Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Melakukan Yang Mustahil

Setiap orang Kristen terpanggil untuk melakukan yang tidak mungkin. Kita terpanggil untuk menjadi seperti Kristus, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pernah Dia lakukan. Yesus adalah Allah di muka bumi, dan kita adalah manusia yang bergumul untuk bangkit dari kedalaman dosa dan kegelapan. Akan tetapi, ketika Yesus berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (Matius 19 : 26).
Panggilan dan garis hidupmu adalah melakukan hal yang tidak mungkin. Kalau engkau dipanggil hanya untuk melakukan apa yang engkau bisa, engkau tidak akan memerlukan Roh Kudus. Kalau engkau berjalan dalam Roh, engkau akan terus melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan manusia. Ketika engkau berjalan dalam tujuan hidupmu, engkau tidak boleh lupa bahwa”… bagi Allah segala sesuatu mungkin”.

Pekerjaan Yang Lebih Besar
Tuhan kelihatannya senang melakukan hal yang tidak mungkin melalui manusia. Kalau kita ingin menghidupi suatu kehidupan yang memuliakan Dia, kita harus dilemparkan dalam situasi untuk melakukan hal yang tidak mungkin. Sebelum akhir dari akhir zaman tiba, akan ada suatu umat yang berjalan di muka bumi seperti ketika Yesus dulu ada di bumi, tetapi melakukan hal-hal yang lebih besar seperti yang Dia janjikan dalam Yohanes 14 : 12 :”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.”
Tuhan tidak berkata bahwa “orang kudus super” akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pernah Dia lakukan. Dia berkata bahwa mereka yang percaya kepadaNya akan melakukannya. Apakah kita benar-benar percaya kepadaNya ? Percaya kepadaNya bukanlah hanya percaya bahwa Dia pernah ada di bumi dan melakukan hal-hal besar, tetapi bahwa Dia hidup sekarang ini, duduk di atas segala kuasa dan otoritas. Dia masih tetap sama hari ini seperti ketika ada di bumi. Kalau engkau percaya kepadaNya, engkau akan melihat Dia dalam hidupmu hari ini. Iman yang sebenarnya kepada Dia adalah percaya kepadaNya untuk bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pernah Dia lakukan. Percaya pada Alkitab adalah percaya kepada Tuhan untuk melihat hal-hal yang sama terjadi dalam hidup kita sendiri.

Kehidupan Yang Penuh Mukjizat
Kekristenan yang sebenarnya adalah kehidupan yang penuh mukjizat. Ini adalah kehidupan percaya kepada Tuhan sekarang ini. Dari awal Tuhan telah melakukan mukjizat-mukjizat besar bagi umatNya, dan Dia menyimpan yang terbaik untuk akhir zaman. Untuk melihat pekerjaanNya, dibutuhkan iman yang didasarkan pada kasih dan karakter Roh Kudus dalam hidup kita. Kita harus berjalan dalam buah Roh, tetapi tidak boleh merendahkan pentingnya demonstrasi kuasa Allah demi injil. Paulus menulis dalam 1 Korintus 2 : 4-5 dan 4-20 :”Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.
Salah satu karakteristik dasar Tuhan adalah bahwa Dia itu penuh kuasa. Kalau kita ingin mengenal Dia, maka mengenal kuasanya akan merupakan bagian dari pengenalan itu. Kalau kita harus menyatakan Dia, maka menyatakan kuasaNya itu penting. Karena itu Paulus juga menulis dalam 1 Korintus 1 : 6-7 :”sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan diantara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun…”
Kesaksian tentang Kristus diteguhkan di antara mereka dengan semua karunia yang bekerja di tengah mereka. Karunia-karunia Roh adalah aspek-aspek Kristus, dan melaluinya Dia melakukan pekerjaanNya. Cara Dia hidup adalah menggunakan karunia-karunia itu untuk menyatakan kasihNya. Ketika karunia-karuniaNya bekerja sepenuhnya di dalam gereja, maka Dia pun sepenuhnya dinyatakan melalui kita.

Rahasia Mukjizat
Satu karakteristik dasar dari cara hidup Tuhan adalah bahwa Dia bisa mengambil sedikit dari apapun dan membuatnya cukup. Kita melihat hal ini dengan apa yang Dia lakukan dengan roti dan ikan. BagiNya memiliki sedikit bukanlah kekurangan tetapi suatu kemungkinan untuk melihat kemuliaan Tuhan. Berapa besar kemuliaan yang diterima Tuhan kalau dalam situasi ini : Dia memiliki segerobak penuh roti dan ikan dan memberi makan orang-orang dari kelimpahan ini ? Kalau kelihatannya kita hanya memiliki sedikit dari panggilan yang diberikan untuk kita lakukan, mungkin kita ada di tempat yang memang Dia inginkan. Kalau kita ingin melihat mukjizat-mukjizat Tuhan setiap hari, kita harus mau ditempatkan di tempat dimana kita harus melihat mukjizat-mukjizat itu setiap hari.

Kita Telah Bertemu Musuh
Francis Frangipane bisa berkata,”Gereja sekarang memiliki segala sesuatu kecuali Tuhan”. Dalam banyak hal, ini memang benar. Kalau Roh Kudus tidak muncul dalam kebaktian-kebaktian kita, kita memiliki cukup banyak cara agar pertunjukan tetap bisa berjalan sehingga mungkin tidak ada orang yang tahu. Apakah kebaktian-kebaktian kita penuh dengan hadirat Tuhan atau penuh dengan diri kita sendiri ? Apakah kita menjadi suam karena kita memiliki sikap Laodikia yang kaya banyak hal ? Kesuaman adalah kondisi paling buruk bagi orang Kristen. Seperti kata Tuhan, lebih baik jika kita panas atau dingin karena Dia akan memuntahkan yang suam dari mulutNya (Wahyu 3 : 16).
Kesuaman adalah akibat dari salah satu delusi paling kuat, yaitu bahwa kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan. Bagimana mungkin orang yang mengenal Allah yang hidup, Api yang menghanguskan, tidak menyala-nyala bagi Dia ? Utusan-utusanNya adalah api yang menyala ! (Mazmur 104 : 4). Banyak dari kesuaman di gereja hari ini merupakan akibat dari penyimpangan injil. Ketika Tuhan memanggil manusia, mereka harus meninggalkan semuanya untuk mengikuti Dia. Ketika kita memanggil orang hari ini, seringkali kita tidak minta mereka untuk meninggalkan apapun termasuk dosa-dosa mereka, tetapi hanya agar mereka datang dan mendapat sesuatu. Tetapi itu akan berubah. Ada suatu umat yang akan segera bangkit yang akan memiliki kekayaan yang jauh lebih besar daripada apa yang bisa disediakan oleh dunia. Mereka akan mengenal kedalaman kekayaan Kristus dan mereka akan mulai menyediakan kebutuhan-kebutuhan dunia yang sebenarnya.
Ada suatu sikap umum di dalam banyak gereja hari ini bahwa kita harus mempunyai banyak, atau harus besar dan menonjol agar bisa menjadi saksi kerajaan. Tetapi ini berlawanan dengan Firman. Tuhan menerima kemuliaan lebih besar ketika sesuatu yang besar dilahirkan dari sesuatu yang kecil dan kelihatan tidak berarti seperti yang kita baca dari 1 Korintus 1 : 26-29 :"Ingat saja saudara-saudara bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil : menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, Supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”

Batu Sandungan Besar
Mengapa Tuhan tidak menghendaki ada manusia yang memegahkan diri ? Karena memegahkan diri adalah bentuk kesombongan. Kesombongan menjadi penyebab kejatuhan setan, dan hamper setiap kejatuhan semenjak itu. Setan mulai berpikir bahwa hikmat, kekuatan, dan kemuliaan yang diberikan kepadanya datang dari dirinya sendiri, bukan dari Tuhan. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita dipakai Tuhan karena kebesaran atau kemampuan kita. Seperti dikatakan 1 Korintus 1 : 26 – 29 dengan jelas, kalau kita dipakai luar biasa, itu lebih disebabkan karena ketidakmampuan dan kelemahan kita daripada kemampuan dan kekuatan kita.
Karena itu Ia katakan :”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4 : 6). Jalan tercepat untuk kehilangan anugerah yang diberikan kepada kita adalah menjadi sombong dengan anugerah itu. Iman yang sebenarnya adalah bentuk tertinggi dari kerendahan hati. Iman yang sebenarnya adalah iman kepada Tuhan, bukan pada diri kita, dan bukan pada iman kita. Akan tetapi kerendahan hati palsu yang berfokus secara berlebihan pada ketidakmampuan kita juga akan menghalangi kita melihat kemuliaan Tuhan.
Beginilah firman Tuhan semesta alam : Perhatikanlah keadaanmu ! Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu ; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman Tuhan. Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa ? Demikianlah firman Tuhan semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya. Dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.”
Prinsip yang sama juga ditemukan dalam 2 Korintus 9 : 6 – 11 :”Camkanlah ini : Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis :”Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu. Kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.”
Ini juga dikuatkan dalam Amsal 11 : 24 – 25 :”Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”


Ringkasan
Demonstrasi dasar dari imana adalah kesetiaan dan ketaatan (Roma 1 : 5, 16 : 26). Ketika kita berjalan dalam ketaatan kepada Tuhan dan FirmanNya, kita bisa mengharapkan kelimpahan dari segala perbuatan baik. Akan tetapi itu tidak berarti Dia akan meletakkannya dalam rekening bank kita sebelum kita membutuhkannya. Kita harus sadar bahwa Dia akan menerima lebih banyak kemuliaan ketika kita mempunyai sedikit di tangan dan Dia melipatgandakannya. Dengan cara ini kita belajar untuk menarik persediaanNya yang tak terbatas lebih dari persediaan kita yang terbatas. Dengan cara ini mukjizat mulai menjadi kehidupan Kristen yang normal sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Ibrani 11 : 6 berkata :”Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Dia memberi upah kepada mereka yang percaya kepadaNya. Iman yang benar melihat Dia sekarang ini, bukan hanya yang dahulu. Inilah panggilanmu. Inilah tujuan hidupmu sebenarnya.

Sumber : Rick Joiner, Doing the Impossible
Diterjemahkan seizin MorningStar Publications and Ministries

Comments

No responses to “Melakukan Yang Mustahil”

Poskan Komentar