Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Kekuatan Sebuah Pujian Yang Mengubah Dunia

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.
1 Petrus 4:10-11

Banyak orang yang merasa lelah. Lelah karena mendengar orang-orang yang marah, depresi dan cemas. Lelah karena mengkuatirkan iklim ekonomi saat ini. Jadi, Cameron Brown dan Brett Westcott pun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda yang dapat membawa sedikit cahaya dan kegembiraan kepada lingkungan mereka – Purdue University.

Mereka menjadi The Compliment Guys (pria yang suka melontarkan pujian).

Orang-orang pun memanggil mereka dengan sebutan itu. Setiap hari Rabu pukul 12.30 sampai 14.30, Cameron dan Brett memberikan “Pujian Gratis” mereka dekat jalan utama di luar gedung kimia. Hujan, salju, panas terik – apapun cuacanya, kedua pria ini pantang menyerah. Selama dua jam di setiap hari Rabu itu, mereka memberikan pujian kepada setiap orang yang lewat.

Kedua pria ini berusaha memberikan pujian secara pribadi dan spesifik. “Saya suka mantel merah Anda,” ujar Westcott pada seorang wanita yang sedang mendengarkan iPodnya. Wanita itu berbalik dan tersenyum, dan Brown pun melanjutkan pujian itu dengan mengatakan, “Senyuman yang sangat manis.”

Tiga orang wanita meninggalkan laboratorium biologi dan berjalan ke arah mereka. “Saya suka rambut ikal Anda. Senyuman yang indah. Saya suka kacamata Anda,” ujar kedua pria ini sambil menunjuk pada masing-masing wanita.

Pada Rabu yang lain, mereka meminta sang profesor untuk menikmati kopinya, mengucapkan terima kasih kepada tukang kebun atas kerja keras mereka dan mendorong seseorang untuk memakan apel yang bergizi.

Meskipun kebanyakan orang akan bereaksi secara positif, namun tak jarang kedua pria ini juga diabaikan atau mendapat tatapan yang buruk, bahkan gerakan yang cabul. Mereka dituduh melakukan hal itu untuk menarik perhatian gadis-gadis (mereka berdua sudah memiliki pacar). Beberapa orang berpikir mereka sedang melakukan eksperimen psikologi. Namun Brett Westcott mengatakan alasan mereka untuk mlakukan hal itu sangatlah sederhana, atau bahkan mungkin sangat canggih. “Secara keseluruhan, kami hanya ingin membuat hari-hari yang dilewati orang lain menjadi sangat memuaskan. Tidak cukup banyak orang yang masih melakukan hal-hal yang baik saat ini.”

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda tapi menurut saya kedua pria ini telah melakukan sesuatu. Kita berada di dalam suatu budaya yang tidak menanggapi dengan serius akan kuasa dari kata-kata. Bayangkan saja berapa banyak kata-kata yang kita lontarkan setiap hari. Saat kita berbicara, menulis email, dan SMS setiap hari. Kemanapun kita memandang, terdapat kata-kata: rambu lalu litas, layar iklan, buku, daftar menu, papan iklan, stiker mobil. Kemanapun kita pergi, orang-orang sedang berbicara: telepon seluler yang menempel di telinga saat mereka berjalan kaki, bluetooth yang menempel di telinga saat orang berkendara, saat meeting dan di warung kopi, di sekolah, gereja, kantor, bar dan restoran, saat makan malam bersama keluarga. Begitu banyak kata yang terlontar setiap saat. Hanya sedikit yang terlihat sedang berpikir tanpa berkata-kata.

Namun seringkali perkataan itu digunakan secara ceroboh, baik antara suami istri, orangtua dan anak, siswa dan guru, antara teman, rekan sekerja, sesama anggota gereja dan banyak lainnya. Bagaimana dengan kata-kata kotor yang terlontar saat orang sedang kesal? Bagaimana dengan kata-kata yang meremehkan baik tentang seks, keluarga bahkan Tuhan dengan melontarkan kata-kata yang tidak berguna? Atau bagaimana dengan kata-kata yang kita gunakan untuk menyakiti, memanipulasi, meremehkan dan mengontrol orang lain?

Setidaknya, kita dapat mencoba berbuat lebih baik bukan? Terlalu banyak perkataan sia-sia yabng terlontar tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Tak heran ada suatu ajaran yang mengajarkan pengikutnya untuk berpuasa dalam keheningan. Ketika Anda mendisiplinkan diri untuk tidak berkata-kata sama sekali, Anda akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik akan nilai dari kata-kata. Sama halnya dengan orang yang berpuasa makan akan mengerti nilai dari makanan. Mungkin sebagai orang Kristen kita perlu berpikir untuk melakukan aksi diam untuk memahami nilai dan kuasa dari kata-kata itu sebenarnya.

Atau cara yang lebih baik adalah, mari kita mendisiplinkan diri kita untuk menggunakan kata-kata dengan lebih hati-hati. Dalam hal inilah saya melihat The Compliment Guys telah melakukannya dengan tepat. Mereka membuat pilihan menggunakan kata-kata untuk “memuaskan hari orang lain”. Mereka mendisiplinkan diri mereka paling tidak selama dua jam setiap hari Rabu untuk berbicara secara positif, memuji dan mendorong orang lain. Saya menduga kebiasaan dua jam setiap hari Rabu itu terbawa juga dalam banyak situasi ketika mereka sedang ‘tidak bertugas’.

“Jika ada orang yang berbicara,” tulis Petrus, “baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah.” Saya sangat suka bagaimana Petrus menulis tentang hal ini. Petrus, seorang pria yang dikenal suka ceplas-ceplos. Seorang pria yang bersumpah tidak akan meninggalkan Tuhan Yesus, lalu kemudian bersumpah dengan berapi-api bahwa ia tidak mengenal Yesus. Petrus telah belajar selama periode itu dan setelah ia menjadi negarawan senior dari gereja, ia telah belajar betapa pentingnya nilai dari setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Petrus mulai menghagai kata-kata, dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap perkataan yang keluar dari mulutnya sebagai karunia dari Tuhan. Petrus mengerti bahwa perkataan setia dari umat Tuhan merupakan salah satu cara dari banyak cara dimana rahmat Tuhan mengambil bentuk di dunia ini. Jadi Petrus ingin agar gereja Tuhan menggunakan kata-kata dengan serius. Petrus meminta jemaat untuk berhati-hati dalam memikirkan apa yang mereka katakan, untuk mempertimbangkan apakah pantas kata-kata itu keluar dari mulut mereka atau dari tulisan tangan mereka yang sebenarnya menjadi kendaraan Tuhan untuk membagikan kasih karunia Tuhan. “Jika Anda mengatakan sesuatu, pastikan bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang takkan pernah keluar dari mulut Tuhan sendiri.”

Setidaknya kita dapat berbuat lebih baik bukan? Mungkin tidak akan berhasil jika Anda memberikan ‘Pujian Gratis’ dengan berdiri di tempat kerja maupun sekolah. Namun ada cara lain untuk memberkati orang lain lewat perkataan Anda daripada melontarkan pujian pada setiap orang yang berjalan melewati Anda. Anda bisa menyemangati orang lain yang sedang mengalami hari yang buruk. Anda dapat bersikap lembut dan perhatian ketika harus mengoreksi anak atau karyawan. Anda dapat mengatakan “I love you” lebih sering, dan mengurangi kebiasaan untuk menunjuk kesalahan orang lain. Kita dapat memperkatakan kebeharan dengan penuh kasih kepada mereka yang sedang keluar jalur. Kita dapat menceritakan kisah tentang Yesus sedikit lebih sering. Jauhi fitnah dan gosip. Kita dapat memilih untuk menggunakan kata-kata untuk meredakan kemarahan dan bukan untuk membangkitkannya. Kita bisa bersikap tenang dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, karena untuk itulah Tuhan memanggil kita. Dan kita dapat memilih menggunakan kata-kata untuk memberkati orang lain daripada memuaskan diri kita sendiri dan mendapatkan apa yang kita inginklan.

Anda bisa mencobanya saat ini. Anda tak akan pernah tahu arti dari pujian sampai Anda melakukannya pada orang yang tepat yang membutuhkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Keluarkan kata-kata pujian dari mulut Anda di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja.

Sumber : heartlight.org/jawaban.com

Comments

No responses to “Kekuatan Sebuah Pujian Yang Mengubah Dunia”

Poskan Komentar