Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

Melampaui Rintangan Pengkhianatan

Tidak ada yang lebih Tuhan inginkan dari kita selain melatih iman kita. Ia tidak akan melakukan apaapun untuk merusaknya, dan kita tidak dapat menyenangkan Dia tanpa iman. Untuk mendefinisikan istilah itu sekali lagi, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11 : 1). Iman bergantung kuat sementara bukti akan membuat kita melompat keluar. Iman menetapkan untuk mempercayai Dia walaupun Ia tidak menjawab semua pertanyaan atau bahkan tidak menjamin perjalanan kita bebas dari penderitaan.

Tidak ada ilustrasi yang lebih baik tentang kesetiaan ini dibanding terlihat dalam bagian kedua Ibrani pasal 11 dimana tertulis tentang para “pahlawan iman”, dan ini memiliki hubungan besar dengan diskusi kita. Di sini diuraikan tentang pria dan wanita bertekun dalam iman mereka di dalam keadaan yang ekstrim. Mereka menjadi sasaran segala macam penderitaan dan bahaya demi Salib. Sebagian disiksa, dipenjara, dilempari batu, dicambuk, digergaji, dan dibunuh dengan pedang. Mereka miskin, dianiaya, dihukum, dan berpakaian seadanya. Mereka mengembara di padang gurun, di pegunungan, di dalam gua, di celah-celah gunung. Yang paling penting adalah bahwa para “pahlawan iman” tersebut mati tanpa menerima apa yang sudah dijanjikan. Dengan kata lain, mereka teguh berpegang pada iman hingga mati walaupun Allah tidak menjelaskan tentang apa yang sedang Ia kerjakan melalui hidup mereka (Ibrani 11 : 35 – 40).

Tanpa mengurangi kesakralan Alkitab, saya ingin menggugah inspirasi Anda untuk melihat para pahlawan iman zaman modern yang saya kumpulkan. Terdaftar di antara para raksasa iman ini beberapa manusia luar biasa yang mendapat tempat istimewa di hati Allah yang besar.

Pada puncak daftar saya terdapat beberapa anak laki-laki dan perempuan yang saya kenal selama masa 14 tahun saya menjadi staf pengurus di Rumah Sakit Anak, Los Angeles. Kebanyakan anak-anak ini menderita penyakit yang sangat mematikan, walaupun sebagian menderita gangguan kronis yang merusak dan mengacaukan masa kanak-kanak mereka. Sebagian dari mereka di bawah usia 10 tahun, tetapi iman mereka kepada Yesus Kristus tidak terguncangkan. Mereka mati dengan kesaksian di bibir mereka, mereka menyaksikan kebaikan Allah sementara kondisi tubuh kecil mereka semakin memburuk. Sungguh suatu penerimaan luar biasa yang pasti telah mereka terima ketika mereka bertemu dengan Dia yang berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku” (Markus 10 : 14)

Seorang anak laki-laki Amerika keturunan Afrika yang berusia lima 5 tahun tidak akan pernah dilupakan oleh orang-orang yang mengenalnya. Seorang perawat yang bekerja bersama dengan saya, Gracie Schaeffler, telah mengurus anak muda ini selama hari-hari terakhir dalam hidupnya. Ia sekarat karena kanker paru-paru yang merupakan penyakit yang mengerikan dalam stadium akhirnya. Paru-paru penuh dengan cairan, dan si pasien tidak akan dapat bernafas lagi. Sungguh suatu klaustrofobia (penyakit karena rasa takut akan ruang sempit dan tertutup) yang mengerikan, khususnya bagi seorang anak kecil.

Anak kecil ini mempunyai seorang ibu Kristen yang mengasihinya dan terus mendampinginya selama masa pencobaan yang berat dan panjang tersebut. Ia memangku anaknya dan berbicara dengan lembut mengenai Tuhan. Secara naluri, wanita ini menyiapkan putranya untuk jam-jam terakhir yang segera tiba. Gracie mengatakan pada saya bahwa ia masuk ke ruang anak ini pada suatu hari ketika maut menjelang, dan ia mendengar anak ini berkata ia mendengar bunyi lonceng.

”Loncengnya berbunyi, Mama”, katanya. “Aku bisa mendengarnya.” Gracie mengira anak itu berhalusinasi karena ia sudah mulai kehilangan kesadaran. Ia pergi dan kembali beberapa menit kemudian dan kembali mendengar anak ini mengatakan tentang bunyi lonceng yang didengarnya.

Perawat tersebut berkata kepada si ibu, “Saya yakin Anda tahu anak Anda mendengar hal-hal yang tidak ada. Ia mengalami halusinasi karena penyakitnya.”

Si ibu mendekap anaknya lebih erat ke dadanya, tersenyum dan berkata, “Tidak, Nona Schaeffler. Ia tidak berhalusinasi. Saya katakan kepadanya bila ia takut – karena tidak dapat bernafas – apabila ia mau mendengarkan dengan cermat, ia dapat mendengar lonceng di surga berbunyi untuknya. Itulah yang ia bicarakan sepanjang hari”.

Anak yang berharga ini meninggal di atas pangkuan ibunya malam ini dan ia masih berbicara tentang lonceng di surga ketika para malaikat datang menjemputnya. Sungguh anak ini bagai anggota pasukan yang sangat berani. Keberaniannya tidak diberitakan di surat kabar keesokan harinya. Namun, ia dan ibunya tinggal selamanya di dalam para “pahlawan iman” kami.

Contoh saya berikutnya untuk keabadian iman adalah seorang pria yang tidak pernah saya temui, walaupun ia menyentuh hidup saya ketika ia kehilangan hidupnya. Saya mengenalnya dari sebuah dari drama dokumenter di televisi yang saya lihat bertahun-tahun. Produsernya mendapat izin dari seorang ahli kanker untuk menaruh kamera di kliniknya. Kemudian, dengan persetujuan dari tiga orang pasien, dua pria dan satu wanita, ia merekan di atas film saat masing-masing dari mereka mengetahui mereka terkena kanker ganas stadium lanjut. Keterkejutan mereka, ketakutan, dan kemarahan terekan dalam rincian grafis. Sesudahnya, tim dokumenter mengikuti ketiga keluarga ini melewati proses pengobatan dengan pasang surutnya, harapan dan kekecewaan,kepedihan dan teror. Saya duduk terpaku sementara drama antara hidup dan mati terurai di atas layar. Akhirnya, ketiga pasien tersebut meninggal dunia, dan program tersebut berakhir tanpa komentar atau editorial.

Begitu banyak hal yang harus dikatakan. Yang membuat saya terkesan adalah cara-cara yang berbeda dari ketiga orang ini sewaktu menghadapi keadaan yang menakutkan. Dua dari mereka agaknya bukan orang yang beriman yang bereaksi dengan kemarahan dan kepahitam. Mereka tidak hanya berperang dengan penyakit mereka, tetapi agaknya juga berperang dengan semua orang lain. Hubungan pribadi mereka dan bahkan pernikahan mereka terguncang, khususnya ketika saat akhir semakin dekat. Ingatlah, saya bukannya mau bersikap kritis. Kebanyakan dari kita akan menanggapi dengan cara yang sama seandainya dihadapkan dengan kematian yang mengintai. Akan tetapi, itulah yang membuat orang yang ketiga begitu mengilhami saya.

Ia adalah seorang pendeta kulit hitam sederhana dari sebuah gereja pusat kota kecil. Usianya di akhir enam puluhan dan sudah melayani Tuhan sepanjang usia dewasanya. Kasihnya kepada Tuhan begitu mendalam sehingga tercermin dalam semua yang diucapkannya. Ketika ia dan istrinya diberitahu bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi, mereka tidak memperlihatkan kepanikan. Dengan tenang mereka bertanya kepada dokter apa arti semua itu. Ketika dokter menjelaskan program pengobatan dan apa yang mereka dapat antisipasi, dengan sopan mereka berterima kasih kepadanya atas kekhawatiran si dokter dan mereka pun pergi. Kamera mengikuti pasangan ini ke mobil tua mereka dan menguping sementara mereka menundukkan kepala dan mengadakan komitmen ulang kepada Tuhan.

Dalam bulan-bulan berikutnya, si pendeta tidak pernah kehilangan ketenangannya. Tidak pula ia mengoceh tentang penyakitnya. Ia tidak melakukan penyangkalan. Ia benar-benar menerima kanker yang dideritanya dan kemudian hasilnya ia tahu bahwa Tuhan memegang kendali dan ia menolak imannya terguncang.

Kamera hadir pada Minggu terakhirnya di gerejanya. Ia benar-benar berkhotbah pagi itu dan berbicara terbuka mengenai kematiannya yang mendekat. Seingat saya, inilah yang ia katakan :

“Sebagian dari Anda pernah bertanya kepada saya apakah saya marah kepada Tuhan karena penyakit yang telah menguasai tubuh saya. Saya katakan kepada Anda semua secara jujur bahwa saya tidak mempunyai apa pun selain kasih di dalam hati untuk Tuhan saya. Ia tidak melakukan ini pada saya. Kita hidup di dalam dunia yang penuh dosa di mana penyakit dan kematian adalah kutuk yang manusia bawa atas dirinya sendiri. Saya akan pergi ke suatu tempat yang lebih baik di mana tidak akan ada lagi air mata, penderitaan, dan kepedihan hati. Jadi janganlah bersedih untuk saya. Tuhan kita menderita dan mati bagi dosa kita. Mengapa saya tidak boleh ikut menderita bersama-Nya ?

Lalu, ia mulai bernyanyi, tanpa iringan musik, dengan suara tuanya yang pecah, dan beginilah syairnya :

Must Jesus bear the cross alone
(Haruskah Yesus memikul salib sendirian)
No, there’s a cross for everyone
(Tidak, ada sebuah salib untuk setiap orang)
And there’s a cross for me
(Dan ada sebuah salib bagiku)

How happy are the saint above
(Betapa bahagianya para orang kudus di atas sana)
Who once went sorr’wing here
(Yang pernah menderita di sini)
But now they taste unmingled love
(Tetapi, sekarang mereka mencicipi kasih yang murni)
And joy without a tear
(Dan sukacita tanpa air mata)

The consecrated cross I’ll bear
(Salib suci yang akan kupikul)
Till death shall set me free
(Hingga kematian akan membebaskanku)
And then go home my crown to wear
(Dan kemudian pulang untuk mengenakan mahkotaku)
For there's a crown for me
(Karena ada sebuah mahkota untukku)


Saya menangis ketika pria lembut ini bernyanyi tentang kasihnya kepada Yesus. Ia terdengar sangat lemah, dan wajahnya tampak tertarik akibat kerusakan oleh penyakit tersebut. Akan tetapi, komentarnya sama berkuasanya dengan komentar yang pernah saya dengar. Perkataannya pagi itu adalah perkataan terakhir dari mimbar, sejauh yang saya tahu. Ia masuk ke dalam keabadian beberapa hari kemudian, di tempat ia bertemu dengan Tuhan yang telah ia layani seumur hidupnya. Pendeta yang tidak disebut namanya ini bersama istrinya mendapat tempat yang menonjol di antara para pahlawan rohani saya.

Ada lebih banyak pahlawan di dalam katalog saya ketimbang yang dapat saya ceritakan dalam buku seukuran ini, tetapi saya akan menolak menyebutkan nama mereka. Tujuan kami, sebagaimana Anda tahu, adalah untuk membantu mereka yang tidak memiliki dasar keyakinan yang tidak begitu kuat. Seandainya setiap orang dikaruniai kegigihan seekor anjing bulldog dan iman Bapa Abraham, maka diskusi seperti ini tidak akan perlu diadakan. Akan tetapi, kebanyakan dari kita bukanlah superstar rohani. Itulah sebabnya gagasan ini dipersembahkan dengan penuh kasih kepada orang-orang yang rohnya terluka karena pengalaman yang tidak dapat mereka mengerti. Potongan teka-teki gambar kehidupan benar-benar tidak cocok satu sama lain sehingga mereka bingung, marah, dan kecewa.

Barangkali Anda ada di antara mereka yang telah berjuang untuk memahami kepedihan tertentu dan alasan Tuhan mengizinkannya terjadi. Seribu pertanyaan yang tak terjawab sudah berputar-putar di dalam benak Anda - kebanyakan dimulai dengan "Mengapa ...?" Anda dengan putus asa ingin mempercayai Bapa dan percaya akan kasih karunia dan kebaikan-Nya. Akan tetapi, jauh di dalam, Anda terperangjap oleh perasaan dikhianati dan ditinggalkan. Tuhan jelas mengizinkan kesulitan Anda terjadi. Mengapa Ia tidak mencegahnya ? Dan mengapa Ia tidak mencoba menjelaskan atau meminta maaf untuk itu ? Ketidaksanggupan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar itu telah menjadi rintangan rohani yang sangat tinggi, dan Anda kelihatannya tidak dapat menemukan jalan untuk mengitari atau melompatinya.

Bagi mereka yang telah berjuang untuk memahami pemeliharaan Allah - saya membawa harapan bagi Anda hari ini ! Tidak, saya tidak dapat memberikan solusi kecil yang pasti untuk semua ketidakkonsistenan yang mengganggu dalam hidup ini. Itu tidak akan terjadi hingga kita bertemu langsung dengan Tuhan. Akan tetapi, hati-Nya sangat lembut terhadap orang yang tertindas dan kalah. Ia mengetahui nama Anda dan Ia telah melihat setiap butir air mata yang Anda teteskan. Ia ada di sana pada setiap kesempatan ketika hidup kita berbelok arah yang salah. Yang kelihatan seperti ketidakpedulian atau kekejaman ilahi adalah suatu kesalahpahaman atau kebohongan iblis.

Bagaimana saya tahu ini benar ? Karena Alkitab dengan tegas mengatakan demikian kepada kita. Sebagai permulaan, Daud menulis, "Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya" (Mazmur 34 : 19). Bukankah itu ayat yang indah ? Betapa membesarkan hati mengetahui bahwa hadirat Raja itu sendiri - Sang Pencipta surga dan bumi - melayang dekat orang yang terluka dan hancur hatinya. Jika Anda dapat memahami sepenuhnya betapa dalamnya Anda dikasihi, Anda tidak akan pernah merasa sendirian lagi. Daud kembali ke gagasan itu dalam Mazmur 103 : 11 : "Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia."

Satu lagi ayat favorit saya adalah Roma 8 : 26, yang memberitahu kita bahwa Roh Kudus benar-benar berdoa untuk Anda dan saya dengan gairah yang bahasa manusia tidak memadai untuk menggambarkannya. Ayat itu mengatakan, "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita ; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa ; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." Sungguh penghiburan besar yang dapat kita ambil dari pemahaman itu ! Ia menyebutkan nama Anda kepada Bapa hari ini, membela kasus Anda dan menceritakan kebutuhan Anda. Oleh karena itu, betapa kelirunya menimpakan kesalahan karena kesulitan Anda pada Sahabat terbaik yang pernah dimiliki umat manusia ! Lepaslah dari kesimpulan lain yang Anda ambil, dan percayalah ini : Ia bukanlah sumber penderitaan Anda !

Apabila Anda sedang duduk di hadapan saya saat ini, Anda mungkin cenderung bertanya, "Kalau begitu, bagaimana Anda menjelaskan tragedi dan penderitaan yang menimpa hidup saya ? Mengapa Allah berbuat ini kepada saya ?" Allah biasanya tidak memilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam hidup ini ! Itulah yang selama ini saya coba katakan. Dia tidak akan memeragakan rencana dan maksud-Nya untuk kita setujui. Kita tidak pernah boleh lupa bahwa Ia adalah Allah. Demikianlah, Ia ingin kita percaya dan yakin akan Dia walaupun ada perkara-perkara yang tidak bisa kita mengerti. Seperti itulah penjelasannya.

Allah tidak pernah menjawab pertanyaan cerdik dari Ayub, dan Dia tidak akan menanggapi semua pertanyaan Anda. Setiap orang yang pernah hidup, menurut pendapat saya, pasti telah menghadapi kontradiksi dan teka-teki serupa. Anda bukan pengecualian.

Nasihat saya yang paling kuat adalah setiap kita menyadari sebelum krisis terjadi, bila mungkin, bahwa kepercayaan kita kepada Dia harus bebas dari pengertian kita. Tidak ada salahnya berusaha mengerti, tetapi kita tidak boleh bersandar pada kemampuan kita untuk mengerti ! Cepat atau lambat kepandaian kita akan mengajukan pertanyaan yang tidak mungkin kita jawab. Pada saat itu, bijaksanalah jika kita ingat firman-nya, "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu" (Yesaya 55 : 9). Dan jawaban kita haruslah, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22 : 42).

Ketika Anda memikirkan hal itu, ada penghiburan terhadap pencobaan dan kesengsaraan hidup. Kita dilepaskan dari tanggung jawab untuk mencoba memikirkan itu semua. Kita tidak diberi cukup informasi untuk menguraikan maksud tersebut. Cukuplah menyadari bahwa perbuatan Allah masuk akal bahkan ketika Dia tidak dapat dimengerti. Apakah pendekatan ini kelihatannya sedikit menyederhanakan, seperti penjelasan yang akan kita berikan kepada seorang anak ? Ya, dan karena alasan yang baik. Yesus menyampaikannya seperti ini, "Aku berkata kepadamu ; Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya" (Lukas 18 : 17).

Akan tetapi, apa yang kita katakan kepada orang yang benar-benar tidak dapat mengerti kebenaran itu ? Nasihat apa yang tersedia bagi orang yang mengalami kepahitan dan sangat marah kepada Allah karena perlakuan buruk yang dirasakan ? Bagaiman ia dapat mengelakkan rintangan pengkhianatan dan memulai hubungan yang baru dengan Tuhan ? Hanya ada satu obat untuk kanker kepahitan ini, yaitu mengampuni pihak yang dirasa sebagai penyerang untuk terakhir kali, dengan pertolongan Tuhan. Walaupun tampak aneh, saya nasihatkan sebagian dari kita perlu mengampuni Allah untuk kepedihan yang dituduhkan sebagai perbuatan-Nya. Anda sudah lama menyimpan kemarahan kepada-Nya. Sekaranglah waktunya untuk melepaskan itu. Jangan salah paham. Adalah urusan Allah mengampuni kita, dan kedengarannya nyaris seperti menghujat bahwa hubungan tersebut dapat dibalik. Ia tidak pernah berbuat salah dan tidaj memerlukan penerimaan kita. Akan tetapi, sumber kepahita tersebut harus diakui sebelum dapat dibersihkan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk menyingkirkannya selain membebaskan Tuhan dari apa pun yang sudah kita tuduhkan, dan kemudian meminta pengampunan-Nya untuk kelemahan iman kita. Inilah yang disebut dengan pemulihan, dan satu-satunya cara agar Anda dapat terbebas sepenuhnya.

Almarhumah Corrie ten Boom pasti sudah mengerti nasihat yang saya berikan hari ini. Ia dan keluarganya dikirim oleh Nazi ke kamp pembantaian di Ravensbruck, Jerman selama tahun-tahun terakhir Perang Dunia II. Mereka mengalami kekejaman yang mengerikan di tangan penjaga S.S dan akhirnya, hanya Corrie yang selamat. Sesudah perang, ia menjadi penulis terkenal dan sering berbicara tentang kasih Allah dan campur tangan-Nya di dalam hidupnya. Namun, di dalam hatinya, ia masih merasakan kepahitan terhadap Nazi atas apa yang sudah mereka perbuat terhadap dirinya dan keluarganya.

Dua tahun sesudah perang, Corrie berbicara di Munich, Jerman, tentang topik pengampunan Allah. Sesudah kebaktian, ia melihat seorang pria berjalan ke arahnya. Inilah yang ia tulis mengenai pertemuan tersebut :

Dan ketika itulah saya melihatnya, berusaha maju dengan mendesak orang-orang lain. Untuk sesaat saya melihat mantel dan topi cokelatnya ; berikutnya, seragam biru dan topi dengan tanda tengkorak dan tulang bersilang. Semuanya terlintas kembali dengan seketika : ruangan besar dengan lampu sangat terang di atas kepala ; tumpukan menyedihkan pakaian dan sepatu di atas lantai bagian tengah ; rasa malu berjalan telanjang melewati pria ini. Saya dapat melihat sosok lemah saudara perempuan saya di sana, tulang rusuknya menonjol di balik kulitnya yang pucat, Betsie, betapa kurusnya kamu !

Tempat itu adalah Ravensbruck dan pria yang sedang berjalan menghampirinya adalah seorang penjaga - salah seorang dari penjaga yang paling keji.

Sekarang orang ini ada di hadapan saya dengan tangan terulur.

"Pesan yang bagus, Fraulein ! Betapa senangnya mengetahui bahwa, seperti Anda katakan, semua dosa kita sudah dibuang ke dasar laut !"

Dan saya, yang baru saja berbicara dengan fasih soal pengampunan, meraba-raba buku saya, bukannya menyambut tangan yang terulur itu. Tentu saja orang ini tidak akan mengingat saya - bagaimana mungkin ia ingat seorang tahanan di antara ribuan wanita itu ?

Namun, saya ingat kepadanya dan cambuk kulit yang mengayun dari ikat pinggangnya. Saya berhadapan muka dengan salah seorang yang menahan saya dan darah saya serasa membeku.

"Anda menyebutkan Ravensbruck dalam ceramah Anda", orang itu berkata. "Saya dulu menjadi penjaga di sana." Tidak, ia tidak ingat saya.

"Tapi, sejak saat itu", ia melanjutkan, "saya menjadi orang Kristen. Saya tahu Allah telah mengampuni saya untuk hal-hal keji yang saya lakukan di sana. Tetapi saya ingin mendengar dari bibir Anda juga, Fraulein", sekali lagi tangan itu terulur - maukah Anda mengampuni saya ?"

Saya berdiri di sana - saya dengan dosa yang lagi dan lagi harus diampuni - dan tidak sanggup mengampuni. Betsie meninggal di tempat itu - dapatkah orang ini menghapus kematiannya yang lambat dan mengerikan hanya dengan minta maaf ?

Tidak mungkin lebih dari beberapa detik orang itu berdiri di sana dengan tangan terulur, tetapi bagi saya rasanya berjam-jam sementara saya bergumul dengan perkara paling sulit yang harus saya lakukan.

Karena saya harus melakukannya - saya tahu itu. Pesan bahwa Allah mengampuni didahului dengan kondisi : bahwa kita harus mengampuni mereka yang sudah menyakiti kita. "Jika engkau tidak mengampuni kesalahan orang lain", Yesus berkata, "maka Bapamu yang di surga tidak akan mengampuni dosamu juga".

Saya tahu itu bukan hanya perintah Allah, tetapi juga sebagai pengalaman sehari-hari. Sejak akhir perang, saya mempunyai rumah di Belanda bagi korban kekejaman Nazi. Mereka yang sanggup mengampuni mantan musuh mereka juga sanggup kembali ke dunia luar dan membangun kembali hidup mereka, tidak jadi soal apa luka fisik mereka. Mereka yang menyimpan kepahitan tetap lumpuh, Sesederhana dan semengerikan itulah.

Dan saya masih berdiri di sana dengan hati yang membeku. Namun, pengampunan bukanlah emosi - saya juga tahu itu. Pengampunan adalah tindakan dari kehendak, dan kehendak dapat berfungsi lepas dari suhu hati saat itu. "Yesus, tolong saya !" Saya berdoa dalam hati. "Saya dapat mengangkat tangan saya. Saya dapat berbuat sejauh itu. Engkaulah yang memberikan perasaan itu".

Dengan kaku dan seperti mesin, saya pun mengulurkan tangan untuk menyambut tangan yang terulur itu. Ketika saya melakukannya, suatu kejadian luar biasa terjadi. Ada aliran yang timbul dimulai dari bahu saya, merambat turun ke lengan saya, lalu menyebar ke tangan kami yang saling menggenggam. Kemudian, kehangatan yang menyembuhkan ini tampak membanjiri seluruh diri saya sehingga mata saya banjir dengan air mata.

"Saya mengampunimu, Saudara", saya berseru, "Dengan segenap hati saya".

Untuk waktu yang lama kami saling menggenggam tangan satu sama lain, mantan penjaga dan mantan tahanan. Saya tidak pernah mengetahui kasih Allah begitu kuat, seperti yang saya rasakan saat itu. Namun, meskipun begitu, saya sadar itu bukan kasih saya. Saya sudah berusaha, dan tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Itu adalah kuasa Roh Kudus seperti tercatat dalam Roma 5 : 5 , " ... karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita".


Perkataan Corrie sangat relevan bagi kita saat ini. Kepahitan dalam segala bentuk, termasuk yang kelihatannya "dapat dibenarkan", akan menghancurkan seseorang secara rohani dan emosi. Ini adalah penyakit jiwa. Corrie mengampuni seorang penjaga S.S yang ikut bertanggung jawab atas kematian para anggota keluarganya ; tentu saja kita pun dapat mengampuni Raja semesta alam yang sudah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal sebagai penebusan bagi dosa kita semua.

Kita perlu mengerti bahwa Allah memandang kematian secara sangat berbeda dengan kita. Ini bukan bencana bagi Dia. Yesaya 57 : 1 mengatakan, "Orang benar binasa, dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya ; orang-orang saleh tercabut nyawanya, dan tidak ada seorang pun yang mengindahkannya ; sungguh, karena merajalelanya kejahatan, tercabutlah nyawa orang benar dan ia masuk ke tempat damai". Dengan kata lain, orang benar jauh lebih baik di dunia yang akan datang ketimbang di dunia yang sekarang. Mazmur 116 : 15 menyatakannya secara lebih ringkas : "Berharha di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya."

Apa arti ayat-ayat ini bagi orang yang hidup ? Ayat-ayat ini mengisyaratkan sebuah tempat di seberang sungai yang lebih menakjubkan dibandingkan yang dapat kita bayangkan. Sebenarnya, itulah persisnya yang kita baca di dalam 1 Korintus 2 : 9 : "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia : semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia".

Apakah ini kedengaran seperti "candu bagi orang banyak", seperti Karl Marx yang sinis menggambarkannya ? Memang, tetapi Alkitab mengajarkannya dan saya percaya. Dan karena saya percaya, kematian telah mengambil suatu dimensi yang sepenuhnya baru bagi saya.

Jika Anda baru-baru ini kehilangan seorang anak atau orang yang Anda kasihi, atau Anda sendiri sedang menghadapi kematian, saya tidak mau meremehkan penderitaan Anda. Namun, saya berharap Anda akan melihat bahwa ketidaknyamanan ini diperkuat oleh kesalahpahaman akan waktu. Perjalanan kita di sini mempunyai ilusi kepermanenan waktu. Milyaran yang pergi sebelum kita memikirkan hal yang sama. Sekarang setiap hari mereka sudah pergi. Sebenarnya, kita hanyalah menumpang lewat di dunia ini. Jika kita sepenuhnya memahami singkatnya hidup, sehingga perkara-perkara yang membuat kita frustrasi - termasuk sebagian besar dari kejadian ketika Allah tidak dapat dimengerti - tidaklah terlalu berarti.

Ini adalah konsep alkitabiah yang sangat penting. Daud menulis, "Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga ; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi" (Mazmur 103 : 15 - 16). Ia juga berkata, "Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku !" (Mazmur 39 : 5). Musa mengekspresikan ide yang sama dalam Mazmur 90 : 12, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana". "Bijaksana" yang tentangnya Musa bicarakan menempatkan segalanya ke dalam perspektif yang semestinya. Sulit untuk bergairah tentang materialisme semata-mata, misalnya, ketika orang ingat bahwa segalanya di dalam hidup ini hanya bersifat sementara.

Bagi orang yang terluka dan patah semangat saat ini, saya pikir akan terhibur jika menantikan saat ketika pencobaan yang sekarang akan menjadi kenangan yang jauh. Hari perayaan sedang mendatangi berbeda dengan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Tamu kehormatan pada pagi itu adalah Dia yang mengenakan jubah tanpa keliman, dengan mata seperti nyala api, dan kaki seperti tembaga murni. Ketika kita bersujud merendahkan diri di hadapan-Nya, sebuah suara nyaring terdengar dari surga, berkata :

"Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi ; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21 : 3 - 4).

Dan, sekali lagi suara nyaring itu akan bergema melewati lorong waktu.

"Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka" (Wahyu 7 : 16 - 17).

Inilah imbalan bagi mereka yang setia - bagi mereka yang menerobos rintangan pengkhianatan dan bertekun hingga akhir. Inilah mahkota kebenaran yang disiapkan bagi mereka yang sudah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir ; dan telah memelihara iman (2 Timotius 4 : 7 - 8). Oleh karena itu, sepanjang hari-hari kita yang tersisa di dalam hidup ini, izinkan saya mendorong Anda untuk tidak berkecil hati menghadapi kesusahan sementara. Terimalah keadaan sebagaimana adanya. Persiapkan terjadinya masa-masa penuh penderitaan dan jangan cemas ketika saat itu tiba. Jangan takut ketika tiba waktu Anda untuk menderita, dengan mengetahui bahwa Allah akan menggunakan penderitaan itu untuk rencana-Nya, dan sebenarnya demi kebaikan kita sendiri. Tuhan sangat dekat dan Ia sudah berjanji bahwa pencobaan Anda tidak akan lebih berat daripada yang dapat Anda tanggung.

Saya akan meninggalkan Anda dengan kata-kata mengagumkan ini yang saya kutip dari Mazmur 34 : 1 - 19 :

"Apabila orang -orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Tuhan itu sangat dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu".

Sumber : James C. Dobson, Ph.D dalam bukunya "Ketika Tuhan Tidak Dapat Dimengerti"

Comments

No responses to “Melampaui Rintangan Pengkhianatan”

Poskan Komentar