Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Mengampuni Pembunuh Orang Tuanya

Rencana kedatangan kedua orang tuanya ke Jakarta sudah lama Edison tunggu. Minggu itu, Edison dengan semangat menyelesaikan pekerjaaannya.

"Tidak ada firasat apa-apa, semuanya berjalan seperti biasa saja. Tidak ada tanda-tanda juga," kata Edison memulai kesaksiannya.

Sampai sebuah kabar datang dari abang sepupunya yang tinggal di Cililitan, Jakarta. Tidak terlintas sedikit pun dipikirannya kabar apa yang akan dia dengar berikutnya. Abangnya memberitahu bahwa papa mamanya sudah ‘pergi'. Edison mengira jika orang tuanya sudah pergi ke Jakarta tetapi ketika diberitahu bahwa papa mamanya telah meninggal karena dibunuh, Edison langsung tidak sadarkan diri.

Tak percaya dengan apa yang dia dengar, Edison kembali menghubungi saudaranya itu. Tapi betapa terkejutnya Edison, saat dia mendengar penyebab kematian orang tuanya. Abangnya bercerita bahwa papa mamanya dibunuh dengan cara yang sangat sadis. Ketika mendengar hal tersebut, Edison pingsan kembali.

"Sebentar sadar, pingsan lagi, sebentar sadar, pingsan lagi, sampai beberapa kali. Ketika saya melihat suami saya, sebagai istri saya kasihan sekali. Namanya kehilangan kedua orang tua kalo karena penyakit mungkin kita bisa terima tetapi ini karena dibunuh dan dianiaya, pasti semua orang tidak akan bisa terima jika hal itu terjadi," Nitisa Laoli, istri Edison, mengisahkan.

Tanpa berpikir panjang Edison segera berangkat ke Nias. Namun semakin dia dekat dengan kampung halamannya, emosi Edison semakin kacau.

"Saya sangat shock. Pada saat di atas kapal itu, seolah-olah ada suara yang berbisik di dalam diri saya. Biasanya kalau Edison itu pulang, setiap tahunnya disambut dengan keluarga, ketemu orang tua-mama dan papa. Tapi nanti kalau kamu pulang yang kamu temui adalah mayat orang tuamu. Saya berpikir buat apalagi Edison pulang, buat apalagi Edison hidup. Kamu sendirian karena kamu anak tunggal," ujar Edison.

Bisikan itu dengan cepat merasuki pikirannya, pelan-pelan tubuh Edison bergerak di luar akal sehatnya.

"Saya punya niat untuk bunuh diri, terjun ke laut. Tetapi saat itu tiba-tiba bayangan istri dan anak saya terlintas. Di situ saya sadar kembali, rupanya saya tidak sendiri masih ada tanggung jawab karena  saya memiliki istri dan anak," ungkap Edison.

Sehingga Edison mengurungkan niatnya dan mulai menangis sampai-sampai orang di sekitarnya bertanya-tanya kepadanya.

Setelah menunggu satu malam, akhirnya dia tiba di rumah orang tuanya. Hatinya mulai bergejolak saat dia menginjak rumah yang menjadi saksi bisu kematian orang tuanya.

"Sampai di depan pintu, saya langsung jatuh pingsan di sana. Setelah saya sadar kembali, baru mereka mengijinkan saya masuk melihat mayat papa dan mama yang sudah tergeletak di sekitar dapur. Mayat mereka itu belum diapa-apain, sudah bau dan membusuk karena tidak ada keluarga yang mau mengurusnya," kisah Edison.

Pemandangan mengerikan itu terpampang dihadapannya seakan-akan kejadian naas itu dapat dia lihat dengan jelas.

"Menurut kepolisian, malam Sabtu itu papa dan mama sedang persiapan untuk makan malam. Mungkin karena melawan mereka, papa dan mama dibunuh. Saat itu yang menjadi tersangka ada tujuh orang," terang Edison.

Peristiwa itu bagaikan pukulan keras yang menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Bahkan saat kedua orang tuanya akan dimakamkan, Edison menjadi sangat histeris. Dalam pikirannya terlintas keinginan untuk balas dendam kepada pelaku dan melakukan hal yang sama kepada mereka hal yang sama seperti yang mereka lakukan kepada orang tuanya.

Tak lama kasus ini mendapat titik terang. Satu nama yang tidak pernah diduga sebelumnya dijadikan sebagai tersangka utama. Ternyata pelakunya tidak jauh-jauh yaitu keluarganya sendiri. Edison berkata kepada saudaranya itu jika benar dia pelakunya sebaiknya dia mengakuinya supaya Edison bisa maafkan dan memberi tahu polisi supaya  membebaskannya. Ketika Edison bertanya seperti itu saudaranya menjadi histeris, menangis, minta ampun dan mengakui bahwa dia adalah pelaku pembunuhan itu.

Tentu saja Edison sangat terpukul mendengar pengakuan itu, dia tidak pernah menyangka saudaranya sendiri adalah dalang pembunuhan itu. Edison merasa tidak bisa berbuat apa-apa, seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya tidak berbuat sesuatu atau memukul saudaranya itu. Dia hanya memandangi saudaranya itu dan termenung meskipun polisi memberikan waktu untuk melampiaskan kemarahannya.

Meski bertentangan dengan bathinnya Edison tetap berusaha menahan emosinya.

"Tetapi saya katakan kepada polisi, kalau bisa dibebaskan saja dia karena mama papa saya tidak bisa kembali," kata Edison.

Setelah hari itu, Edison langsung kembali ke Jakarta. Baru kali ini dia merasa benar-benar sendiri. Baginya tidak ada yang lebih penting dari pada meratapi kematian kedua orang tuanya.

"Setiap hari Jum'at, bayangan-bayangan mereka lewat. Seolah-olah dibilang mimpi tapi bukan mimpi. Karena pada dasarnya, saya ingin bertemu dengan mereka. Saya merasa kehilangan perhatian mereka dan yang membuat saya kecewa karena saya tidak sempat berbuat sesuatu untuk menyenangkan mereka," kisah Edison

"Karena dukanya yang begitu dalam, saya melihat dia selalu melamun dan menangis. Itu saja yang dilakukannya selama kurang lebih tiga bulan," terang Nitisa.

Peristiwa mengenaskan itu menjadi trauma tak terlupakan yang menguncang kesadaran Edison. Hal-hal diluar kendalinya pun mulai terjadi.

"Pernah suatu kali, pada malam hari, dia teringat orang tuanya dan saat itu saya sedang tidur. Kira-kira pukul satu sampai dua malam, dia buka pintu. Ketika dia akan membuka pintu pagar, saya sadar dan terbangun. Waktu saya tegur, dia berkata, ‘Saya mau ambil foto-foto yang dari Nias yang dicuci di tempat foto.' Saya bilang foto-foto itukan sudah ada. Akhirnya dia masuk ke kamar dan menangis sampai agak lama," Nitisa menceritakan kejadian tersebut.

Edison seperti bukan dirinya lagi, emosinya labil dan meledak-ledak. Tanpa sadar dia mulai menyakiti orang yang disayanginya.

"Kerja bawaannya males. Ada masalah sedikit saya gampang emosi. Istri saya salah ngomong, saya tidak menerima karena tidak seperti yang saya inginkan, pasti saya mengamuk," kata Edison.

"Saya lihat suami saya seperti itu, saya hanya bisa menangis dan berseru kepada Tuhan kenapa suami saya seperti ini?" ungkap Nitisa.

"Udah tidak ada Tuhan-Tuhan lagi, tidak ada kerja-kerja lagi. Buat apa kerja, banting tulang dan beraktifitas, nyawa keluarga hilang sekejap juga. Akhirnya itu yang membuat saya malas," kata Edison menambahkan.

Rasa penyesalan pun sering menderanya ketika dia memandangi buah hatinya.

"Kadang-kadang saya sedih kalau melihat ada orang-orang yang menyayangi anak-anak saya sementara orang tua saya tidak pernah melihat atau mengendong anak saya. Dan itu yang membuat saya putus asa dan kecewa kepada Tuhan," kisah Edison dengan mata berkaca-kaca.

Hati Nitisa tak sanggup melihat suaminya hancur perlahan-lahan. Dengan merendahkan diri berdoa kepada Tuhan.

"Suami saya kurang lebih tiga bulan mengalami depresi seperti itu. Dia merasa kecewa dengan Tuhan. Saya sedih karena saya tahu Tuhan itu adalah pengharapan kita, saya tidak mau suami saya meninggalkan Tuhan. Saya berkata kepada Tuhan agar Tuhan menolong dan memulihkan hidupnya. Juga agar dia kembali kepada Tuhan dan tidak merasa kecewa kepada Tuhan."ungkap Nitisa mengenang kejadian tersebut.

Doa tulus Nitisa tidak sia-sia, perlahan-lahan Edison mulai menerima nasehat-nasehat dari sahabat-sahabatnya.

"Om Joni ini yang selalu menguatkan saya, dia mengatakan Edison kamu pasti bisa. Salah satu firman Tuhan yang menguatkan saya yaitu Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Firman itu yang menyentuh hati saya," kisah Edison.

Setelah beberapa kali dibimbing Edison mengambil suatu tindakan yang sangat ekstrim.

"Saya baru mengerti, buat apa menyimpan dendam dan amarah karena yang akan rugi adalah diri sendiri. Jadi saya mengambil keputusan untuk mengampuni mereka meskipun jaraknya jauh dan tidak pernah bertemu tetapi dalam doa saya mengampuni mereka. Saya tidak lagi menyimpan rasa dendam, rasa kecewa terhadap mereka dan juga kepada  Tuhan," kata Edison bersemangat.

Pemulihan yang Tuhan berikan, berdampak besar dalam perubahan hidup Edison bahkan keluarganya.

"Yang tadinya suka bertengkar sama istri, sekarang setelah dipulihkan kasih sayang sama istri lebih nyata. Semakin hari semakin bahagia keluarga kami. Yang tadinya saya sedih kalau ingat orang tua, tapi setelah Tuhan pulihkan saya katakan ada yang lebih dari orang tua adalah istri dan dua orang anak yang Tuhan berikan kepada saya," Edison mengatakannya dengan muka yang mulai cerah.

"Saya melihat perubahan di wajahnya, dia mulai segar kembali. Kalau bukan karena Tuhan, dia tidak ada pada hari ini," ungkap Nitisa.

"Kita tidak bersama dengan orang tua tapi Tuhan selalu bersama kita. Kalau orang yang kita kasihi meninggalkan kita tapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita," Edison mengatakan hal ini untuk mengakhiri kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 25 Maret 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel)

Sumber Kesaksian:

Edison & Nitisa Laoli/jawaban.com

Comments

No responses to “Mengampuni Pembunuh Orang Tuanya”

Poskan Komentar