Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Temukan Ketenangan Dalam Yesus

Awal perjalanan Parolan Sinaga ke ibukota membawanya ke sebuah terminal yang akan menjadi awal perubahan besar hidupnya.

"Begitu tidur pagi-paginya udah bangun mau ngapain. Ini duit sudah tidak ada lagi. Udah menipis, bagaimana cara makan. Saya lihat orang, enak-enak aja. Ada orang masuk mobil, dimintain duit. Wih enak juga rupanya, gampang juga"

Parolan pun mencoba apa yang dia lihat dan sebuah pengalaman baru yang dia dapatkan akan merubah jalan hidupnya.

"Masih mulus, wuh gampang sekali ya rupanya cari duit ini di Jakarta saya pikir kan saya kantongi..banyak..Akhirnya saya bisa makan pagi itu. Ah gampang, besoknya saya ulangi lagi. Malam kedua, ketiga masih lancar. Malam keempat, didatangi bosnya"

"Kau ambil lahanku. Enak saja, siapa kau. Kita sama-sama cari makan kok, jangan disini. Nanti kau daripada kubawa gerombolanku katanya"

Pukulan yang ia dapatkan tak mampu membuatnya mundur. Parolan terus bekerja dengan suatu rencana yang telah ia siapkan.

"Waktu dia datang lagi, sebelum dia memukul saya, saya duluan memukul dia. ‘Jangan, ampun bang, ampun bang' aku kan cari makan, kamu ngapain kamu. Setelah itu bebas aku berkelana disitu, di terminal itu"

Hukum rimba berlaku di terminal ini. preman yang ia pukuli ternyata adalah seorang kepala geng. Dengan sendirinya, dalam waktu yang singkat, ia pun menjadi kepala geng yang cukup ditakuti.

"Yang saya nikmati adalah luar biasa, luar biasa. Yang dulunya tidak pernah mengenal minuman keras, saya minum minuman keras. Mabuk-mabukkan sampe kadang-kadang dulu aku 3 hari 3 malam aku kuat minum. Jadi, kalau ada di dalam kelompokku itu ada yang mengganggu pesta miras kami, pasti mikir dua kali dekat kami. Ada yang mengganggu dekat kami, pasti botol itu kena kepalanya. Kita melenggang aja seperti itu seperti tidak ada kejadian"

Liar, brutal, dan sombong sangat terlihat jelas dalam dirinya. Perkelahian dan pertumpahan darah merupakan makanan sehari-hari baginya.

"Jadi, kalau saya sedang marah, saya melihat orang itu kecil sekali seperti semua. Saya tidak memandang apakah dia tinggi besar. Saya harus mendatangi dia dulu. Segala sesuatu yang memusuhi saya itu saya anggap itu musuh yang harus saya hancurkan. Pas apa yang ada ditangannya, bata yang ada bata yang saya pukul dan itu saya katakan terus terang saya tidak pernah takut mati"

kenyamanan sebagai seorang preman terminal membawa ingatan Parolan ke masa kecilnya.

"Bapak saya adalah dia sibuk dengan dirinya sendiri udah lama. Bahkan dia sibuk selalu ke kota tiap hari karena alasan kerja dan itu bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Jarang dia pulang. Begitu pulang, dia marah-marah, langsung pukul ibu saya, selalu itu. Pokoknya babak belurlah mamakku ini. dijambak, diituin. Mamakku ini gak melawan. Wah, saya sangat membenci sekali bapakku. Makanya saya dulu selalu bilang, ‘jika saya sudah besar, saya akan tumbukkan bapak saya. Saya akan tonjok dia dan saya akan belajar bela diri'"

Belum sempat dendam itu terbalaskan, ayah yang sangat dia benci meninggal dunia dan menyisahkan sakit hati yang tanpa sadar selalu ia bawa hingga ia dewasa. Namun, sebuah peristiwa sejenak mampu menyadarkannya.

"Dia nyopet dompet. Setelah dia nyopet dompet ini, gak tahunya dia dikerubuti massa. Tiba-tiba dilempar sama aku ini dompet. Jadi, dia selamat, akulah yang dikerubuti waktu itu. Jadi, kalau menurut saya ada ratusan orang yang menginjak aku. Disitulah aku meminta tolong Tuhan, ‘Tolong Tuhan, aku. Tolong Tuhan' itu aja padahal disitu aku gak tahu berdoa saat itu"

Parolan terbukti tidak bersalah. Ia pun dibebaskan. Sejak peristiwa itu, ada sesuatu dalam hatinya yang membawanya dalam satu perubahan.

"Mulai ada rasa ketakutan dari itu. Ingin supaya hidup kita tenang. Jadi saya ingin berubah untuk memulai kehidupan yang baru sebenarnya"

Bersama tiga temannya, Parolan mulai mengontrak sebuah kamar dan mulai melamar pekerjaan serta menata kehidupan mereka.

"Kita coba bawa lamaran yang ada, ijazah yang ada yang pas-pasan yang SGO itu, yang SMA itu kan, tapi itulah selalu pintu itu tertutup. Kita coba, tidak ada yang buka jalan pekerjaan itu bagi orang-orang terminal"

Ternyata perubahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan hidup Parolan semakin hancur di tangannya sendiri.

"Pada suatu ketika ada perebutan pacar inilah, dia datang melabrak saya. Setelah dimaki-maki habis-habisan, ya saya gak kuat kesabaran. Sebelum dia memukul, saya pukullah penyerang saya ini. prek... melihat dia pingsan, bukannya aku tolong malah kutinggali seperti itu. Akhirnya mereka lapor ke polisi"

Nasib baik kembali tidak berpihak kepadanya. Hukuman satu tahun penjara menjadi bayaran atas perbuatannya.

"Setelah saya masuk penjara, saya dipukullin di dalam. Kan itu setiap kamar ada kepala kamarnya. Disuruh jongkok dulu, lari-lari, baru abis itu disuruh mijit-mijit dia. Kepala kamar, mereka tuh ada kasur lengkap. Ya seminggu kemudian setelah saya pelajari bagaimana caranya supaya bisa seperti itu., saya habisi itu kepala kamar saya ini pada tengah malam"

"Kan dia udah tidur.udah tidur semua orang. Saat itu, pas dia sudah tidak bergerak, saya hajar itu. Saya gak kasih kesempatan dia bernafas untuk teriak. Akhirnya gempar pada malam itu,  ‘wah habis kepala kamar kita, menyerah' lalu dia minta maaf. Udah diserahkan sama aku waktu itu kepala kamar itu. Langsung aku jadi kepala kamar waktu itu"

Malam itu sebuah kebebasan baru dapat Parolan nikmati dalam sel kecilnya tersebut. Hingga suatu malam, sebuah lagu yang ia dengar mampu menyentuh hatinya.

"Lagunya yang paling kuingat waktu itu, ‘ku mau seperti-Mu Yesus, di sempurnakan selalu' Jadi mulailah luntur kekerasan hati ku, kegarangan aku tidak ada lagi. Lalu setelah saya mendengar itu, ada mulai rasa kedamaian di dalam diri saya. Mulai kembali ingin memuji Tuhan seperti waktu kecil"

Parolan pun memberanikan dirinya untuk mengikuti ibadah di dalam penjara.

"Saya melihat saya mulai jijik sebenarnya melihat kelakuan saya setelah saya merenungkan itu. ‘Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!' itulah yang membuat saya, 'oh, berarti Tuhan masih sayang kepada saya makanya saya dihajar, saya dimasukkan ke penjara ini supaya saya berubah. Saya akan berubah total, saya tidak akan mengulangi perbuatan-perbuatan minum. Saya harus menahan diri, saya harus bisa menguasai diri saya. Saya tidak gampang emosi lagi, walau bagaimanapun makian orang mungkin itu jangan sampai memukul orang. Itulah tekad saya dari dalam"

kehidupannya berubah di penjara dan pengampunan kepada bapaknya pun telah ia lepaskan. Kebebasan yang sesungguhnya kini telah Parolan miliki dan ia pun menjadi pribadi yang baru hingga saat ini.

"Oh, perubahan yang saya rasakan sangat luar biasa. Yang dulunya aku pertama-tama tidak bisa tenang, sekarang bisa tenang. Yang dulunya saya gampang tersinggung mudah emosian, jadi saya merasa benar sendiri, saya bisa mengalah. Yang dulunya saya tidak bisa mendengarkan, sekarang bisa mendengarkan."

"Saat ini saya sangat bersyukur sekali kepada Tuhan Yesus karena saya yang dulunya seorang penjara terminal boleh diubahkan menjadi seorang supervisor di sebuah bank swasta. Sangat luar biasa," ujarnya menutup kesaksian.

(Kisah ini ditayangkan 22 Maret 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).
Sumber Kesaksian:
Parolan Sinaga/jawaban.com

Comments

No responses to “Temukan Ketenangan Dalam Yesus”

Poskan Komentar