Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Upah Dosa

Kita sudah membicarakan peristiwa-peristiwa ketika kesukaran dan kesulitan datang menyapu kehidupan kita tanpa alasan yang jelas. Kecelakaan, kematian, kesakitan, gempa bumi, kebakaran, kekerasan, dan sebagainya dengan sendirinya membuat orang-orang yang selamat bertanya,”Apakah kesalahan kami hingga kami harus mengalami hal ini ?” Ketidakmampuan mereka untuk mengaitkan “maksud Allah” yang tidak dapat dijelaskan ini dengan perilaku mereka yang salah seringkali menimbulkan perasaan dikhianati dan dikorbankan. Rasanya benar-benar tidak adil.

Namun, ada satu lagi sumber kepedihan dan penderitaan dalam hidup kita yang harus dipertimbangkan. Ini diuraikan Dr. Karl Menninger, ahli psikiater di dalam bukunya “Whatever Became of Sin ?” Ia menulis konsep yang nyaris terlupakan tentang ketidaktaatan kepada Allah dan bagaimana hal ini merusak kesejahteraan kita. Sebenarnya, banyak penderitaan yang membuat Allah sering disalahkan karena dosa model lama. Saya tidak merujuk pada dosa Adam, tetapi pada perilaku dosa spesifik yang merusak di dalam keluarga manusia.

Alkitab menjelaskan bahwa ada hubungan langsung antara ketidaktaatan kepada Allah dan konsekuensi berupa kematian. Yakobus menggambarkan hubungan tersebut demikian : ”Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena is diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1 : 14 – 15).

Semua dosa mengandung karakteristik maut itu. Ini buka berarti Allah duduk saja di surga dan bertekad untuk menganiaya mereka yang berbuat kesalahan. Akan tetapi, Ia melarang perilaku tertentu karena Ia tahu itu akhirnya akan menghancurkan korbannya. Bukan Allah yang menyebakan kematian, melainkan dosa.Dosa bisa menjadi kanker dan menghabiskan orang yang memeliharanya.

Saya percaya banyak pencobaan dan godaan yang menghalangi kita akibat perbuatan kita sendiri. Beberapa diantaranya adalah akibat langsung dari dosa. Dalam kejadian lain, kepedihan yang kita alami adalah akibat dari keputusan yang tidak bijaksana. Kita bisa membuat kekacauan seperti itu dengan hidup kita karena kebodohan dan tiadanya tanggung jawab.

Kita terlalu banyak minum minuman keras atau kecanduan judi atau mengizinkan pornografi menguasai pikiran kita. Kita mengemudi terlalu cepat dan bekerja seperti tidak ada hari esok. Kita menantang atasan dengan tidak hormat dan kemudian menjadi marah ketika ia menghantam balik. Kita membelajankannya uang yang tidak kita miliki dan akibatnya tidak dapat membayar kembali. Kita marah dan bertengkar di rumah sehingga menimbulkan kesengsaraan bagi diri sendiri dan keluarga. Kita tidak hanya mengundang masalah, tetapi malah mencarinya. Kita bermain-main dengan ketidaksetiaan. Kita melanggar hukum Allah dan kemudian dengan lugu percaya bahwa kita sudah mengalahkan nasib. Lalu, ketika “upah” dosa dan kebodohan itu jatuh tempo, kita menghadapkan wajah kita yang terguncang ke surga dan berseru, “Mengapa saya, Tuhan ?” Sebenarnya, kita menderita akibat wajar dari perilaku berbahaya yang pasti menghasilkan penderitaan.

Tentu saja, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua penyakit fisik atau sakit hati adalah akibat dosa. Namun, ada situasi dimana kaitannya tidak dapat disangkal. Saya berpikir tentang penyakit yang timbul akibat penganiayaan tubuh sendiri, seperti kanker paru-paru adalah akibat dari merokok, atau sirosis (pengerasan hati) yang disebabkan oleh kecanduan alkohol, atau penyakit mental yang dipicu oleh pemakaian narkoba. Ini adalah luka yang diakibatkan oleh diri sendiri.

Contoh yang lebih relevan sekarang ini adalah HIV. Pertanyaan yang sering diajukan adalah : Apakah Allah mengirim epidemi AIDS sebagai hukuman bagi perilaku homoseksual ? Saya percaya dengan pasti bahwa jawaban yang benar adalah tidak ! Banyak korban yang tidak bersalah, termasuk bayi yang baru lahir, menderita dan sekarat akibat penyakit ini. Kutuk dari Allah akan lebih spesifik pada pelakunya. Namun, penularan HIV disebarkan melalui sodomi, pemakaian narkoba, dan hubungan seks bebas, sehingga perilaku dosa membantu menciptakan epidemi yang sekarang mengancam keluarga manusia.

Barangkali sebuah kisah penutup ini akan membantu mengilustrasikan ke mana arah kita dalam pergumulan antara yang baik dan yang jahat.

Saya pernah mendengar kisah seorang misionaris di Afrika yang kembali di pondoknya pada suatu siang. Ketika masuk lewat pintu depan, ia berhadapan dengan seekor ular piton raksasa di atas lantai. Ia berlari kembali ke truknya dan mengambil pistol kaliber 45. Sayangnya, hanya tersisa satu butir peluru di dalamnya dan tidak ada amunisi ekstra. Dengan hati-hati, misionaris tersebut menembakkan satu-satunya peluru itu ke kepala ular. Ular ini luka parah, tetapi tidak langsung mati. Dengan kalut ular tersebut memukul dan menggeliat di atas lantai. Sewaktu mundur ke halaman depan, misionaris tersebut dapat mendengar perabot yang patah dan lampu yang hancur. Akhirnya, semua tenang dan dengan hati-hati ia masuk kembali ke rumah. Ia mendapatkan ular tersebut sudah mati, tetapi seluruh bagian dalam pondoknya berantakan. Pada saat sekarat, ular piton tersebut melepaskan seluruh kekuatannya yang dahsyat dan menghantam semua yang kelihatan.

Belakangan, misionaris tersebut membuat sebuah perbandingan antara ular piton dengan ular bisa bernama iblis. Musuh kita sudah terluka parah oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Dalam Kejadian 3 : 15 Tuhan berfirman kepada ular itu,”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya ; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”) Jadi, hari-hari ular itu sudah dihitung dan ia mengetahui hal itu. Dalam upaya terkahirnya yang penuh keputusasaan untuk menggagalkan kehendak Allah dan menipu umat-Nya, iblis melepaskan segenap kemarahannya. Ia mendorong tumbuhnya kebencian dan kebohongan dan agresi di tempat kepentingan manusia berbenturan. Iblis khususnya memandang rendah lembaga keluarga, yang merupakan lambang dari hubungan antara Yesus Kristus dengan gereja-Nya.

Bagaimana kita dapat bertahan dalam lingkungan yang berbahaya seperti ini ? Bagaimana kita dapat mengatasi kemarahan iblis pada hari-hari terakhirnya ? Harus diakui, kita tidak punya peluang dengan kekuatan kita sendiri. Akan tetapi, dengarkan apa kata Yesus tentang para pengikut-Nya :”Domba-domba-Ku mendengarkan suara-ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10 : 27 – 29).

Karena Sang Penebus, kita tidak perlu takut kepada penipu besar itu – bapa segala dusta. Kita dijanjikan di seluruh Alkitab bahwa kita tidak akan pernah ditinggalkan melakukan peperangan kita sendirian. Yohanes, murid yang Yesus kasihi, menuliskan kata-kata dorongan ini sesudah melayani Tuhan Yesis seumur hidup :”Anak-anakku, dalam hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (I Yohanes 2 : 1 – 2).

Rasul Paulus menegaskan bahwa dosa tidak perlu berkuasa atas kita. Ia menuliskan :
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (Roma 5 : 1 - 2).

Ituah berita besar bagi semua orang yang letih lesu dan terbeban berat oleh tekanan hidup. Ini semua dapat disimpulkan menjadi konsep sedehana ini : Allah tidak menentang kita karena dosa kita. Ia mendukung kita melawan dosa kita. Itu sangat menentukan.

Sumber : James C. Dobson, Ph. D dalam bukunya “Ketika Tuhan Tidak Dapat Dimengerti”

Comments

No responses to “Upah Dosa”

Poskan Komentar