Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

David Gurnani, Menangkan The Biggest Looser Bersama Tuhan

Pria yang awalnya memiliki berat badan 160 kilogram ini, mengaku berasal dari keluarga yang hobi makan. David Gurnani, pemenang The Biggest Looser Asia ini hobi makan apa saja, mulai dari junk food, nasi padang, nasi goreng, semuanya ia suka namun semua itu berakibat buruk bagi tubuhnya.

“Saya makan lima kali lipat dari batas normal yang seharusnya saya makan. Waktu saya gemuk itu saya sering pusing-pusing, sakit punggung, lutut sakit. Setiap hari ada saja anggota tubuh yang sakit.”

Tubuh David yang gempal menjadi perhatian kemanapun ia pergi. Apa lagi ia menjalankan bisnis yang membuatnya sering bepergian keluar kota, tubuhnya yang sering berkeringat membuatnya merasa tidak percaya diri menemui para kliennya.

“Saya merasa sehat, tapi sewaktu diperiksa dokter di Malaysia tekanan tubuh saya 170/110. Kolesterol saya pun jauh di atas 200, dan hasil tes kesehatan itupun sangat buruk. Dokter bilang, ‘Kalau kamu lanjut terus begini, hidup kamu ngga akan lama lagi. Karena hal ini seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak.’ Saya pun berpikir untuk menurunkan berat badan, tapi karena memang saya suka makan, baru diet dua hari sudah gagal lagi. Coba olahraga dua tiga hari, habis itu malas pergi fitness.”

Lalu bagaimana kisah David hingga bisa mengikuti The Biggest Looser Asia?

“Saya tidak pengen ke “The Biggest Looser”, karena menurut saya itu memalukan. Karena harus buka baju, dan harus ditonton jutaan orang dari seluruh Asia. Kayaknya itu sangat memalukan. Tapi diam-diam, kakak dan adik saya mendaftarkan saya untuk ikut The Biggest Looser, dan dua hari sebelum audisi mereka bilang sama saya.”

Selalipun sempat berselisih dengan kakak dan adiknya, namun David akhirnya ikut juga acara ini.

“Pas pertama kali saya sampai sana seperti sorga orang gemuk. Saya salah satu yang terkecil loh.. Ada orang yang sampai 215 kilo, 220 kilo. Ada yang berat badannya sudah jauh di atas saya. Bersama mereka, memiliki masalah berat badan yang sama, jadi disana pun kami sering saling curhat.”

Perubahan yang diajarkan dalam kompetisi ini, menurut David dimulai dari mengubah pola pikirnya. “Jadi mereka mengajarkan untuk mengatur porsi makanan. Namun yang terpenting adalah mengubah pola pikir, karena pola pikir kita tuh: makan..makan..makan.. Namun disana pola pikir kita diubah. Selain itu juga olahraga yang sehat, yaitu antara olahraga dan makan harus seimbang. Kita dianjurkan untuk makan 5 sampai 6 kali sehari namun dalam porsi yang kecil-kecil dan ditengah-tengah makan pagi dan makan siang itu, kita dianjurkan untuk makan buah sehingga tubuh kita tidak kelaparan dan olahragapun bisa optimal.”

Berada dalam karantina selama kurang lebih enam bulan bukanlah sesuatu yang mudah bagi David. Awalnya David merasa seperti berada di penjara.

“Lihat gymnya saja seperti siap untuk memakan lemak kita, disana itu bagi  saya sudah seperti penjara. Setiap hari saya berdoa aja, ‘Oh Tuhan, tolong saya. Saya disini ngga tahu apa-apa, saya butuh pertolongan Tuhan untuk melalui cobaan ini.’”

Dalam kondisi kritis saat semangatnya sudah pupus, David kembali berdoa kepada Tuhan. Bahkan teman-teman satu tim dan trainernya pun memberikan dorongan semangat kepadanya.

“Kalau lagi stres atau jenuh, kebanyakan kami ngomong sama trainer. Jadi saya dengan Dave (trainer) sering berdoa sama-sama, baca Alkitab sama-sama. Dan Dave selalu bilang, ‘Kamu fokuskan pikiran kamu pada satu hal, bila kamu sungguh-sungguh niat untuk  mencapai targer itu, pasti kamu bisa. Saya yakin, kamu memiliki kekuatan Tuhan untuk memenangkan kompetisi ini.’”

Dalam kompetisi yang berlangsung selama enam bulan ini, David berhasil menurunkan berat badannya hingga 87 kilo. Apa yang dulu baginya adalah sesuatu yang mustahil, kini telah berhasil ia raih.

“Pelajaran yang paling berharga untuk saya adalah : kesehatan itu sangat penting. Sekarang saya sudah kurus, aktivitas lancar, ketemu dengan klien, klienpun lebih senang ketemu dengan saya. Saya merasakan kebebasan, saya dibebaskan oleh Tuhan. Pada akhirnya saya bisa melihat bahwa rencana Tuhan itu sangat indah. Dari saya tidak mau ikut kompetisi ini, keluarga paksa, berantem dulu, hingga akhirnya saya ikut juga, jadi semua ini adalah rencana Tuhan, sesuatu yang sudah diatur oleh Tuhan, jadi sangat indah.”
Kompetisi The Biggest Looser bukanlah sebuah kompetisi yang biasa bagi David, ada pelajaran penting yang ia petik dari menjalani keseluruhan prosesnya.

“Tubuh kita adalah bait Allah dan jika kita berlebihan makan, kalau kita rakus, itu dosa juga menurut firman Tuhan. Jangan percaya jika orang bilang, kita besar itu tandanya makmur. Ujung-ujungnya hal itu akan berakibat sangat fatal, karena kesehatan kita terancam.”

Sumber Kesaksian: David Gurnani / jawaban.com

(Kisah ini ditayangkan 22 November 2010 pada acara Solusi Life di O'Channel).

Comments

No responses to “David Gurnani, Menangkan The Biggest Looser Bersama Tuhan”

Poskan Komentar