Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Above The Storm

“Pujilah Tuhan di bumi, … hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya” (

Mazmur 148:7-8).

Iman menantang kita untuk diterapkan pada waktu kita menghadapi badai kehidupan. Tampaknya iman justru lebih bergairah di tengah-tengah badai daripada dalam keadaan tenang-tenang saja. Bila hidup ini tenang, bukankah kita cenderung menjadi pasif ? Kalau badai melanda barulah kita menyadari betapa kita membutuhkan Allah.

Ada sebuah legenda tentang seorang bangsawan yang mempunyai istana di tepi sungai Rhein. Sebagai seorang pecinta musik, ia memasang beberapa kawat di antara dua menara dengan harapan kalau-kalau angin menggetarkan kawat-kawat itu sehingga menghasilkan musik. Tetapi tiupan angin tidak dapat menghasilkan suara apapun.

Pada suatu malam, di tengah lembah itu terjadi suatu badai yang dahsyat dan seakan-akan mengguncang istana bangsawan itu. Sang bangsawan membuka jendela mengawasi perkembangan badai itu, dan dalam keherannannya ia mendengar alunan musik yang merdu. Kawat-kawat itu mendesing bagaikan petikan senar gitar. Kawat-kawat itu memerlukan badai untuk menghasilkan musik yang merdu dan indah.

Bukankah hal ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Di saat angin tenang, berkat melimpah, tak ada masalah, hanya sedikit keindahan yang terlihat. Tetapi saat badai kehidupan itu datang, kita akan mengerti apa yang dimaksud dengan berharap kepada Allah. Kita akan sadar bahwa Dia menyertai kita dan merasakan kekuatan Allah yang memampukan kita untuk dapat menanggung kekuatan badai itu, selain itu kita juga akan menemukan mutiara-mutiara rohani dalam badai itu.

Sumber : Cakrawala (Oktober 2008)

Comments

No responses to “Above The Storm”

Poskan Komentar