Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Betlehem

Betlehem (dalam bahasa Yahudi berarti rumah roti, sedang dalam bahasa Arab berarti rumah daging) terletak 5 mil jauhnya dari sebelah selatan Yerusalem dan berada di bukit dengan ketinggian tanah sekitar 2.600 kaki di atas permukaan air laut. Populasi penduduk kota Betlehem sekitar 30.000 orang. Mata pencaharian penduduk sebagian adalah bekerja pada lahan subur di bagian lembah dan sebagian lainnya membuat barang-barang keagamaan untuk para peziarah, biasanya bahannya terbuat dari kayu pohon zaitun dan kerang. Untuk industri kerang diperkenalkan di Betlehem pada masa Kstaria Perang Salib.

Sejarah Betlehem dimulai jauh di masa lampau dan direkam kembali pada masa jauh sesudahnya. Betlehem merupakan kampung halaman dari keluarga Daud. Karena alasan inilah, Yusuf yang berasal dari keturunan Daud, datang ke Betlehem untuk mendaftarkan diri. Di Betlehemlah Daud dilahirkan dan di Betlehem pula Daud menghabiskan masa kecilnya dengan menggiring kawanan dombanya di bukit-bukit hutan belantara Yudea. Di Betlehem juga Daud dipanggil dan ditahbiskan menjadi Raja Israel oleh nabi Samuel (1 Samuel 16 : 1 – 4).

Atas putusan Kaisar Agustus untuk dilakukan sensus pendaftaran terhadap seluruh provinsi yang berada dalam wilayah Kerajaan Roma, maka Yusuf yang adalah keturunan Daud pergi dari kampungnya yaitu Nazareth di Galilea ke Betlehem di Yudea bersama-sama dengan Maria tunangannya untuk didaftarkan. Ketika mereka tiba di Yudea, tibalah waktu bagi Maria untuk bersalin. Bayi kecil itu lahir dan dibungkus dengan lampin, dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (LukS 2 : 1 – 20). Itulah kejadian yang menandai masa transisi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Betlehem menjadi tempat suci dan yang selalu diingat dan dicintai di hati berjuta-juta umat Kristen.

Di Betlehem terdapat sejumlah rumah-rumah tua yang dibangun diatas gua-gua di batu-batu kapur. Gua-gua itu sudah tua dan kemungkinannya salah satu dari gua tersebut adalah tempat dimana Yesus dilahirkan. Pada 135 M, Hadrian, setelah pecahnya pemberontakan Yahudi yang kedua, mengotori Betlehem sebagaimana juga dengan Yerusalem dengan menempatkan benda-benda berhala. Di Betlehem, Hadrian mengelilingi gua tempat kelahiran Yesus dengan sebuah kuil yang dipersembahkan untuk Adonis, dewa keindahan dan cinta. Kuil Hadrian berdiri di atas gua itu selama 2 abad hingga dihancurkan oleh Ratu Helen, ibu Kaisar Constantine yang pada tahun 313 masuk agama Kristen dan memproklamirkan agama Kristen sebagai agama resmi di Kekaisaran Romawi.

Tahun 325, Ratu Helena berkunjung ke Tanah Suci dan membangun 3 basilika (gereja) yaitu satu di atas Kalvari dan makam Kristus di Yerusalem, yang kedua di atas gua kelahiran Kristus di Betlehem, dan yang ketiga di puncak Bukit Zaitun. Sejarah Kristen menunjuk gua dimana Yesus dilahirkan berada di bagian ujung timur pedesaan yang terletak di bawah kuil Hadrian. Ketika kuil dipindahkan, gua ditemukan secara utuh. Kaisar Constantine kemudian membangun sebuah basilika yang megah yang sangat kaya dengan dekorasi mosaik, marmer, dan seni lukis. Ia memberikan kepada gereja itu persembahan emas, perak, dan permadani.

Tahun 529, orang-orang Samaria dari Nablus memberontak menentang pemerintahan Kristen Byzantium dan menjarah bagian kota Betlehem. Gereja tempat kelahiran Yesus Kristus dirampok, dibakar, dan mengalami kerusakan yang berat. Lantai-lantai mosaik gereja kelahiran Yesus baru kemudian ditemukan setelah tertutup debu tebal dan ubin yang terbakar. Kepala kota Yerusalem mengirim St. Sabbas ke Kaisar Justinian untuk meminta bnatuan merestorasi gereja tersebut. Di tahun 614, Persia menginvasi Tanah Suci dan menghancurkan seluruh gereja dan biara yang ada. Gereja tempat kelahiran Yesus Kristus merupakan satu-satunya gereja yang terhindar dari penghancuran. Hal tersebut dikarenakan ditemukannya sebuah mosaik yang menggambarkan kelahiran Kristus yang di dalamnya tergambar orang bijak dengan kostum Persia kuno sedang menyembah Anak Kudus.

Selama periode Ksatria Perang Salib, gereja mengalami perbaikan dan restorasi hampir di seluruh bagian. Lantai marmer tua diganti, atap kayu cedar dilapisi, bagian dinding dilapisi dengan marmer dan bagian tengah atas ruang gereja dilapisi dengan mosaik yang sangat indah. Tahun 1100, pada hari Natal, raja Baldwin dari Kerajaan Latin naik tahta di gereja Betlehem. Ia menolak dimahkotai dengan tahta emas di Yerusalem dan memilih dimahkotai dengan duri seperti Yesus. Penggantinya, Raja Baldwin kedua juga dimahkotai di tempat yang sama pada tahun 1109.

Sumber : Suara Pelayanan Edisi 55 - Mei 2008


Comments

No responses to “Betlehem”

Poskan Komentar