Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Berjuang Melawan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Pemikiran bahwa Tuhan mengasihi saya tidak pernah terlintas dalam pikiran saya ketika saya harus terengah-engah menahan cengkeraman erat tangan suami di leher saya. Suami saya adalah seorang pria yang sangat pemarah dan tidak mempercayai pernikahan, ia membenci wanita.

Jika saja dulu saat mengenalnya ia telah datang dengan daftar kata apa saja yang tidak boleh digunakan ataupun sebuah petunjuk manual apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berada di sekitarnya, mungkin saya dapat diselamatkan dari tahun penuh memar, mulut dan gigi yang rusak, dan luka dalam yang dapat terlihat jelas oleh siapa saja.

Mengapa Tuhan sepertinya tidak pernah memalingkan wajah-Nya kepada saya? Mengapa saya diizinkan masuk ke dalam situasi demi situasi yang hanya memicu kemarahan pria ini? Saya tidak pernah merasakan cinta – dari siapapun – selama masa-masa itu.

Tumbuh di lingkungan gereja, saya pernah mendengar bahwa “Yesus mencintai anak-anak kecil”. Hamil sebelum menikah pada usia 18 tahun mejadi sebuah kursus kilat untuk bertumbuh dewasa. Tidak ada ‘anak kecil’ di sini – yang ada hanyalah pengantin wanita yang sedang mengalami morning sickness.

Dalam waktu dua minggu setelah saya mengatakan “Saya bersedia” di altar, saya sudah menjadi ayunan di tangannya. Kehamilan tidak merubah hal itu. Seorang bayi yang baru lahir tidak merubah hal itu, dan kehamilan berikutnya tidak merubah hal itu menjadi lebih baik. Saya dipukul di kepala dan hanya bisa mengatakan tidak apa-apa sebelum akhirnya menyadari dampak pukulan itu dan tidak dapat lagi berpikir jernih. Ketika saya sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, melindungi diri sendiri dan melindungi anak-anak saya menjadi hal utama yang ada dalam pikiran saya. Jika Tuhan mencoba berbicara kepada saya, saya tidak akan dapat mendengar-Nya. Jika saya mencoba untuk mencari tahu, sayalah yang tersesat bukan Dia.

Saya tersesat ketika saya berteriak kepada suami saya, “Tolong, hentikan!”. Saya tersesat ketika saya ditarik dari tempat tidur dan dipaksa untuk mencuci piring pada pukul 2 pagi. Saya tersesat ketika saya harus tidur di sofa pada malam musim dingin tanpa bantal maupun selimut. Saya tersesat ketika saya memohon kepada suami saya untuk “Bunuh saja saya dan akhiri semua penderitaan ini”. Saya benar-benar tersesat ketika kepala saya mengeluarkan darah, meludahkan potongan gigi, dan saya tidak dapat mengangkat tangan saya karena rasa sakit.

Setelah bertahun-tahun menerima penyiksaan dan mencoba untuk berubah agar dapat menikmati kehidupan normal, sesuatu dalam diri saya bermunculan seperti naga yang bangkit dalam kabut untuk memuntahkan apinya kepada para penjahat seperti cerita-cerita dongeng.

Saya melawan balik. Setan tidak ingin saya melawan balik dan meninggalkan pernikahan yang meremehkan dan merusak serta menghancurkan roh dan masa depan saya serta anak-anak saya. Apa yang membuat saya begitu berani? Keinginan untuk bertahan hiduup semata? Melindungi diri sendiri? Kegilaan sesaat? Katakan apa saja yang Anda inginkan, tapi lawan balik apa yang sudah saya lakukan. Tentu saja Tuhanlah yang telah membimbing tindakan saya. Dengan satu keputusan dalam kesuraman hidup, saya menggendong bayi saya dan melarikan diri. Itulah cara saya melawan.

Dengan adanya jarak di antara kami, pikiran saya menjadi fokus. Bulan demi bulan yang memisahkan kami membuat saya dapat menjalankan rencana saya. Dengan meninggalkan kekerasan sebagai masa lalu, saya dapat mendengar Tuhan. Dengan Tuhan di dalam pikiran saya, saya dapat belajar tentang Yesus. Dan dengan Yesus di dalam hati saya, saya dapat bertumbuh di dalam Dia.

Yesus tidak ingin kita berada di dalam situasi yang tidak aman. Amsal 22:24-25 berkata, “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.”

Amsal 29:22 berkata, “Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya.”

Jika seseorang melakukan dosa terhadap Anda dengan melakukan kekerasan maupun pelecehan secara verbal, ingatlah bahwa Yesus tidak ingin Anda berada di dalam situasi itu. Ceritakan kepada seseorang mengenai kondisi Anda. Saudara di dalam kristus akan mendengarkan Anda. Teleponlah seorang teman. Telepon gereja. Teleponlah tempat penampunan wanita korban kekerasan di kota Anda. Hubungi saja mereka.

Ingatlah sebagaimana dinyatakan dalam 1 Korintus 13:5, “(Kasih) Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

Ketika (dalam Lukas 10:38-41), Yesus mengatakan kepada Martha bahwa Ia tidak akan meminta Maria untuk bangun saat sedang mendengarkan Ia untuk membantu Martha mempersiapkan malam malam, Yesus sedang melawan budaya pada masa itu; wanita bekerja sedangkan pria duduk dan belajar. Pada hari itu, Yesus membebaskan wanita dari kungkungan budaya.

Beralih dari korban menjadi pemenang merupakan hasil mulia yang ditawarkan Yesus melalui kasih-Nya. Kita bisa menerapkan janji Allah yang ditujukan pada umat-Nya di Yeremia 30:17 kepada diri kita sendiri. “Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab mereka telah menyebutkan engkau: orang buangan, yakni sisa yang tiada seorang pun menanyakannya.”

Tuhan memiliki rencana yang besar bagi masa depan Anda dan anak-anak Anda. Jadilah berani dan berserulah agar kehendak-Nya jadi atas hidup Anda. Ingatlah bahwa “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya”, sebagaimana tertulis di dalam Amsal 29:11. Tegakkan kepala Anda. Ambil anak Anda dan carilah keselamatan. Yesus mengasihi setiap putri-Nya dan ingin agar kita selamat!


Sumber : Kelly J. Stigliano - cbn.com/jawaban.com

Comments

No responses to “Berjuang Melawan Kekerasan Dalam Rumah Tangga”

Poskan Komentar