor nanti dari rombongan gereja lain di dekat desa mereka. Mereka mengaku bahwa mereka juga terlambat karena harus menunggu antrian lama di pom bensin. Tiba-tiba mereka dikejutkan dalam satu berita di pembicaraan telpon supir bus didepan, lalu supir itu berkata kepada para penumpang, Bus No. 412 yang berangkat ke Bandung jam 4 tadi mengalami kecelakaan jatuh kejurang yang curam, belum diketahui berapa yang tewas dan berapa yang selamat, tapi menurut beritanya, bus dalam keadaan menganaskan.

Pak Pendeta dengan tercenggang dan berkata kepada istrinya.... . "Ma, itu kan bus yang akan kita tumpangi tadi.....kok bisa ya????”

Si istri dengan sedikit kurang percaya melihat kembali undangan itu, ternyata memang benar No. 412. dan berkata kepada suaminya: " Untung pa, kita telat, kalo ndak udah tewas".

"Tidak pikir panjang lagi, pak pendeta langsung merangkul istrinya dengan lembut, seakan dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya seumur hidup. Dalam hatinya ia berdoa, Tuhan terima kasih, Engkau masih mengizinkan kami untuk bersama dalam hidup ini, masih sempat lagi untuk memujiMu, terima kasih telah memberikan istri yang terbaik bagiku, terima kasih telah memberikan istri yang lelet kepadaku, aku bersyukur segala sesuatunya telah Engkau atur, segala sesuatu yang terjadi untuk mendatangkan kebaikan, terima kasih telah membuka mataku, aku akan menjaga hatiku kemanapun aku pergi, aku tak akan menodainya, aku tak akan menyakitinya, aku tak akan meminta lebih...lebih ...lebih Tuhan.... terima kasih telah memberikan istri yang sepadan bagiku...... Amin”

(NN)

Sudahkan kita mengasihi pasangan, orang tua, teman tanpa melihat kekurangannya?

Saya percaya bahwa kita semua dimampukan Tuhan untuk hidup penuh dengan belas kasihan. Amin.

Comments

No responses to “Istri Yang Lambat”

Poskan Komentar