Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Siapa Yang Menanam Apel Ini?

Di sebuah Desa yang damai dan tentram, tinggallah sebuah keluarga petani yang rajin di kaki bukit. Keluarga yang bahagia ini hanya mempunyai seorang anak perempuan. Pada suatu hari, si ayah petani yang rajin ini pergi ke ladangnya diatas bukit untuk bercocok tanam. Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang aneh mendekati si Petani itu.

“Pak Tani, saya mempunyai 5 buah biji buah apel yang lezat dan manis sekali. Apabila dirawat dengan baik, maka dalam waktu 2 tahun pohon apel ini akan sudah dapat berbuah lebat. Maukah anda membelinya dengan 10 keping uang perak?”, kata kakek  aneh tersebut dengan penuh harap.

Si Petani itu memandangi 5 biji apel itu dengan penuh kecurigaan,”Bagaimana mungkin 5 biji apel ini dihargai 10 keping uang perak?! Mahal sekali. Jangan-jangan kakek aneh ini ingin menipuku,” pikir si Petani itu. Namun ketika dia melihat wajah kakek aneh itu tidak menampakkan sedikit pun niat jahat, malah menimbulkan iba di hati Pak Tani. “Kakek ini pasti dalam kesulitan sehingga dia harus menjual biji apel ini, tidak ada salahnya aku membelinya. Kalaupun benih ini tidak tumbuh seperti yang diharapkan, paling tidak saya telah membantunya,” pikir Pak Tani.

“Baiklah saya akan membelinya,” kata Pak Tani. Setelah menerima uang pemberian dari Petani itu, kakek aneh ini segera lenyap dari pandangan. “Sungguh kakek yang aneh,” gumam Pak Tani.

Pada hari itu juga Pak Tani menanam 5 biji apel ini diladangnya. Hari berganti hari, Pak Tani dan Ibu Tani bergantian merawat benih apelnya. Terkadang anak perempuannya juga ikut membantu membersihkan rumput liar disekitar pohon apel itu. Dalam waktu singkat 5 benih apel itu tumbuh dengan suburnya. Tak terasa 2 tahun telah berlalu. Kelima pohon apel itu benar-benar telah menghasilkan buah-buah apel merah yang besar dan ranum. Ibu Tani dan anaknya segera memetik buah apel yang ranum dan memakannya. “Hmm, benar-benar apel yang lezat! Kakek aneh itu tidak menipu kita, Pak,” kata Ibu Tani dengan riang. “Jika kita jual ke kota, orang-orang pasti mau membelinya dengan harga tinggi,” timpal Pak Tani sambil membayangkan keuntungan besar yang bakal diperolehnya.

Beberapa hari kemudian, keluarga Petani ini hendak memanen pohon apel mereka. Dengan riang Pak Tani memikul keranjang bambunya pergi ke kebun apel. Namun ketika mereka tiba di kebun, alangkah terkejutnya. Kebun apel yang penuh harapan itu telah porak poranda. Ternyata binatang-binatang hutan seperti monyet, burung, babi hutan, tupai dan lain-lain, sedang asyik menikmati buah apel mereka. Mereka telah menghabiskan hampir semua buah apel yang siap panen.

Petani itu pulang dengan tangan hampa dan penuh kekecewaan. Sejak saat itu Pak Tani tidak mau lagi pergi ke kebun apelnya diatas bukit. Mereka telah beralih memelihara hewan ternak di rumahnya.

Tak terasa dua tahun telah berlalu, suatu pagi anak perempuan mereka mengajak bertamasya ke atas bukit, tempat kebun apel mereka dahulu. “Tak ada salahnya kita kesana melihat-lihat kebun apel itu. Lagipula tempat disana sangat indah dan sejuk,” pikir Pak Tani.

Kemudian mereka berangkat ke atas bukit itu. Sesampai disana, alangkah terkejutnya Pak Tani melihat kebun apelnya. “Bbba...bbagaimana mungkin bisa menjadi begini?!” kata Pak Tani tergagap-gagap melihat kebunnya dipenuhi dengan pohon-pohon apel yang sedang berbuah ranum. “Dibukit ini hanya dihuni babi hutan dan burung-burung. Mungkinkah ada orang yang menanam pohon apel di kebun kita?”, kata Pak Tani penuh keheranan.

Anak perempuan mereka berkata,”Tidak ayah, sewaktu para binatang itu memakan buah apel kita, bukankah mereka membuang biji-biji apel itu berserakan di setiap jengkal tanah kebun kita? Biji-biji itu ternyata tumbuh menjadi pohon-pohon apel ini.”

“Ya Tuhan, buahnya lebih lebat daripada pertama kali kita menanamnya. Ini baru benar-benar panen besar”, ujar Petani itu dengan penuh rasa syukur.

Pengalaman pak Tani ini memberikan contoh pada kita bahwa janganlah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah dan harus mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan hati. Kecewa sesaat namun tidak patah semangat dapat merubah kegagalan menjadi sebuah keberhasilan.

Sumber : www.erabaru.or.id

"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang" (Amsal 17 : 22)

Comments

No responses to “Siapa Yang Menanam Apel Ini?”

Poskan Komentar