Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Memandang Kehidupan Dari Sudut Pandang Allah

Yakobus 14 : 14b "... Apakah arti hidupmu ?..."

Cara kita memandang kehidupan kita, membentuk kehidupan kita. Bagaimana kita mendefinisikan kehidupan, menentukan masa depan kita. Perspektif ini akan mempengaruhi cara kita memanfaatkan waktu, membelanjakan uang, menggunakan talenta, menilai hubungan, dll.

Gambaran yang muncul dalam benak kita mengenai kehidupan kita disebut metafora kehidupan kita. Itulah gambaran kita tentang bagaimana seharusnya kehidupan berjalan dan apa yang diharapkan dari kehidupan kita.

Metafora kehidupan kita yang tak terucapkan memberi pengaruh yang lebih daripada yang kita sadari. Ini menentukan harapan-harapan, nilai-nilai, sasaran-sasaran, dll.
Contoh : Jika kita menganggap kehidupan ini adalah sebuah pesta maka nilai utamanya adalah bersenang-senang. Jika kita menganggap kehidupan ini sebuah balapan, maka kita akan menghargai kecepatan, dll. Bisa jadi metafora yang kita ciptakan dalam kehidupan kita adalah gambaran yang keliru atau berbeda dengan apa yang Allah harapkan. Karena itu perlu adanya pembelajaran metafora kehidupan seperti yang Allah inginkan.
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakan kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna" (Roma 12 : 2.)

Alkitab memberikan 3 metafora yang mengajarkan kepada kita pandangan Allah tentang kehidupan ini (pada bab ini kita hanya akan membahas 2 point)

Pertama : Kehidupan adalah sebuah ujian
Allah terus-menerus menguji karakter, iman, ketaatan, kasih, dan kesetiaan manusia. Karakter dikembangkan, ditunjukkan melalui ujian-ujian, dan seluruh kehidupan kita adalah ujian. Kita tidak tahu semua ujian yang Allah berikan, tetapi kita bisa memperkirakan sebagian berdasarkan Alkitab. Kita akan diuji melalui perubahan-perubahan, janji-janji yang tertunda, masalah-masalah yang sulit, doa-doa yang tidak terjawab, kritikan-kritikan yang tidak layak diterima, bahkan tragedi yang tidak masuk akal. 

Ujian yang sangat penting adalah bagaimana sepatutnya bertindak ketika kita tidak bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Kadang-kadang Allah dengan sengaja mundur, dan kita tidak merasakan kedekatan-Nya. Seorang raja bernama Hizkia mengalami ujian ini. Alkitab menulis, "... Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya" (2 Tawarik 32:31). Hizkia telah menikmati suatu persekutuan yang dekat dengan Allah, tetapi pada titik penting dalam kehidupannya, Allah meninggalkannya sendiri, untuk menguji karakternya, untuk menunjukkan kelemahannya, dan untuk mempersiapkannya guna menghadapi tanggung jawab yang besar.

Ketika kita menyadari bahwa kehidupan adalah ujian, maka tidak ada hal yang tidak penting di dalam hidup ini. Bahkan kejadian terkecil memiliki makna bagi pengembangan karakter. Tiap hari merupakan hari penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperoleh karakter kita, untuk menunjukkan kasih atau untuk bergantung pada Allah.

Ada beberapa ujian Allah baik yang berat ataupun ringan, namun semuanya memiliki makna kekekalan. Allah ingin agar kita semua lulus dalam ujian-ujian kehidupan ini, sehingga Ia tidak pernah membiarkan ujian-ujian tersebut melampaui kasih karunia Dia kepada kita (1 Korintus 10:13). Setiap kali kita lulus sebuah ujian, Allah melihat dan membuat rencana untuk memberi kita upah di dalam kekekalan (Yakobus 1 : 12)

Kedua
: Kehidupan di bumi adalah sebuah kepercayaan
Waktu yang kita miliki di bumi, tenaga, kepandaian, kesempatan, hubungan, kekayaan, dll adalah pemberian Allah yang Dia percayakan untuk kita kelola dan pelihara (Mazmur 24:1). Kita tidak pernah benar-benar memiliki apapun selama di bumi. Allah hanya meminjamkan bumi kepada kita sewaktu kita hidup. Bumi adalah milik Allah.

Pekerjaan pertama yang Allah berikan kepada manusia adalah mengelola dan memelihara "barang-barang" Allah. Segala sesuatu yang kita miliki harus kita perlakukan sebagai sebuah kepercayaan yang Allah tempatkan di tangan kita (1 Korintus 4 : 7b) . Budaya kita manusia, berkata : "Jika engkau tidak memilikinya, engkau tidak akan memperdulikannya". Tetapi orang-orang kristen hidup dengan standar yang lebih tinggi. "Karena Allah memilikinya, saya harus memeliharanya dengan sebaik-baiknya”.

Pada akhir kehidupan kita di dunia, kita akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik kita telah mengurus apa yang Allah percayakan kepada kita. Ini berarti "segala sesuatu" yang kita kerjakan, bahkan tugas-tugas harian yang sederhana memiliki implikasi kekal.

Jika kita memperlakukan segala sesuatu sebagai suatu kepercayaan, Allah menjanjikan 3 imbalan dalam kekekalan :

Pertama :


Kita akan diberikan peneguhan Allah, Dia akan berkata "Baik sekali perbuatanmu".

Kedua :

Kita akan menerima promosi dan diberi tanggungjawab yang lebih besar di dalam kekekalan: "Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara besar”.


Ketiga :
Kita akan dihormati dengan suatu perayaan "Masuklah dan larutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25 : 21).

Banyak orang gagal menyadari bahwa uang merupakan sebuah ujian sekaligus kepercayaan dari Allah. Allah memakai keuangan untuk mengajarkan kita mempercayai-Nya, dan bagi banyak orang, uang adalah ujian terbesar. Allah melihat bagaimana kita mempergunakan uang untuk menguji bagaimana kita layak dipercayai-Nya (Lukas 16 : 11). Itulah kebenaran penting, Allah berfirman bahwa ada hubungan langsung antara cara kita menggunakan uang kekayaan dunia menentukan seberapa banyak Allah mempercayai kita dengan berkat-berkat rohani, kekayaan rohani.

Apakah cara kita mengelola keuangan telah menghalangi Allah untuk melakukan lebih banyak perkara-perkara di dalam kehidupan kita ? Bisakah kita dipercaya dengan berbagai kekayaan rohani ?

Yesus berkata, "... Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak lagi dituntut".

Sumber : Rick Warren dalam buku "The Purpose Driven Live" bab V

Comments

No responses to “Memandang Kehidupan Dari Sudut Pandang Allah”

Poskan Komentar