Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sebab Dia adalah Tuhan kekuatanku, bersama-Nya ku takkan goyah

dari Mata, Turun Ke Hati

Ada pepatah tua, “Mata adalah jendela hati”. Yang jadi pertanyaan, apakah mata benar-benar merupakan jendela hati seseorang? Bila ia orang baik-baik, apakah matanya juga mengindikasikan “baik”? Sebaliknya, bila ia seorang penipu, apakah matanya akan memperlihatkan hatinya yang kelam itu?

Ada sebuah kisah menarik mengenai tatapan mata, pada kasus pembunuhan brutal berantai dan penuh teka-teki di daerah San Fransisco di sekitar akhir tahun 1960-an hingga 1970-an. Misteri siapa si pelaku pembunuhan itu belum terungkap, hingga menjadikan kasus ini merupakan kasus pembunuhan tak terungkap yang paling terkenal di SF hingga detik ini. Kisah ini dinovelkan dan sudah difilmkan (2007) dengan judul Zodiac (sesuai dengan nickname ciptaan si pembunuh sendiri).

Detektif yang ditugasi menangani kasus ini (Inspektur Toschi) tidak berhasil juga menemukan si pembunuh yang sebenarnya, ia sampai stres putus asa karena hanya berhasil menemukan bukti-bukti lumayan kuat (tidak ada yang sangat kuat) dan seluruhnya mengarah pada Arthur Leigh Allen, seorang dan satu-satunya tersangka kuat pada kasus ini. Pengadilan tidak pernah memutuskan Arthur bersalah karena bukti-bukti dinilai masih kurang kuat.

Di saat kasus ini sudah ditutup dan Toschi dipindah tugaskan, seorang kartunis koran Robert Graysmith malah terobsesi untuk memecahkan kasus ini dengan menapak tilas ulang seluruh pekerjaan detektif Toschi dan kawan-kawan dari tahun awal pembunuhan pertama terjadi. Perkawinannya sampai hancur, karirnya juga, namun sialnya Robert malah semakin menemukan bukti-bukti yang lebih lumayan kuat lagi mengarah kepada Arthur, si satu-satunya tersangka utama. Dikatakan sial, karena lagi-lagi seperti detektif Toschi, Robert tidak bisa menemukan bukti pamungkas bahwa Arthur adalah sang Zodiac.

Di akhir film, Robert yang sudah bisa menerima ‘kekalahan’-nya, memiliki ambisi lain untuk bertemu dengan Arthur hanya untuk menatap matanya dalam-dalam, karena kebetulan dirinya belum pernah bertemu Arthur secara personal. Arthur digambarkan amat kebingungan mendapati sesosok pria yang mendatangi swalayan tempatnya bekerja dan menatap matanya dalam-dalam tanpa berkata apapun selama beberapa detik. Arthur pun menjadi emosi! Setelah itu Robert pergi meninggalkannya.

Robert menyeberangi ratusan kilometer, dan penerbangan antar negara bagian, hanya untuk melihat mata Arthur dalam-dalam selama beberapa detik saja!

Semakin dewasa seseorang, biasanya insting dalam menilai seseorang semakin jago juga. Selain menilai dari sisi cara bertutur kata, sikap, dan sebagainya, biasanya faktor terbesar dalam menilai adalah dari tatapan matanya.

Saya senang untuk melihat dalam-dalam mata seseorang yang sangat uzur umurnya. Seolah-olah saya bisa melihat seluruh rekaman lembar per lembar,  tahun per tahun dari perjuangan kehidupan dari si kakek/nenek yang seluruh wajahnya sudah keriput itu. Berawal dari ‘hobi’ tersebut, saya pelan-pelan juga secara tidak sadar mulai memperhatikan mata lawan bicara saya dengan serius, karena berhubungan dengan pekerjaan saya yang cukup sering bertemu orang-tak-dikenal, saya merasa harus menguasai ilmu jendela hati ini. Apakah calon klien ini serius? Apakah dia cuman ingin mempermainkan saya? Apakah dia tipikal rewel dan cerewet? Hal ini saya yakin amat penting juga bagi banyak orang, memilih calon klien yang tepat agar kelancaran proyek bisa terjamin.

Sering saya salah menilai seseorang dan terlalu cepat memilah-milah, tapi saya juga bersyukur banyak terhindar dari relasi yang buruk dengan calon klien yang ‘tidak baik’. Hanya saja, bisa jadi klien baik-baik malah tidak segera ditanggapi.

Tidak ada salahnya kita mengikuti kata hati kita (atau kata hati orang terdekat kita) dalam menilai seseorang, karena berhati-hati itu jauh lebih baik daripada sikap yang menganggap seluruh penghuni bumi ini adalah teman baik kita. Resiko kehilangan beberapa relasi baik karena terlalu berhati-hati, masih lebih baik dibandingkan banyak memiliki relasi namun sebenarnya dipenuhi oleh orang-orang yang tidak baik.

Sumber : twentea.com

Comments

No responses to “dari Mata, Turun Ke Hati”

Poskan Komentar