Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Dendam Kesumat Seorang Preman

Sejak kecil, jiwa pemberontak itu telah muncul dalam diri Niko Nazaret. Ayahnya yang berperangi kasar salah satu faktor yang membentuknya menjadi seorang pemberontak.

“Dia punya prinsip kalau berantem, dia akan suruh kita maju. Hal itu membuat saya jadi pemberontak. Menjadi pemberontak di rumah maupun di luar. Saya ingat waktu saya pulang sekolah, dia sedang perbaiki mobil. Dia suruh saya ambil kunci apa, tapi saya salah ambil. Akhirnya dia pukul saya dengan martil, sampai kepala saya ini pecah. Karena hal itu, saya sangat benci dengan bapak,” ungkap Niko.

Kebencian dan kemarahan ini terus tersimpan di hati Niko hingga ia dewasa. Kemarahan itu dilampiaskannya kepada siapa saja dan membentuk dirinya menjadi seorang berandalan.

Dari Papua, Niko merantau ke ibukota Jakarta. Karena menghadapi kerasnya ibukota, kehidupan Niko menjadi semakin liar. Bersama dengan kelompoknya, ia sering melakukan tindak kejahatan. Tidak jarang ia pun terlibat perkelahian antar kelompok. Setelah beberapa bulan menunjukkan sepak terjangnya, ia mendapat tawaran pekerjaan di sebuah diskotik dari seorang kenalan.  Di tempat kerjanya pun Niko

“Dua tiga bulan berjalan biasa saja, tapi saya merasa harus buat gigitan sehingga orang tahu siapa saya.”

Akhirnya para biang onar di diskotik itu menjadi sasaran empuk bagi Niko.

“Siapa yang bikin onar, kita ambil lalu dipukulin di luar. Saya juga cukup ditakuti di daerah itu karena preman-preman siapapun yang datang, saya hantam.”

Tidak hanya itu, wanita-wanita malam pun dipaksa untuk melayani nafsu bejatnya jika  ingin tetap mencari nafkah di diskotik tersebut.

Hingga suatu ketika, Niko jatuh cinta dengan seorang wanita. Berharap dapat mengubah kehidupannya, Niko akhirnya menikahi wanita tersebut. Namun semua harapannya itu tidak pernah terwujud, karena Niko tetap menjalani kehidupannya sebagai seorang preman.

“Pulang-pulang mabuk, dan karena saya sering pakai obat juga, jadi sering tidak sadarkan diri lagi.”

Tindakan Niko ini membuat istrinya kesal dan takut, apalagi Niko sering berlaku kasar terhadapnya.

Suatu saat, sebuah kabar sampai kepada Niko bahwa ayahnya sakit. Ia pun kembali ke kampung halamannya, Papua. Tapi semua itu ia lakukan bukan karena kasihnya kepada sang ayah, namun untuk mewujudkan niatnya untuk membalas semua perlakuan kasar yang ia terima ketika kecil. Apa lagi suatu waktu, ibu tirinya membuat tidak dapat lagi menahan amarahnya.

“Suatu waktu, saya lagi tidur dengan anak. Dia ajak istri saya ke suatu pulau. Akibatnya, pulang dari pulau itu istri saya seperti tidak waras.”

Sang ayah yang terbaring di tempat tidur, mencoba membela istrinya. Hal itu membuat Niko semakin geram, mereka pun terlibat pertengkaran besar.

“Akhirnya, waktu malam itu hujan dan saya ingin bunuh bapak. Saya gendong dia dan bawa keluar. Kebetulan di belakang rumah itu ada kali, jadi saya ingin bunuh dan kasih hanyut saja. Tapi sementara saya gendong, saya ada rasa kasihan. Akhirnya saya bawa pulang lagi..”

Setelah istrinya kembali normal, Niko memutuskan kembali ke Jakarta untuk menghindari konflik yang lebih besar dengan keluarganya. Ia pun kembali berkumpul dengan teman-temannya dan minum minuman keras. Namun hari itu, adalah hari yang naas baginya.

“Saat itu saya merasa meriang, badan juga kurang begitu enak. Tiba-tiba kepala juga terasa sakit, bahkan badan terasa kaku seperti di ikat.”

Entah penyakit apa yang di alami Niko, ia sendiri pun tak mengerti. Namun dia merasakan bahwa maut sudah begitu dekat dengannya.

“Waktu air keluar dari tangan, saya sudah merasa, aduh.. ini mati sudah. Tiba-tiba kebayang orang-orang yang sudah mati, seperti mama saya, om saya… saya kebayang mereka seperti memanggil saya.”

Saat kondisinya semakin parah, Nikopun meminta istrinya untuk mendoakannya. Saat berdoa itulah, Niko diingatkan kepada wajah seorang bapak. Ia pun meminta istrinya untuk menghubungi bapak tersebut untuk datang mendoakannya.

Bapak itu datang, dan berdoa untuk Niko dengan sangat singkat. Namun sesuatu yang ajaib terjadi.

“Hal itu susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Terlalu dasyat! Itu tidak pernah saya rasakan sebelumnya, jadi saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Tapi amat sangat luar biasa. Langsung saat itu juga penyakit itu semua hilang dari saya. ”

Malam itu, jalan hidup Niko langsung berubah karena dia menyerahkan hidupnya saat itu juga kepada Tuhan.

“Saya merasakan hadirat Tuhan yang besar sekali, yang saya tidak bisa tahan. Rasanya plong. Saya merasakan semua dosa yang pernah saya buat, hari itu juga pergi. Saya tidak ada lagi rasa antara saya dan bapak itu ada masalah. Tidak ada lagi dendam.”

Niko sadar, bahwa hidupnya adalah karena kasih karunia belaka.

“Tanpa Yesus dalam hidup ini, hidup saya itu di lantai. Tapi karena Dia, Dia bisa bangkitkan saya. Itu adalah kasih yang besar sekali untuk saya. Karena tanpa Tuhan, tidak bisa bikin apa-apa.”

Sumber : jawaban.com

(Kesaksian ini ditayangkan 23 November 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel)

Comments

No responses to “Dendam Kesumat Seorang Preman”

Poskan Komentar